TEORI AGENDA SETTING DAN CONTOH APLIKASI TEORI


Teori Agenda Setting Dan Contoh Aplikasi Teori 

TEORI AGENDA SETTING

Latar Belakang Munculnya Teori Agenda Setting
            Teori agenda setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and The Picture in Our Head” yang sebelumnya telah menjadi bahan pertimbangan oleh Bernard Cohen (1963) dalam konsep “The mass media may not be successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about“. Penelitian empiris ini dilakukan Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw ketika mereka meneliti pemilihan presiden tahun 1972.  Mereka mengatakan, walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita. Itu terjadi ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, mereka juga belajar sejauh mana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa.
            Walter Lipmann pernah mengutarakan pernyataan bahwa media berperan sebagai mediator antara “the world outside and the pictures in our heads”. McCombs dan Shaw juga sependapat dengan Lipmann. Menurut mereka, ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa-apa yang diagendakan oleh media massa dan apa-apa yang menjadi agenda publik.
            Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali.
Uraian Teori
            Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan sumber informasi tentang kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. McCombs and Shaw mendefinisikan agenda setting adalah media mengindikasi kepada publik apa yang menjadi isu utama dan dipresepsikan oleh publik sebagai isu utama. Konsep agenda setting mengenal  tiga agenda:
1. Agenda media,
2. Agenda publik (khalayak), dan
3. Agenda kebijakan
            Fungsi penyusunan agenda dijelaskan oleh Donal Shaw, Maxwell McCombs :
1.Adanya bukti bahwa penyunting dan penyiar memainkan bagian yang penting dalam membentuk realitas sosial.
2.Pengaruh media massa besar adanya perubahan kognitif antar individu. Media dapat memberitahu apa yang harus kita pikirkan.
Penyusunan agenda terjadi karena media aktif dalam melaporkan berita, adanya gatekeepers membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan bagaimana melaporkannya. Ada dua tingkatan dalam penyusunan agenda media, yang pertama menentukan isu-isu umum yang dianggap penting dan menentukan bagian dari isu-isu yang dianggap penting. Pemberitaan media yang sudah di agendakan, memilih isu untuk diberikan perhatian lebih banyak atau sedikit berdasarkan tekanan-tekanan tertentu, efek agenda bersifat peripheral dan jangka pendek, agenda berasal dari opini publik. Ada dua tingkatan dalam penyusunan agenda media, diantaranya :
1. Menentukan isu-isu umum yang dianggap penting                                                                  
2. Menentukan bagian dari isu-isu yang dianggap penting.   
Stephen W. Littlejohn mengatakan, agenda setting beroperasi dalam tiga bagian sebagai berikut:
  • Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada waktu pertama kali
  • Agenda media dalam banyak hal memengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan, seberapa besar kekuatan media mampu memengaruhi agenda publik dan bagaimana publik itu melakukannya.
  • Agenda publik memengaruhi atau berinteraksi kedalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adakah pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting bagi individu.
Contoh Aplikasi Teori
            Contoh dari aplikasi teori agenda setting adalah dalam pemberitaan kasus perang antara Palestina dan Israel. Penonjolan berita Gaza menganggap penting sisi  peperangan itu penting membuat masyarakat berpikir akan kebenaran yang diberitakan media, apalagi di dukung dengan pemberitaan di media massa tentang bangganya terhadap penduduk Gaza,Palestina.
