AL HADIS


AL-HADIST
A.    PENGERTIAN
Menurut etimologis pengertian hadist  yaitu:
·         Khabar, yaitu warta atau berita. Dalam istilah ini diartikan dengan segala sesuatu yang diperbincangkan atau ucapan yang dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.
·         Jadid, yaitu baru. Ini adalah lawan kata dari qadim yang berarti yang sudah lama. Jadi, hadist bisa juga diartikan dengan suatu yang baru jika disandarkan dalam katanya saja, kecuali jika disandarkan pada nabi maka maknanya lain lagi.
·         Qarib, yaitu bermakna dekat, atau yang belum lama ini berlangsung atau terjadi.
Menurut ahli hadist pengertian hadist yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan taqrir, maupun sifatnya.
Menurut ushul hadist pengertian hadist yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan taqrir yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya.
B.     FUNGSI HADIST
·         Bayan Taqriri, berfungsi untuk menetapkan dan memperkuat apa yang ditetapka Al-Qur’an
·         Bayan Tafsiri, berfungsi untuk memberi tafsiran dan rincian tentang hal yang dibicarakan Al-Qur’an
·         Taqyidul Muthlaq, berfungsi untuk membatasi ayat-ayat yang bersifat masih mutlak
·         Takhshishul ‘Am, berfungsi untuk mengecualikan ayat-ayat yang masih umum
·         Taudhihul Musykil, berfungsi untuk menjelaskan hal rumit dalam Al-Qur’an
·         Bayan Tasyri’I, berfungsi untuk membentuk hukum pokok yang tidak ada dalam Al-Qur’an
·         Bayanut Taghyir, berfungsi untuk melakukan perubahan terhadap yang telah ditetapkan Al-Qur’an
C.    KEDUDUKAN HADIST
1.      Hadis Sebagai Sumber Hukum Islam
Kedudukan hadist dalam Islam sebagai sumber hukum.  Dari segi urutan tingkatan dasar Islam, hadist menjadi dasar hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Hal ini dapat dimaklumi karena beberapa alas an sebagai berikut:
a.       Fungsi hadis sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an.
b.      Mayoritas hadis relatif kebenarannya.
2.      Dalil-dalil Kehujahan Hadis
Ada beberapa dalil yang menunjukan atas kehujahan hadis yang dijadikan sebagai sumber hukum Islam, sebagai berikut:
a.       Dalil Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat yang menegaskan tentang kewajiban mengikuti Allah yang digandengkan dengan ketaatan mengikuti Rasul-Nya, seperti firman Allah dalam QS.An-Nisa : 59.
b.      Dalil Hadis
Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW berkenaan dengan keharusan menjadikan hadis sebagai pedoman hidup.
c.       Dalil Ijma Ulama
Setelah Rasulullah wafat, para sahabat sepakat bahwa apa-apa yang berasal dari Rasulullah, baik perbuatan, perkataan dan takrirnya dijadikan sebagai landasan untuk menjalankan agama.
d.      Dalil Akal (Rasio)
Argument yang disusun berdasarkan pendekatan akal untuk menjelaskan kedudukan hadis. Kerasulan Nabi Muhammad SAW telah diakui dan dibenarkan oleh umat Islam. Di dalam mengemban misinya itu, kadang-kadang beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang diterima dari Allah SWT. namun tidak jarang beliau membawakan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu masalah yang tidak ditunjuk oleh wahyu dan tidak dibimbing oleh ilham. Hasil ijtihad beliau tetap berlaku sampai ada nas yang menasakhkannya.


D.    Objek Kajian Hadis
Objek kajian hadis dalam Islam yaitu membicarakan bagaimana cara menerima hadis, menyampaikan kepada orang lain, memindahkan atau mentadwinkan (yang berkaitan dengan sanad maupun matannya).



Komentar

Postingan Populer