ANALISIS KULTIVASI
Proses dan Produk Teori Analisis Kultivasi
Analisis kultivasi
telah diterapkan pada berbagai macam isu dampak, juga pada situasi-situasi
berbeda, dimana para penonton televisi menemukan diri mereka. Dalam
melaksanakan hal tersebut, para peneliti telah mengembangkan proses dan produk
tertentu yang berhubungan dengan teori ini.
Bagaimana TV mampu
mempengaruhi penonton dalam memandang dunia, atau bagaimana kultivasi dapat
terjadi ? Dalam hal ini, Gerbner
mengemukakan alasan yang menjelaskan bagaimana kultivasi dapat terjadi.
1.
Proses
Empat Tahap
Untuk menunjukan secara empiris keyakinan mereka bahwa televisi
memiliki dampak kausal terhadap budaya, para peneliti kultivasi mengembangkan
prose empat tahap.
Tahap yang pertama, analisis sistem pesan, terdiri
atas analisis isi mendetail dari pemrograman televisi untuk menunjukan
presentasi gambar, tema, nilai dan penggambaran yang paling sering berulang dan
konsisten.
Tahap yang kedua, formulasi pertanyaan mengenai realitas
sosial penonton, melibatkan penyusunan pertanyaan mengenai pemahaman orang
akan kehidupan sehari-hari mereka.
Tahap yang ketiga, menyurvei khalayak, mensyaratkan
bahwa pertanyaan-pertanyaan dari tahap kedua diberikan kepada anggota khalayak
dan bahwa para peneliti menanyakan para penonton ini mengenai level konsumsi
televisi mereka.
Tahap keempat, membandingkan realitas sosial dari
penonton kelas berat dan kelas ringan. Bagi garbner terdapat sebuah
“diferensiasi kultivasi” diantara penonton kelas berat dan ringan dan persepsi
mereka mengenai kekerasan. Diferesiasi
kultivasi dapat diartikan sebagai persentase perbedaan dalam respons antara
penonton kelas berat dan penonton kelas ringan.
2.
Pengarusutamaan
dan Resonansi
Prose kultivasi terjadi terjadi dalam dua cara. Pertama adalah
pengarusutamaan (mainstreaming). Mainstreaming terjadi apabila terutama,
penonton kelas berat, simbol-simbol televisi mendominasi sumber informasi
lainnya dan ide mengenai dunia. Karena menonton televisi terlalu banyak,
konstruksi realitas sosial seseorang bergerak kearah mainstream-bukan
mainstream dalam artian politik, tetapi realitas budaya dominan yang lebih
mirip dengan realitas dalam televisi daripada realitas eksternal manapun yang
dapat diukur dan obejktif. Para penonton kelas berat cenderung akan percaya
akan realitas mainstream bahwa dunia lebih berbahaya dari sebenarnya dan bahwa
semua politikus korup dan bahwa
kejahatan remaja sedang dalam tingkat yang tinggi dan seterusnya.
Pengarusutamaan berarti bahwa para penonton televisi kelas berat
dari kobudaya (budaya pendamping) yang berbeda cenderung untuk memiliki
keyakinan mengenai dunia yang sama dengan anggota dari kelompok kobudaya yang
berbeda. Sebagaimana dikemukakan oleh Gerbner (1998), “perbedaan yang biasanya
dihubungkan dengam berbagai karakteristik budaya, sosial dan politik dari
kelompok-kelompok ini dikurangi didalam respons para penonton kelas berat
didalam kelompok-kelompok ini” (hal 183)
Cara kedua kultivasi bekerja adalah melalui resonansi. Resonansi
terjadi ketika hal-hal didalam televisi, dalam kenyataannya kongruen dengan
realitas keseharian dengan penonton. Dengan kata lain, realitas eksternal
objektif dari penonton beresonansi dengan realitas televisi. Beberapa orang
yang tinggal di daerah perkotaan, misalnya mungkin akan melihat dunia yang
penuh dengan kekerasan ditelevisi beresonansi dilingkungan perumahan mereka
yang mulai kacau. Sebagaimana yang dikatakan oleh Garbner, hal ini
mengakibatkan “dosis ganda dari pesan-pesan yang “beresonansi” dan memperbesar
terjadinya kultivasi”. Realitas sosial yang dikultivasi bagi para penonton ini
mungkin saja sesuai dengan ealotas objektif mereka, tetapi dampaknya yang
mungkin adalah untuk mencegah pembentukan realitas sosial yang lebih
optimistik, hal ini menghilangkan harapan mereka bahwa mereka dapat membangun
kehidupan yang lebih baik.
