DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA




DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA
A.    DAULAH MUSLIM DI DUNIA BARAT
Pada tahun 132 H/750 M, revolusi Abbasiyah berhasil menumbangkan Daulah Umayyah di Damaskus. Pasukan Abbasiyah melakukan pembantaian massal terhadap seluruh keluarga Umayyah, namun ada seorang pangeran yang berhasil melarikan diri dari pembantaian tersebut. Ia adalah Abdurrahman bin Muawiyyah bin Hisyam bin Abdil Malik. Setelah berjuang selama kurang lebih enam tahun, Ia berhasil merebut kekuasaan di Andalusia (Spanyol). Sebelum Abdurrahman berhasil merebut kekuasaan di Andalusia, diwilayah itu sering terjadi rivalitas politik dan perebutan kekuasaan antara dua suku besar Arab, yaitu antara suku Yamani dan Mudhari. Berkat dukungan dan bantuan dari suku Yamani, Abdurrahman berhasil merebut kekuasaan dari suku Mudhari dan ia pun mendurikan Daulah Umayyah di Andalusia.
Abdurrhman ad-Dakhil : Arsitek Pembangunan Daulah
Abdurrahman dijuluki ad-Dakhil karena Ia sukses memasuki Andalusia, berhasil mendirikan Daulah Umayyah dan sekaligus dinobatkan sebagai amir pertama yang bergelar Abdurrhman I. Abdurrahman memindahkan ibukota Andalusia yang semula berkedudukan di Toledo ke kota Cordova, dengan pertimbangan politis-taktis-strategis agar keamanan lebih terjamin dan kemajuan sosial ekonomi lebih dapat digalakan. Masa pemerintahan Abdurrahman I dipandang oleh para sejarawan sebagai masa yang fenomenal yang ditandai dengan pembangunan disegala bidang, seperti membangun istana dengan gaya arsitektur yang megah dan indah, membangun masjid Agung Al Hamra yang menjadi simbol keagungan dan kebesaran Islam. Selain itu Ia juga mendirikan gedung perguruan tinggi, membangun institusi pendidikan, serta membentuk lembaga kajian ilmiah. Ia juga membangun banyak saluran irigasi untuk mengairi tanah-tanah pertanian rakyat, sehingga hasil pertanian rakyat meningkat.
Abdurrahman I juga sangat menaruh perhatian terhadap seni arsitektur bangunan dan tata kelola lingkungan hidup yang berwawasan estetika demi melestarikan keindahan wajah kota. Ia membangun taman luas yang indah, al Risafat, di Cordova.
B.     MASA KEBESARAN DAULAH
Pada periode pemerintahan Abdurrahman III, segala bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban islam mengalami denyut perkembangan yang sangat mengesankan dan mengagumkan. Ia berhasil mengantarkan Daulah Umayyah di Andalusia ke gerbang puncak kebesaran dan kemegahan yang tiada tara.
Abdurrahman III : Khalifah dan Negarawan
Pada tahun 316 H/ 929 M, terobsesi oleh visi politiknya yang brilian, Ia mentransfrormasi sistem pemerintahannya dari emirat menjadi khilafat, mendeklarasikan dirinya sebagai khilafah dan menyebut dirinya sebagai kholifah al- Nashir li dinillah (kholifah pembela agama Allah). Ada tiga faktor politis-strategis yang mendorong dan melatar belakangi tindakan dan kebijakan politiknya itu. Pertama, kedudukan para khalifah Abbasiyyah di Baghdad sejak kholifah al Mutawakil meninggal dunia sudah tidak mempunyai pengaruh apa-apa lagi terhadap Daulah Umayyah di Cordova. Kedua, Daulah Fatimiyah di Mesir berhasil menumbangkan kekuasaan Daulah Aghlabiyyah di Afrika Utara dan telah membebaskan diri sepenuhnya dari kekuasaan Daulah Abbasiyah di Baghdad dan meproklamasikan pemerintahan khilafat serta menyebut para kepala negaranya sebagai khalifah.  Ketiga, Daulah Fatimiyyah sudah dapat dihalau dan dienyahkan oleh Abdurrahman III pada tahun 316 H/929 M dari seluruh Afrika Barat dan Sudan Sahara.
