CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KOMUNIKASI



 ANALISIS KULTIVASI GEORGE GARBNER
(Studi Kasus Pada Pemberitaan Teror Bom Kampung Melayu)


A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Kehadiran teknologi informasi terutama televisi dizaman modern ini telah membawa banyak sekali perubahan- perubahan dalam masyarakat. Kehadiran televisi memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan peradaban manusia. Ketika zaman orde baru, media massa dibatasi dan dikendalikan oleh pemerintah, namun tidak dengan sekarang ini di era reformasi media massa bebas dan sudah tidak dikendalikan oleh pemerintah.
Televisi adalah sumber daya yang terbuka bagi semua orang dalam masyarakat industri dan semakin mengalami pertumbuhan di negara berkembang. Ia juga sumber bagi pengetahuan popular tentang dunia dan semakin membuat kita menjalin kontak, meskipun melalui perantara, dengan cara hidup orang selain tinggal ditempat kita dilahirkan. [1] Televisi sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan televisi sudah menjadi bagian dari keluarga yang tidak tercatat dalam kartu keluarga. Kehadiran televisi dalam rumah memang memiliki da1ya tarik yang kuat bagi pemirsanya. Perpaduan audio dan visual menambah kekuatan untuk lebih mempercayakan televisi dinikmati dibandingkan media lainnya. Audio dengan unsur katakata, musik, dan sound efek, sedangkan visual gambar hidup yang menimbulkan kesan yang mendalam bagi penontonnya.[2]
Perkembangan peran televisi dirasa memang sangat fantastik. Televisi yang awal kehadirannya hanya mampu menampilkan gambar hitam-putih, dalam waktu yang relatif singkat mampu tampil berwarna, baik sesuai dengan realitas maupun manipulatif. Televisi adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, pembayangan sosial, yang kita gunakan untuk mempersepsi ‘dunia-dunia’, ‘realitas’, kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita dan mereka menjadi ‘keseluruhan dunia’ yang masuk akal bagi kita. Saat ini, televisi telah menjadi “agama” bagi masyarakat industri. Sebagai agama, televisi telah mengajarkan dan menuntun ideologi dan budaya dalam kehidupan masyarakat.[3]
Ketergantungan masyarakat terhadap televisi menimbulkan berbagai macam efek. Salah satunya adalah hasil dari penelitian George Garbner tentang Analisis Kultivasi yang menyebutkan bahwa efek dari televisi yang kumulatif akhirnya membentuk sebuah realita baru sesuai citra realitas yang ditampilkan di televisi. Artinya, konsumen televisi tersebut akan memandang dunia di mana ia tinggal sesuai dengan citra yang ditampilkan di televisi.
Pada pemberitaan suatu pengeboman di kampung Melayu di televisi yang dikaitkan dengan teroris yang beragama Islam. Seseorang dengan intensitas menonton yang tinggi akan merasa resah dan tidak nyaman berhubungan dengan orang Islam. Bagi seseorang yang intensitas menontonnya rendah, mereka cenderung merasa acuh dan tidak mudah terpengaruh dengan pemberitaan kasus tersebut.
                                                                                                                   
B.     RUMUSAN MASALAH:
1.      Bagaimana pengaruh tayangan berita “Bom Kampung Melayu” terhadap khalayak?
2.      Mengapa penonton mengalami ketegangan dalam berhubungan sosial khususnya karena perbedaan agama ?

C.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk mengetahui pengaruh tayangan televisi terhadap tayangan berita “Bom Kampung Melayu” terhadap khalayak
2.      Ingin mengetahui mengapa penonton mengalami ketegangan dalam berhubungan sosial