Kultivasi menghasilkan dampak pada dua level. Dampak tingkat
pertama, merujuk pada pembelajaran mengenai fakta-fakta, misalnya seperti
berapa banyak pria yang bekerja yang terlibat didalam proses penegakan hukum
atau bagaimana proporsi pernikahan yang berakhir perceraian. Dampak tingkat
kedua, melibatkan “hipotesis mengenai isu dan asumsi yang lebih umum” yang
dibuat oleh orang mengenai lingkungan mereka.
3.
Indeks
Dunia yang Kejam
Hasil analilis kultivasi adalah indeks dunia yang kejam, yang
terdiri dari tiga pernyataan :
·
Kebanyakan
orang berhati-hati untuk diri mereka sendiri
·
Anda
tidak dapat terlalu berhati-hati dalam berurusan dengan orang
·
Kebanyakan
orang akan mengambil keuntungan dari anda jika mereka memiliki kesempatan
Analisis kultivasi memprediksikan bahwa persetujuan dengan
pernyataan-pernyataan ini dari penonton kelas ringan dan berat akan berbeda,
dengan penonton kelas berat memandang dunia sebagai dunia yang lebih kejam
dibandingan dengan penonton kelas ringan. Teori ini juga memprediksi bahwa
jumlah penonton televisi adalah penduga jawaban orang yang terbaik, mengalahkan
jenis pembedaan diantara orang yang lain-misalnya pendapatan dan pendidikan.
Gerbner dan koleganya menunjukan efektifitas Indeks Dunia yang
kejam mereka dalam sebuah kajian yang menunjukan bahwa penonton kelas berat
cenderung untuk melihat dunia sebagai tempat yang kejam dibandingkan dengan
penonton kelas ringan. Para penonton yang memiliki tingkat ilmu pengetahuan
yang lebih tinggi, baik secara finansial maupun secara umum memandang dunia
lebih tidak kejam dibandingkan dengan orang yang tingkat pendidikannya rendah. Tetapi
dalam menguji kekuatan televisi, para peneliti menunjukan bahwa penonton kelas
berat dari kelompok dengan pendidikan lebih tinggi dan keadaan finansial yang
lebih baik melihat dunia sebagai tempat yang yang berbahaya sebagaimana halnya
dengan orang-orang berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Dengan kata lain,
para penonton kelas berat memegang persepsi mainstream mengenai dunia sebagai
tempat yang kejam, tanpa mempedulikan faktor-faktor seperti pendidikan dan
pendapatan. Para peneliti kultivasi melihat hal ini sebagai bukti bahwa isi
televisi merupakan faktor penyusun realitas sosial bagi para penonton kelas
berat, tanpa mempedulikan perbedaan individula ataupun sosial.
