SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA ZAMAN YUNANI


II.1 Pengertian Retorika
Retorika berasal dari bahasa Inggris “rhetoric” dan bersumber dari perkataan Latin “rhetorica” yang berarti ilmu bicara. Retorika sebagai suatu ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum dan akumulatif (Harsoyo dalam Susanto, 1988:73-74). Rasional, apa yang disampaikan oleh seorang pembicara harus tersusun secara sistematis dan logis. Empiris berarti menyajikan fakta-fakta yang dapat diverifikasi oleh pancaindra. Umum artinya kebenaran yang disampaikan tidak bersifat rahasia dan tidak dirahasiakan karena memiliki nilai sosial. Akumulatif merupakan perkembangan dari ilmu yang sudah ada sebelumnya, yaitu penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan. Retorika secara sistematis dan metodologis telah dipelajari, diteliti, dan dipraktekkan oleh Sokrates dan penerusnya. Ada juga yang memberi pengertian retorika sebagai seni penggunaan bahasa yang efektif. Yang lain mengatakan retorika sebagai public speaking atau berbicara di depan umum. Pengertian retorika secara sempit adalah hanya mengenai bicara, sedang secara luas tentang penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Menurut Sunarjo(1983:49-52), pengertian retorika dapat dilihat dari tinjauan filosofis dan tinjauan ilmu komunikasi.
II.2 Sejarah Perkembangan Retorika Zaman Yunani
Retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun, sebagai seni yang dipelajari dimulai abad 5 sebelum Masehi (SM) ketika kaum sofis di Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pada masa inilah retorika mengalami puncak keemasan. Ini terkait dengan sejarah awal keberadaan orang Yunani sebagai perantau yang memiliki jiwa petualang. Mereka merantau karena kondisi geografis negara Yunani yang terletak di Semenanjung Balkan tidak subur dan sedikit memberikan hasil bagi penduduknya, kemudian mereka merantau ke tanah asing dan mendirikan negara baru di sekitar laut Egia dan pantai Asia Kecil. Ditanah rantau ini, orang Yunani mengalami perbaikan ekonomi dan mampu membeli budak untuk mengurus pekerjaan mereka sehari-hari sehingga mereka mempunyai banyak waktu luang. Waktu senggang dimanfaatkan untuk memperkuat kemuliaan hidup dengan seni dan buah pikiran. Ilmu pengetahuan pun berkembang yang ditujukan untuk mencari kebenaran sehingga lahir-lah filsafat. Orang Yunani hidup berkelompok dalam sistem kemasyarakatan yang teratur yang disebut dengan Polis atau negara kota. Polis merupakan lembaga politik yang meliputi kekuasaan secara otonomi, swasembada dan kemerdekaan. Ketiga faktor inilah yang melatarbelakangi kebebasan berpikir yang membantu munculnya filsafat. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan hal-hal yang abstrak secara jernih dan jelas.Konsep tentang masyarakat dan politik adalah abstrak, yakni menyangkut tujuan didirikannya negara, sistem pemerintahan, dan kepemimpinan. Kemampuan menggunakan bahasa menjadi incaran bagi orang yang ingin masuk dalam jajaran elit politik Yunani. Ketrampilan menggunakan bahasa mendapat perhatian dari penguasa pada masa itu untuk merebut kekuasaan dan melebarkan pengaruhnya. Bahkan, para penguasa itu menyewa agitator untuk memperkuat pengaruh mereka di mata masyarakat. Para agitator ini mempengaruhi pendapat umum dengan menggunakan alasan-alasan keagamaan dalam pernyataannya. Perkembangannya, para agitator ini mempelajari seni berbicara untuk meningkatkan penghasilannya karena mereka dibayar. Ada yang menyebut agitator ini sebagai kaum sophist yang artinya orang yang menipu orang lain dengan menggunakan argumen-argumen yang tidak sah. Para sophist ini berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sambil berbicara di depan umum. Jika dirunut dari asal katanya, sophist dari kata sophos yang artinya cerdik pandai karena ahli dalam berbagai ilmu, baik politik,bahasa, dan filsafat. Perkembangannya menjadi ejekan atau sebutan bagi mereka yang pandai bersilat lidah dan memainkan kata-kata dalam berbicara. Representasinya adalah agitator yang dibayar sehingga muncul konotasi yang negatif.
