CONTOH SIKAP TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
CONTOH SIKAP TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Kasus di Desa Serang Brobahan, Kec. Karangreja, Kab.
Purbalingga)
Indonesia
merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman suku, bangsa, ras,
agama, bahasa, etnis dan lain-lainnya. Untuk menciptakan kehidupan yang damai
dan terbebas dari konflik perbedaan dan keanekaragaman maka diperlukan sikap
saling menghargai dan menghormati antar sesama. Sikap saling menghargai dan
menghormati ini sering kita artikan dengan toleransi. Dalam kehidupan beragama
khususnya, negara Indonesia memberikan kebebasan kepada setiap warga negaranya
untuk memeluk suatu agama yang sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka.
Dalam agama Islam sendiri sikap toleransi (Arab : tasamuh) sudah diatur dalam
Al Quran, yaitu dalam surat Al Kafirun
ayat enam yang artinya : “ untukmu agamamu dan untukkulah agamaku “.
Dalam kehidupan bermasyarakat ini ada banyak sekali contoh-contoh sikap
toleransi antar umat beragama. Satu diantara contoh yang banyak kita jumpai adalah
sikap toleransi yang dilakukan oleh sebuah keluarga yang ada di Desa Serang
Brobahan Rt 03 Rw 03, Kec. Karangreja, Kab. Purbalingga.
Ada
sekitar 15 keluarga kristen di Desa Serang, salah satunya adalah keluarga Bapak
Bejo (nama samaran). Dahulu Bapak Bejo adalah seorang muslim. Kisahnya seperti
ini, sejak kecil beliau tidak tinggal dengan keluarganya yang notabenenya
adalah sebuah keluarga muslim. Beliau diasuh oleh adik jauh dari ibu beliau
yang merupakan umat kristiani. Sewaktu kecil Bapak Bejo rajin beribadah,
mengaji al quran dan kegiatan ibadah lainnya. Ibu asuhnya tidak melarang Bapak
Bejo untuk melakukan ritual ibadah sebagai seorang muslim. Waktu pun berlalu,
kemudian Bapak Bejo kenal dengan seorang gadis, namun gadis tersebut berbeda
keyakinan dengan Bapak Bejo. Gadis tersebut merupakan umat kristiani.
Akhirnya
Bapak Bejo pindah agama menjadi seorang kristiani, lalu menikah dengan gadis
tersebut. Awalnya sempat terjadi pertentangan dengan keluarga, tetapi hanya
sebentar. Keluarga mengikhlaskan beliau, karena memang beliau dari kecil tidak
diasuh oleh orang tuanya melainkan diasuh oleh adik jauh dari pihak ibu yang
merupakan umat kristiani. Hal tersebut merupakan salah satu faktor kepindahan
beliau ke agama kristen.
Bapak
Bejo tetap berhubungan baik dengan keluarganya begitu pula sebaliknya. Mereka
berhubungan sangat baik. Kepindahan Bapak Bejo ke agama kristen tidak lantas
menimbulkan kebencian dan permusuhan diantara keluarganya, meskipun pada
awalnya Bapak Bejo sudah dinasehati oleh pihak keluarga. Bahkan ketika momen
Hari Raya Idul Fitri, Bapak Bejo beserta
anak dan istrinya turut datang ke Rumah
ibunya, bukan saat bertepatan dengan
hari Raya namun pada saat hari kedua
atau hari ketiga lebaran. Ketika beliau membawa makanan yang berupa daging pun,
beliau pasti membelinya dari pasar, atau yang disembelih oleh orang Islam.
Beliau tidak pernah mengirimkan makanan ke keluarga muslimnya makanan berupa
daging yang disembelihnya sendiri. Karena beliau tahu bahwa Hewan yang
disembelih tanpa menyebut asma Alloh Swt, maka hukumnya haram dimakan. Ini
menurut kepercayaan muslim. Ketika Hari Raya Natal pun, saudara-saudara Bapak
Bejo turut menghormati dan menghargainya namun tidak ikut merayakannya karena
mereka tahu bahwa batasan toleransi hanya sampai pada batas saling menghormati
dan menghargai kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh Bapak Bejo.
Dari
kejadian diatas ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Toleransi
beragama sudah dijalankan dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, yaitu pada
saat nabi melakukan perjanjian dengan umat Yahudi dan Nasrani (Piagam Madinah) dimana mereka tetap
diperkenankan untuk menjalankan ibadah mereka masing-masing, namun dengan satu
syarat yaitu harus saling menghargai, menjaga kerukunan dan kesatuan Madinah. Hidup
rukun dan bertoleransi tidak berarti bahwa agama yang satu dan agama yang
lainnya dicampur adukkan. Melalui toleransi ini diharapkan terwujud ketenangan,
ketertiban, serta keaktifan menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan
masing-masing. Dengan sikap saling menghargai dan saling menghormati itu, akan
terbina peri kehidupan yang rukun, tertib, dan damai.
Perbedaan
itu lahir bukan sebagai pemisah tapi untuk mengeratkan hubungan dengan
memperkaya warna dunia. Berbeda tetapi tetap satu rasa, satu selera satu tujuan
yaitu, menciptakan kehidupan yang damai dan saling membentuk ikatan yang erat.
Kita tahu bahwa air dan minyak tidak pernah bisa bersatu, namun kita tahu juga
walaupun tidak bisa bersatu tetapi mereka tetap bisa berdampingan.
Komentar
Posting Komentar