Khalifah Abdurrahman III adalah seorang administrator pemerintahan dan negarawan yang visioner, cakap dan cerdas. Ia berhasil melalukan sinergisitas tata kelola pemerintahan sehingga kinerja pemerintahannya berjalan rapi, fungsional dan efektif. Pada masa pemerintahannya ia selalu membuat kiat-kiat terobosan baru demi memajukan sains, meningkatkan intelektualitas, menggalakan gerakan penerjemahan naskah-naskah kedalam bahasa Arab dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban. Bidang pertanian, perdagangan dan industri juga mengalami kemajuan yang sangat signifikan, sehingga pendapatan negara berada dalam neraca surplus.
Al-Hakam II : Negarawan dan Cendekiawan                 
Al Hakam merupakan tokoh berjasa yang dikenal sebagai tokoh yang memperbesar Masjid Agung Cordova (dengan menambah coloades, mimbar dan maqsurah serta menghiasi masjid tersebut dengan pernak-pernik gading). Sebagai kholifah yang cendekiawan dan mencintai ilmu pengetahuan, Ia memperluas dan memperbesar perpustakaan yang ada di ibukota Cordova sehingga menjadi perpustakaan terbesar diseluruh kawasan Eropa pada masanya. Selain itu, Ia juga mempunyai minat yang besar terhadap kesusastraan. Al Hakam dapat mengumpulkan buku tidak kurang dari 400.000 kopi, ini merupakan prestasi besar yang sangat mengagumkan. Terobosan lain yang dilakukan oleh Khalifah al Hakam II untuk memajukan kehidupan intelektual dan kebangunan kultural adalah dengan mengundang para sarjana, cendekiawan dan para penulis profesional untuk datang ke istana kholifah, mereka mendapatkan hadiah, insentif atau imbalan dari kholifah. Al Hakam juga mendirikan 27 sekolah baru di Cordova. Andalusia benar-benar telah menjadi jembatan emas yang menyebrangkan banyak sekali ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban ke Eropa. Kebudayaan Islam inilah yang secara signifikan dan dominan telah memberikan pengaruh secara luas terhadap Eropa pada Abad Pertengahan.
C.    MASA KEEMASAN PERADABAN MUSLIM
Keunggulan kebudayaan dan kepeloporan peradaban Muslim semakin jelas kebesarannya pada masa Daulah Umayyah di Cordova dan pada masa Daulah Abbasiyah di Baghdad (Irak). Ada banyak sekali ilmuan yang lahir pada masa itu, dibidang matematika dan astronomi ada Abu Qosim Maslamah al Majriti dan Jabir ibn Aflah. Dibidang ilmu kedokteran ada Abu al Qasim Khalaf ibn Abbas az Zahrawi, Abu Marwan Abdul Malik ibn Abi A’la, Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn Bajjah (yang sekaligus sebagai saintis, musikus dan filosof), Abu Bakar Muhammad ibn Abdil Malik ibn Thufail (sekaligus ahli filsafat) dan Abu al Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd (sekaligus ahli filsafat). Dibidang sosiologi dan historiografi ada Ibn Khaldun (733-809 H/1332 M-1406) yang menghiasi lembaran sejarah kebudayaan muslim di Andalusia.
Transfer Kebudayaan Muslim ke Eropa