Gerbner dan koleganya mengidentifikasi beberapa area lain dimana
kedua jenis penonton ini akan memiliki perbedaan. Mereka memasukan keyakinan
mereka mengenai kecenderungan keterlibatan dalam kejahatan dengan tindak
kekerasan, rasa takut mereka saat berjalan pada malam hari dan persepsi mereka
mengenai penegakan hukum. Temuannya sungguh menarik. Pertama, mereka menemukan
bahwa orang yang lebih sedikit menonton televisi akan menyatakan bahwa
kemungkinan mereka menjadi korban dari tindak kekerasan adalah 1 banding 100,
sementara mereka yang banyak menonton televisi menyatakan bahwa kemungkinan
mereka menjadi korban adalah 1 banding 10. Kedua, mereka menemukan bahwa lebih
banyak wanita dibandingkan pria merasa takut berjalan pada malam hari dan bahwa
penonton kelas berat memperkirakan secara berlebihan jumlah dari kejahatan
dengan tindak kekerasan. Ketiga, penonton kelas berat merasa bahwa 5 persen
dari budaya terlibat dalam penegakan hukum, sementara penonton kelas ringan
merasa bahwa hanya 1 persen yang terlibat. Hal yang penting bagi logika
analisis kultivasi adalah bahwa respons dari para penonton kelas berat
menggambarkan dengan cukup akurat hasil analisis isi dari televisi, dimana
kekerasan biasanya terdapat dalam dosis
berat ; karena kekerasan merupakan hal yang umum didalam televisi; para
penonton kelas berat cenderung lebih takut atau tidak memepercayai dunia nyata.
Analisis Kultivasi sebagai Teori Kritis
Analisis kultivasi
telah memberikan kontribusi penting pada pemikiran kontemporer mengenai
komunikasi massa. Tetapi apa peranan televisi dalam budaya kita yang berhasil diungkap oleh para
peneliti kultivasi ? para teoritikus kultivasi akan berargumen bahwa ketakutan
Joyce jensen- dan pemberian suara bagi kandidat yang bertindak tegas terhadap
kejahatan yang mungkin dihasilkan dari rasa takut itu, didasarkan pada sebuah pandangan terhadap
dunia yang dikultivasi oleh televisi. Belajar dari televisi tidak hanya
menghasilkan persepsi mengenai dunia yang kejam (yang menurut para peneliti
kultivasi akan menjadi ramalan pemenuhan diri) karena ketidakpercayaan orang
terhadap orang lain akan menghasilakn atmosfer ketidakpercayaan yang lebih jauh
lagi, tetapi juga mendistorsi wacana publik, sosial dan budaya. Argumen ini
mirip dengan teori spiral keheningan. Yaitu orang cenderung lebih tidak
bersedia untuk menyatakan pendapat mereka mengenai pendekatan-pendekatan
alternatif terhadap kejahatan dan pencegahan tindak kejahatan karena media,
terutama televisi, memperkuat realitas sosial yang dominan yang mencegah terhadinya
diskusi ini diantara para pemberi suara.
Bagaimanakah
televisi dapat menjadi dorongan yang begitu kuat jika pengaruhnya terjadi
selambat terjadi zaman es ? gerbner menjawab pertanyaan ini dengan idenya
mengenai 3 B dari televisi. Bluring, blending dan bending. Televisi menurutnya
memburamkan kejelasan tradisional mengenai pandangan orang akan dunia mereka,
mencampurkan realitas orang dalam budaya mainstream televisi dan membengkokan
maisntream tersebut kepada minat institusional dari televisi dan sponsornya.
Kekuatan televisi terletak pada penggunaanya oleh industri dan kaum elite yang
kuat untuk memenuhi kebutuhan mereka, lebih dibanding kebutuhan budaya.
Analisis kultivasi
sebagai teori yang kritis, mempelajarai institusi sosial yang penting dalam hal
bagaimana ia menggunakan fungsi penceritaan kisahnya untuk kepentingan satu
pihak dibandingkan kepentingan seluruh masyarakat yang lebih luas.
Selain itu,
analisis kultivasi juga memiliki karakteristik yang sama dengan teori kritis
lainnya : teori ini politis, maksudnya dalam menerima asumsi – asumsinya para
pendukungnya harus berkomitmen untuk melakukan sesuatu mengenai situasi yang
ada.
Modul Teori Komunikasi oleh Bapak Drs. HM. Kholili, M.Si
Morissan, dkk, Teori Komunikasi Massa, Bogor : Penerbit
Ghalia Indonesia, 2010.
Komentar
Posting Komentar