 Pemerintah perlu usaha membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan. Berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Khalayak bisa tertarik dan terbujuk. Retorika dipelajari, diawali, dan dilaksanakan di negara-negara yang menganut demokrasi langsung, yakni Yunani dan Romawi.
Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi (Sunarjo, 1983:55), yakni untuk mencapai kebenaran/kemenangan bagi seseorang atau golongan dalam masyarakat untuk meraih kekuasaan, yakni mencapai kemenangan seseorang atau kelompok dengan pemeo ‘siapa yang menang dialah yang berkuasa’ sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi manusia lain.
Kaum sofis berpendapat bahwa manusia adalah “mahluk yang berpengetahuan dan berkemauan”. Manusia mempunyai penilaian sendiri mengenai baik buruknya sesuatu, mempunyai nilai-nilai etikanya sendiri, maka oleh karena itu kebenaran suatu pendapat hanya dicapai apabila seorang dapat memenangkan pendapatnya terhadap pendapat-pendapat orang lain yang berbeda dengan norma-normanya. Tidak mengherankan apabila pada masa itu orang-orang melatih diri untuk memperoleh kemahiran dalam berbicara, sehingga inti pembicaraan beralih dari mencari kebenaran kepada meraih kebenaran.
Tokoh aliran Sofisme ini adalah Georgias (480-370) yang dianggap sebagai guru retorika yang pertama. Filsafat madzab Sofisme ini dicerminkan oleh Georgias yang menyatakan bahwa kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam pembicaraan. Georgias (dari kaum sofisme). Georgias ini merupakan guru retorika yang pertama. Ia membuka sekolah retorika yang mengajarkan dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromptu (berbicara tanpa persiapan). Ia meminta bayaran mahal, sekitar 10.000 dollar per mahasiswa. Georgias bersama Protagoras menjadi ‘dosen terbang’ yang mengajar berpindah dari satu kota ke kota lain (Rakhmat, 1994:4). Sekolah tersebut dibuka dalam rangka memenuhi ‘pasar’ akan kemampuan berpikir yang jernih dan logis serta berbicara yang jelas dan persuasif.
 Pendapat georgias ini berlawanan dengan pendapat Protagoras (500-432) dan Socrates (469-399) Protagoras mengatakan bahwa kemahiran berbicara bukan demi kemenangan melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan bagi Socrates retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya. Teknik dialog Sokrates mengikuti jalan deduksi, yaitu menarik kesimpulan-kesimpulan untuk hal-hal yang khusus setelah menyelidiki hal-hal yang berlaku pada umumnya. Metode Sokrates mengenai retorika ini adalah:
a. memisahkan pemikiran salah dari yang tepat, yakni dengan jalan berpikir mendalam dan memperhatikan suatu persoalan dengan sungguh-sungguh agar dapat menemukan suatu ‘nilai universal’ yang ada dalam masyarakat. Nilai ini yang dipergunakan untuk memecahkan persoalan tersebut
b. bertanya (dialog) dan menyelidiki argumentasi-argumentasi yang diberikan kepadanya dengan harapan dapat membuat suatu definisi tentang apa yang diketemukannya (definisi ini berdasarkan hasil penemuan dari masyarakat). Adapun teknik yang digunakan oleh Sokrates ialah berpura-pura bodoh seolah olah tidak mengetahui sama sekali suatu persoalan; membuat pertanyaan berdasarkan apa yang telah diketahui. Sokrates dianggap menyimpang karena dialog digunakan untuk mempengaruhi, bukan mengumpulkan fakta atau data.
Seorang yang sangat dipengaruhi oleh Socrates dan Georgias adalah Isocrates yang pada tahun 392 SM mendirikan sekolah retorika dengan menitikberatkan pendidikannya pada pidato-pidato politik. Filsafat Isocrates ialah, bahwa hakikat pendidikan adalah kemampuan membentuk pendapat-pendapat yang tepat mengenai masyarakat. Dengan sekolahnya itu, Isocrates selama 50 tahun berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pemimpin yang baik.