Banyak mahasiswa Kristen dari negara-negara Eropa yang belajar di Universitas Cordova dan universitas lain di Andalusia. Pemerintah Eropa menerjemahkan karya karya sarjana muslim kedalam bahasa Latin, kegiatan penerjemahan ini banyak terpusat di Toledo. Tokoh tokoh Eropa yang menerjemahkan karya karya pakar muslim diantaranya adalah Gerbert dari Aurillac, Gerard dari Cremona, Michael Scot (Inggris), Robert dari Chester, Adelard dari Bath dan Daniel Morly.
Era Renaissance di Eropa
Renaissance dimaknai sebagai masa transisi dari Abad Pertengahan ke Abad Modern yang terjadi Eropa yang ditandai dengan tingginya apresiasi dan besarnya perhatian orang-orang Eropa terhadap kesusasteraan, ilmu pengetahuan dan filsafat klasik, berkembangnya kesenian dan kesusasteraan baru, tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Setelah mengalami Era Renaissance, orang-orang Eropa memasuki masa baru yang disebut Era Reformasi yang kemudian melahirkan Era Aufklarung (Enlightenment).
D.    AKHIR KEKUASAAN MUSLIM DI ANDALUSIA
Khalifah terakhir Daulah Umayyah di Andalusia adalah Hisyam III al-Mu’tadd. Setelah bertahan selama 275 tahun, Daulah Umayyah di Andalusia akhirnya runtuh. Keruntuhan dinasti ini disebabkan oleh sering terjadinya perseturuan, rivalitas politik dan koflik internal dalam tubuh pemerintahan yang saling memperebutkan kekuasaan. Tragedi keruntuhan kekuasaan Muslim semakin dekat karena terjadi saling serang antardinasti demi mencapai ambisi politik dan kekuasaan dinastinya sendiri. Perang antardinasti dan antarraja golongan ini menyebabkan semakin lemahnya kekuasaan Muslim di Andalusia. Ketika terjadi kemelut politik seperti ini raja-raja kristen terus menyusun taktik strategi memperkuat diri. Kerajaan Leon dan Castilia bergabung menjadi satu kekuatan dibawah komando Alfonso dan berhasil mengambil alih wilayah-wilayah dibawah kekuasaan Muluk ath Thawaif. Galicia dan Navarre dianekasi kedalam kekuasaan Kristen. Badajoz, Saragosa dan Toledo direbut kembali.
Dalam situasi terjepit ini, para ulama memohon kepada Muhammad II al Mutamid dari dinasti Abbasiyah untuk mendatangkan pasukan Murabitun dari Afrika utara ke Andalusia untuk menhentikan gerakan reconquista yang tersu dilancarkan oleh penguasa kristen. Pasukan Murabithun dibawah komando Yusuf bin Tasyfin berhasil melumpukan pasukan Alfonso VI dalam pertempuran di Zallaqa pad tahun 479 H/1086 M. Akan tetapi dalam pergolakan politik selanjutnya, dinasti Murabithun ditaklukan oleh dinasti Muwahiddun. Pasukan Muwahiddun dibawah komando  Abu Yusuf Yaqub al Mansyur dapat mengalahkan pasukan Kristen pimpinan Alfonso VIII di Alarcos pada tahun 592 H/ 1195 M. Para penguasa kristen tidak tinggal diam, mereka bersekutu dan bangkit untuk memukul Muwahiddun. Pada tahun 609 H terjadi pertempuran di Las Navas de Tolosa dan dimenangkan oleh pasukan Kristen. Pasukan Kristen merebut Cordova pada tahun 634 H/ 1236 M dan Sevilla pada tahun 646 H/ 1248 M. Tentara Kristen menjadi sangat kuat ketika Raja Ferdinand V dari Kerajaan Aragon menikah dengan Ratu Isabela I dari kerajaan Castile pada tahun 1469. Ferdinand V dan Isabela I menuntaskan Reconquista dengan menyerbu emirat Granada dan berakhir dengan takluk dan tumbangn ya Granada pada tanggal 2 Januari 1492.

SUMBER :

Buku Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik (Abad VII-XIII), oleh Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A.



Komentar

Postingan Populer