Berbagai media memberitakan isu Gaza dari sudut pandang berbeda yang membuat berita Gaza diterima oleh khalayak dan khalayak akan terus mengikuti peristiwa tersebut. Masyarakat menerima pemberitaan yang di agendakan, sehingga mempengaruhi pikiran khalayak tentang apa yang terjadi di Gaza Palestina. Realitas yang ada di Gaza Palestina menjadi booming karena media massa terus menerus memberitakan serangan Israel terhadap Gaza. Media stasiun televisi maupun media online menganggap penting hal tersebut sehingga media mengagendakan peristiwa serangan di Gaza menjadi penting. Kemudian isu tersebut dinilai publik sebagai isu-isu yang penting dan diikuti terus perkembangannya. Sedangkan issu yang bener benar sangat penting seperti kasus korupsi akhirnya menjadi lenyap dan tertutup beritanya karena issu perang di Palestina
 Publik menganggap apa yang diberitakan media itu penting dan membuat publik berpikir Gaza harus di support. Salah satu contoh agenda publik adalah mempertahankan relawan Indonesia yang membantu Gaza lewat bidang kesehatan.
Konsep pembentukan media tentang Gaza terjadi karena ada proses kolektif antara media, publik dan pemerintah saling mempengaruhi satu sama lain dalam menentukan isu-isu yang dianggap penting. Proses kolektif tersebut terdiri dari enam langkah (Severin.2011), diantaranya :
1.Pers menyoroti beberapa kejadian atau aktivitas dan membuat kejadian atau aktivitas tersebut menjadi menonjol.Peristiwa peperangan Gaza dibuat lebih menonjol dengan mengambil gambar zoom dari daerah yang terkena serangan
2.Jenis-jenis isu yang berbeda membutuhkan jumlah dan jenis liputan berita yang berbeda untuk mendapatkan perhatian. Beberapa isu tentang Gaza dikemas secara berbeda dalam peliputannya.
3.Peristiwa-peristiwa dalam aktivitas harus dibingkai atau diberi bidang makna dimana didalamnya peristiwa dan aktivitas tersebut dapat dipahami.
            Framing yang dilakukan media membuat suatu berita terus menerus ditayangkan di media sehingga muncul agenda publik. Seperti yang dikatakan Robert N. Ertman, framing adalah proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Framing yang terjadi dalam agenda setting penting untuk membentuk suatu berita Gaza lebih menarik. Masyarakat akan menjadikan topik utama yang diangkat oleh media sebagai bahan perbincangan sehari-hari. Pengaruh dari teori agenda setting terhadap masyarakat dan budaya sangat besar. Framing (Sobur.2001) digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita agar tampilan yang di sajikan dalam peristiwa Gaza Palestina terlihat menarik.
Orang yang menonton peperangan Gaza memerlukan dasar untuk berpihak pada sebuah isu, apakah orang yang menonton lebih cenderung membela Israel ataupun Palestina. Dalam kasus Gaza, orang yang memperhatikan media dibantu untuk melakukan keberpihakkan ketika isu ini dihubungkan dengan simbol-simbol sekunder seperti “keharusan menyampaikan fakta”. Pembentukan agenda dipercepat ketika individu-individu yang terkenal dan dapat dipercaya mulai berbicara tentang sebuah isu. Ketika Benyamin Ketang calon DPRD dari Partai Gerindra berbicara tentang pembelaan terhadap Israel, pernyataan ini membuat beberapa pendukung Gaza Palestina membuka mulut dan jauh lebih kuat dalam pembelaan terhadap penduduk Gaza.
Berdasarkan uraian  diatas dapat disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media terhadap apa yang difikirkan oleh audience-nya. Mungkin media belum tentu berhasil mengubah sikap audience-nya, tapi media akan cukup memengaruhi apa yang difikirkan. Dengan kata lain, media mampu memengaruhi atau justru menggiring persepsi audience-nya.
SUMBER :
Littlejhon, Stepen W, Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi, Salemba Humanika, Jakarta.
Tamburaka, Apriadi. 2012. Agenda Setting Media Massa. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
McCombs, Maxwell & Reynolds, Amy, “News Influence on Our Pictures of the World” dalam Bryant, Jennings & Zillman, Dolf (2002) Media Effects: Advances in Theory and Research. New Jersey, London: Lawrance Erlbaum Associates.
Wanta, W & Ghanem, S, “Effects of Agenda Setting” dalam Preiss, R.W et. Al (Eds.) (2007) Mass Media Effects Research: Advanced Through Meta-Analysis. Mahwah, NJ, London: Erlbaum
Sobur,Alex.2001Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.








Komentar

Postingan Populer