Isokrates percaya bahwa retorika dapat meningkatkan kualitas masyarakat, retorika tidak boleh dipisahkan dari politik dan sastra. Akan tetapi, tidak semua bisa memperoleh pelajaran ini. Retorika menjadi pelajaran yang elit. Sekolah Isokrates menitikberatkan pendidikan ‘pidato-pidato politik’ (political oratory) yang menghubungkan persoalan aktual de-ngan perkembangan politik. Isokrates dikenal sebagai ‘political es-sayist’ yang pertama. Gagasan-gagasan Isokrates yang terkenal lainnya adalah pendapat yang terbentuk di bawah pembimbingan lebih baik daripada tindakan tindakan praktis, inti pendidikan adalah kemampuan membentuk pendapat-pendapat yang tepat mengenai masyarakat sehingga diharapkan orang mampu mengeluarkan pendapatnya dengan tepat.
Yang sama pendapatnya dengan Isocrates, yaitu bahwa retorika memegang peranan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin, adalah Plato. Bagi Plato, retorika memegang peranan penting bagi persiapan untuk menjadi pemimpin. Retorika penting sebagai model pendidikan, sarana mencapai kedudukan dalam pemerintahan, dan mempengaruhi rakyat. Retorika memberi kemampuan penggunaan bahasa yang sempurna. Plato dilahirkan pada tahun 427 SM di Athena dari kalangan bangsawan. Ia mengagumi Sokrates sejak muda. Ia juga pandai mengarang dan perhatiannya ditujukan pada karangan yang berbentuk Dialog. Sebagai seorang filsuf, ia mendirikan sekolah filsafat bernama ‘akademia’. Beberapa karangannya yang terkenal adalah:
a.Nomoi : yaitu tulisan yang berupa dialog jawaban atas bukunya ‘Politikos’ yang mengupas mengenai undang-undang, undang-undang hendaknya menjadi instansi yang tertinggi dalam suatu negara, dan undang-undang yang mana yang dianggap cocok berlaku dalam suatu negara.
b.Dialogues : berbicara tentang pembuatan kerangka retorika yang dianggap benar, yaitu retorika yang ada hubungannya dengan kebenaran dan moral. Seorang orator hendaknya menyesuaikan retorikanya dengan kemampuan pendengar.
Plato adalah murid Socrates yang sangat terkenal. Plato mengatakan bahwa retorika bertujuan memberikan kemampuan menggunakan menggunakan bahasa yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan dalam terutama dalam bidang politik. Betapa pentingnya retorika dapat dilihat pada peranan retorika dalam demokrasi.
Dalam hubungan ini, terkenal seorang orator bernama Demosthenes (384-322), yang dizaman Yunani sangat termashur karena disebabkan gigihnya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman raja Fhilippus dari Macedonia. Pada waktu itu, menjadi anggapan umum bahwa, dimana terdapat sistem pemerintahan yang berjedaulatan rakyat, disitu harus ada pemilihan berkala dari rakyat dan oleh rakyat untuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Dimana demokrasi menjadi sistem pemerintahan, disitu dengan sendirinya masyarakat memerlukan orang-orang yang mahir berbicara didepan umum.
Pendapatnya adalah mengenai retorika dalam demokrasi. Ketika demokrasi menjadi sistem pemerintahan, disitu dengan sendirinya masyarakat memerlukan orang-orang yang mahir berbicara di depan umum. Penekanan retorika menurut Demosthenes adalah semangat yang berkobarkobar, kecerdasan pikiran, lain dari yang lain. Ia adalah ahli pidato yang ulung dan ahli politik. Sebelum menjadi orator yang terkenal, ia mengalami tekanan batin yang berat dan rasa takut yang besar. Namun, berkat keta-bahan dalam latihan, ia dapat mengatasi segala kesulitannya itu. Demosthenes menjadi pemimpin partai yang anti Macedonia di Athena. Pada waktu itu, seluruh Yunani diajak memberontak terhadap Raja Philippus II dari Macedonia yang diserang dengan berbagai pidatonya ‘philippica ’ yang berarti pidato serangan. Ia dapat dikalahkan kemudian lari ke Aegina dan tinggal di sana sampai Iskandar Zulkarnain meninggal dunia. Ia kemudian kembali ke Athena lagi dan melakukan pemberont akan, namun ia kalah juga. Akhirnya, ia bunuh diri dengan minum racun. Setelah bangsa Yunani dikuasai oleh bangsa Macedonia dan Romawi, berakhi rlah masa kejayaan ilmu retorika Yunani. Retorika tinggal sebagai ilmu yang dipelajari di bangku-bangku sekolah.
Demosthenes pada masa jayanya meninggalkan kebiasaan retorika yang berlaku pada zamannya dan lebih menekankan pada :
-semangat yang berkobar-kobar
-kecerdasan pikiran  
-kelain an dari yang lain.