D.    KERANGKA PENDEKATAN  TEORI  = KERANGKA BAGAIMANA KITA AKAN MENGADAKAN PELEITIAN
Analisis Kultivasi adalah sebuah teori yang memprediksikan dan menjelaskan formasi dan pembentukan jangka panjang dari presepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia akibat dari konsumsi akan pesan-pesan media. Garis pemikiran Gerbner dalam analisis kultivasi menunjukan bahwa komunikasi massa, terutama televisi, mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sebagai sesuatu yang umum oleh konsumen komunikasi massa.
Kebayakan dari apa yang kita ketahui, atau kita piker kita ketahui, sebenarnya tidak pernah kita alami sendiri secara pribadi. (Gerbner, 2008).
Berdasarkan teori ini, media membentuk sebuah presepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia akibat dari konsumsi pesan-pesan media. Sehingga konsumen komunikasi masa akan menganggap apa yang di paparkan oleh media merupakan sesuatu yang umum. Hal ini akan berakibat terbangunnya suatu gagasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Missal dengan adanya pemberitaan pengeboman di kampung Melayu yang dikaitkan dengan teroris yang beragama Islam. Pemberitaan ini menimbulkan terjadinya ketakutan berhubungan sosial dengan orang Islam.
1.      Memahami pengaruh televise melalui Teori Kultivas.
Menurut teori ini, televise dapat membentuk kerangka berpikir individu yang mengkonsumsinya. Teori Kultivasi George Gerbner menyoroti efek televise yang kumulatif dan akhirnya membentuk sebuah realita baru sesuai citra relitas yang ditampilkan di televise. Artinya, konsumen televise tersebut akan memandang dunia di mana ia tinggal sesuai dengan citra yang ditampilkan di televise. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa Teori Kultivasi menekankan pengaruh televise yang sangat kuat terhadap pembentukan persepsi public yang pada akhirnya melahirkan kostruksi sosial.
2.      Pengaruh televise dilihat dari kategori penonton.
Dalam Teori Kultivasi, konsumen televise dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
a.       Penonton Berat (heavy viewer), yakni kosumen televise yang menonton televise lebih dari empat jam setiap harinya,
b.      Penonton Ringan (light viewer), yakni yang menonton televise sekitar dua jam setiap harinya.
Perbedaan inilah yang nantinya akan mempengaruhi viewer behavior sendiri. Bagi penonton ringan, kecenderungannya adalah hanya menonton tayangan televisi sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya, mereka menonton apa yang ingin ditonton saja, dan kalau merasa tidak suka atau tidak perlu dengan suatu acar televisi, maka televisi akan dimatikan. Penonton dalam kategori ini biasanya tidak mudah terpengaruh oleh isi tayangan televisi itu sendiri.
Lain lagi dengan penonton dalam kategori penonton berat. Mereka biasanya duduk di depan televisi dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan bisa berjam-jam tanpa peduli apakah tayangan televisi yang mereka saksikan tersebut apakah mereka suka atau mereka perlukan ataukah tidak. Mereka inilah yang biasanya paling mudah terpengaruh oleh isi tayangan televisi.
Dalam study kasus Bom Kampung Melayu yang terus menerus ditayangkan di televise, penonton kelas berat ini akan mudah terpengaruh, artinya mereka bisa saja menjadi sangat paranoid, misalnya mereka akan takut mengunjungi terminal, karena dalam tayangan berita tersebut disebutkan bahwa tempat kejadian bom tersebut adalah di Terminal Kampung Melayu. Para penonton kelas berat ini akan cenderung was-was dan takut apabila kejadian tersebut menimpa dirinya. Hal ini dikarenakan realitas yang dibangun oleh televise menurut para penonton kelas berat adalah realitas yang bedasarkan kenyataan.
3.      Perilaku Penonton Berat sebagai Bentuk dari Pengaruh Televisi.
Bagi penonton berat kemungkinan untuk dapat terlibat dalam berperilaku kekerasan adalah 1: 10. padahal angka yang realistis berdasarkan indeks kekerasan atau indeks kriminalitas adalah hanya pada angka 1: 10.000. Jadi, bagi pentonton berat, mereka merasa lebih mungkin untuk menjadi korban tindak kekerasan atau kriminalitas daripada kemungkinan yang sebenarnya.
Dalam studi kasus Bom Kampung Melayu, seorang heavy viewer akan berasumsi bahwa seperti yang merekat liha dalam tayanga berita bahwa dunia banyak dipenuhi oleh kriminalitas dan kekerasan. Mereka akan mengalami ketakutan karena tayangan berita kekerasan seperti it uterus menerus diulang-ulang dalam waktu yang panjang, walaupun dengan kasus yang berbeda.
Dalam kasus Bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga orang polisi, heavy viewer akan beranggapan (persepsi) bahwa “Seorang polisi saja bisa menjadi korban, apalagi saya.” Hal tersebut akan semakin membuatnya gelisah dan takut (perilaku).
Seiring berjalannya waktu, persepsi-persepsi yang ditimbulkan dari pemikiran seorang penonton kelas berat akan memunculkan beberapa perilaku yang merepresentasikan persepsi tersebut, sehingga pada akhirnya akan melahirkan sebuah konstruksi sosial.

E.     KERANGKA BERPIKIR









F.     METODE PENELITIAN 

1.      Pendekatan penelitian bisa mengguakan salah satu metode / pendekatan berikut:
Ø  Survy (regresi – analisis jalur – SEM).
Ø  Studi Kasus

2.      Subyek penelitian
Ø  Penonton media massa televisi muslim/non muslim

3.      Obyek penelitian
Ø  Isi pemberitaan media massa
è Kata-kata yang di gunakan
è Penggambaran kejadian dari sudut pandang
v  Media massa
v  Pekerja media massa
v  Khalayak/penonton
Ø  Informasi tentang penonton media massa
è Info tentang ketergantungan terhadap media masa
è Info tentang pekerjaannya
è Info tentang pengetahuan dan pengalaman agama audiens yg meliputi:
v  Keimanan
v  Keislaman
v  Info khusus terkait dengan tema pemberitaan yang akan dikonsumsi

G.    LAPORAN PENELITIAN
1.      BAB I Pendahuluan (berisi proposal).......................................................................