Sampai sekarang ada 61 naskah pidato Demosthenes yang masih tersimpan. Diantaranya yang terindah adalah naskah pidato yang bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, berjudul “ Tentang Karangan Bunga”, sebuah sambutan terhadap pemujaan rakyat kepadanya ketika ia berhasil menyingkirkan lawannya, Aischines.
Pemuka retorika lain pada zaman Yunani itu adalah Aristoteles yang sampai kini pandangannya  banyak dikutip. Dia mengatakan bahwa retorika sebagai filsafat, sedang tokoh yang lain menekankan sebagai seni. Menurut Aristoteles, tujuan retorika adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktian. Ini terdapat pada logika. Keindahan bahasa hanya digunakan untuk membenarkan, memerintah, mendorong, dan mempertahankan sesuatu. Berlainan dengan tokoh-tokoh lainnya yang memandang  retorika sebagai suatu seni, Aristoteles memasukannya sebagai bagian dari filsafat. Dalam bukunya, Retorika, dia mengatakan : “ Anda, para penulis retorika terutama menggelorakan emosi. Ini memang baik, tetapi ucapan-ucapan anda lalu tidak dapat dipertanggung jawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu ketika, kendatipun lebih efektif daripada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok bagi logika dan juga bagi retorika , akan benar apabila telah diuji oleh dasar-dasar logika”, Aristoteles.
Aristoteles juga tidak setuju dengan retorika yang tidak mengandung kebenaran, tapi ia dapat melihat bahwa retorika sebenarnya sebuah cara persuasi yang sangat yang bisa membawa kemaslahatan pada masyarakat. Syaratnya harus ada etika yang kuat dari pembicara. Bagi Aristoteles persuasi harus dilakukan dengan retorika, bukan dengan ancaman, suap atau siksaan seperti praktik yang lazim pada masa itu. Aristoteles bahkan menyusun tulisan tentang retorika yang diterbitkan menjadi tiga buku : tentang pembicara, tentang publik, dan tentang kehadiran dalam retorika. Dari ketiganya publik adalah elemen paling penting.
 Aristoteles merupakan murid Plato yang paling cerdas. Pada usia 17 tahun, ia sudah mengajar di Akademi yang didirikan Plato. Ia menulis tiga jilid buku berjudul De Arte Rhetorica , yang diantaranya berisi lima tahap penyusunan suatu pidato. Tahapan itu dikenal dengan lima hukum retorika atau The five canons of rhetoric (Rakhmat, 1994:6-8) yang meliputi hal-hal sebagi berikut.
a. Inventio (penemuan)
Pada tahap ini pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Pembicara juga merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
b. Dispositio (penyusunan)
Pada tahap ini pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Pesan dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan tersebut mengikuti kebiasaan berpikir manusia yang terdiri dari: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Bagi Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas, dan menjelaskan tujuan.
c. Elocutio (Gaya)
Tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk mengemas pesan. Ini dapat ditempuh dengan: a) menggunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima, b) memilih kata-kata yang jelas dan langsung, c) memakai kalimat yang indah, mulia, dan hidup, d) menyesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak, dan pembicara.
d. Memoria (memori)
Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya.
e. Pronuntiatio (penyampaian)
Pada tahap ini, pembicara menyampaikan pesannya secara lisan. Pembicara harus memperhatikan olah suara dan gerakan anggota badan.
Selanjutnya dia berkata bahwa keindahan bahasa hanya dipergunakan untuk empat hal yaitu yang bersifat :
-membenarkan (correcttive)
- memerintah (instruktive)
-mendorong (sugestive)
- mempertahankan (defensive).
Dalam membedakan bagian-bagian struktur pidato, aristoteles hanya membaginya menjadi tiga bagian yakni :
-pendahuluan
-pembahasan
-kesimpulan
 Bagi Aristoteles, retorika adalah “seni persuasi” (the art of persuasion). Ia mengajarkan bahwa dalam retorika, suatu uraian harus : singkat, jelas dan meyakinkan.
II.3 Sejarah Perkembangan Retorika di Zaman Romawi
            Di romawi yang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang menjadi termasyhur karena suaranya dan bukunya yang berjudul antara lain de Oratore. Sebagai seorang orator yang ulung, Cicero mempunyai suara yang berat mengalun, pada suatu saat keras menggema, diwaktu lain halus merayu, bahkan kadang-kadang pidatonya itu disertai cucuran air mata.