2.      BAB II Gambaran Umum (berisi tentang lokasi dan subyek lokasi penelitian)
Nologatan merupakan sebuah desa yang berada di kabupaten sleman. Letaknya yang strategis sebagai titik pertemuan berbagai kampus di Daerah Istimew Yogyakarta menjadikan desa ini di penuhi dengan berbagai macam penduduk dari berbagai macam wilayah di Indonesia yang notabenya adalah seorang pelajar. Keanekaragam kepecayaan agama, terkadang memberikan dampak terhadap pemberitaan sebuah media. Alhasil, dengan adanya konflik agama yang ditayangkan dalam media masa menjadikan masalah tersendiri bagi masyarakatnya untuk berhubungan sosial antara umat yang satu dengan umat yang lainnya.
3.      BAB III
A.    Isi pemberitaan media massa
1.      Kata-kata yang digunakan
Media cenderung menggunakan kata-kata yang menghendaki sebuah masalah yang sangat berbahaya. Keadaan dimana Negara sudah tidak aman dengan kehadiaran seorang teroris. Dengan adanya pemaparan ini antara umat yang disinggung agamanya di dalam pemberitaan dan yang lain menadi renggang. Menjadikan mereka enggan bersosialisasi, tegur sapa dan saling tolong menolong.
2.      Penggambaran kejadian dari sudut pandang
a.       Ideologi Media massa
Media massa cenderung mengambil sudut pandang yang mengucilkankan suatu kaum. Mereka selalu beranggapan bahwa muslim adalah orang keras dan tidak ramah. Sehingga mereka mempengaruhi khalayak untuk berfikir sama dengan apa yang menjadi ideologinya. Karena dampak dari media dalam teori ini menghasilkan suatu pemahaman menjadi umum meskipun kejadian tersebut belum pernah dialami oleh orang yang menerima pemberitaan tersebut.
b.      Ideologi Pekerja media massa
Pekerja media massa terkadang mengikuti apa yang diperintahkan oleh pemilik media agar ia bia bertahan di dalam media tersebut. Kekuatan ideologinya terkekang oleh lingkungan, sehingga mereka sering tidak mempergunakannya secara maksimal.
c.       Ideologi Khalayak/penonton
Khalayak atau pemonton bermacam-macam dari berbagai macam golongan. Dari kaum muslim dan non muslim. Mereka yang muslim terjadi bergagai macam pemaknaan terhadap berita yag digambarkan di dalam pemberitaan media massa. Keanekaragaman pemaknaan ini diindikasikan dengan pengetahuan yang mereka miliki sehingga akan menyikapinya dengan berbeda-beda pula. Juga dipengaruhi dari konsumsi media yang terus-menerus tentang pemberitaan tersebut. Sedangkan non muslim biasanya langsung menyikapi dengan negative pemberitaan yang tidak baik terhadap muslim.
B.     Informasi tentang penonton media massa
1.      Info tentang ketergantungan terhadap media masa
Ketergantungan akan media massa masyarakat gaten berfariasi antara lebih dari empat jam dan kurang dari empat jam tergantung dari keleluasaan waktu mereka untuk menonton media massa.
2.      Info tentang pekerjaannya
Masyarakat gaten khususnya kaum wanita melakukan pekerjaan rumah dengan berbagai kegiatan, diantaranya berdagang, membuka jasa cuci baju, menjahit dll. Kegiatan mereka dilakukan dengan diiringi konsumsi televisi untuk mengurangi kejenuhan sembari beristirahat. Bisa dibilang konsumsi akan media mereka diatas empat jam. Sedangkan para pekerja kantoran baik laki-laki atau wanita lebih cenderung sedikit mengkonsumsi media massa. Kalangan mahasiswa pun jarang menonton media massa kususnya televisi. Kalangan santri pun juga jarang menonton teleisi dikarekan rutinitasnya yang sudah padat dan tidak ada fasilitas teleisi
3.      Info tentang pengetahuan dan pengalaman agama audiens yg meliputi:
a.       Keimanan
Keimanan masyarakat bermacam-macam dan dalam suatu wilayah gaten masyarakatnya memiliki perbedaan keyakinan
b.      Keislaman
Keislamannya pun terbagi atas berbagai lapisan. Baik kalangan santri, takmir masjid, remaja masjid, dan kalangan pekerja. Di dukung dengan letaknya dekat dengan kampus UIN Sunan Kalijaga menjadikan daerah ini mayoritas Islam. Dan tidak dapat dipungkiri banyak pula penduduk non Islam karena letaknya yang juga berdekatan dengan kampus umum dan kampus non Islam.
c.       Info khusus terkait dengan tema pemberitaan yang akan dikonsumsi
Pemberitaan media terhadap kejadian terror bom yang terjadi di kampung melayu dan media mengindikasikan bahwa pelakunya adalah orang muslim. Hali ini menjadikan kerenggangan akan hubungan sosial antara umat muslim dan non muslim.
C.  Hasil Analisi Statistik (jika Survey)



[1] Chris Barker, Cultural Studies Teori dan Praktik, Terj. Nurhadi (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006), hal. 275.
[2] Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, hal. 177.
[3] Aris Saefulloh, Dakwatainment : Komodifikasi Industri Media dibalik Ayat Tuhan, (Komunika : Vol.3 No.2 Juli-desember 2009 pp 255-269), ISSN : 1978-1261

Komentar

Postingan Populer