            Buku de oratore yang telah ditulisnya terdiri dari 3 jilid, jilid 1 menguraikan pelajarang yang diperlukan oleh seorang orator, jilid 2 menjelaskan hal pengaruh, dan jilid 3 menerangkan bentuk-bentuk pidatonya.
            Sebagai seorang tokoh Retorika, Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematikanya dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat : suasio (anjuran) dan disuasio (penolakan). Paduan dari kedua sifat itu dijumpai terutama dalam pidato-pidato peradilan dimuka senat Roma. Pada saat itu tujuan pidato dimuka pengadilan adalah untuk menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut  kepentingan rakyat, perundang undangan negara dan keputusan yang akan diambil. Hal ini menurut Cisero hanya dapat dicapai dengan menggunakan teknik dissuasio apabila terdapat kekeliruan atau pelanggaran dalam hubungannya dengan undang-undang atau suasio jika akan mengajak  masyarakat  untuk memenuhi undang-undan dan keadilan.
            Cisero mengajarkan bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya, seorang retor harus meyakinkan mereka dengan mencerminkan keadilan dan kesusilaan. Dalam pelaksanaannya retorika meliputi :
a.       Investio : berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti bukti harus dibahas secara singkat dengan memperhatikan keharusan pembicara : 1) mendidik, 2) membangkitkan kepercayaan, 3) menggerakan hati
b.      Ordo collatio : berarti menyusun pidato yang meminta kecakapan sipembicara dalam memilih mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusunan pidato juga meminta perhatian terhadap : exordium (pendahuluan), narratio (pemaparan), confirmatio (penguatan), reputatio (pertimbangan), peroratio (penutup).
Teknik yang digunakan Cicero biasa digunakan oleh orang-orang Yunani Kuno yaitu dialog dan drama. Cicero juga percaya bahwa efek pidato akan baik, jika orang yang berpidato orang yang baik juga. Pengalaman Cicero dalam bidang politik adalah ia pernah menjadi konsul dan mencegah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Catilina. Pada tahun 60 SM, ia bertentangan dengan tiga serangkai yaitu Pompeyus, Caesar, dan rassus, yang menyebabkan dirinya dibuang.Ia akhirnya mendapat pengampunan dari Caesar. Sesudah Caesar meninggal, ia menentang Antonius. Karena tindakannya yang selalu menentang, ia akhirnya dibunuh. Pidato-pidatonya yang terpenting adalah :
In Verrem              : yaitu pidato yang ditujukan kepada Verres yang melakukan pemerasan,
In Catilinam          : yakni pidato yang ditujukan pada Catilina dengan maksud untuk menentangnya
Philippica               : yaitu pidato yang diucapkan untuk menentang Antonius.
            Kemudian ada Plutarch (46-120 SM). Dia adalah seorang tokoh sejarah Romawi yang berpendapat bahwa pidato yang disampaikan harus meyakinkan. Keadaan meyakinkan ini dapat dicapai dengan keyakinan pembicara, menguasai bahasanya, percaya akan diri sendiri,dan teknik bahasa yang digunakan merupakan peningkatan, aliterasi, mempunyai susunan kalimat yang baik.
            Lalu ada Tacitus (55-116 sesudah masehi). Dia adalah pahlawan Romawi yang menduduki Inggris hingga sebagian Scotlandia. Tacitus menyatakan bahwa retorika akan hilang nilainya dengan berkurangnya demokrasi. Hal ini ia lihat dari bertambah buruknya situasi    politik Romawi dibawah konsul Domitianus. Di ruang pengadilan dan senat, pembicara-pembicara yang berlainan pendapat dengan pihak penguasa dibunuh sehingga kejujuran dan retorika berkurang, bahkan lenyap. Yang tersisa adalah bersilat lidah demi kemenangan atau semakin bertambahnya pidato-pidato yang mengandung pujian, tetapi tidak mencerminkan kebenaran lagi. Tacitus memberi alternatif, ketika kemerdekaan berbicara dikuasai retorika palsu, maka lelucon dan syair menjadi tandingannya. Tacitus juga melukiskan kemungkinan bahaya retorika yang seperti itu adalah adanya pengaruh tanpa kecakapan atau pengetahuan, adanya pengaruh yang membenarkan yang salah. Perkembangan pemakaian jenis retorika tergantung zamannya, retorika kasar yang biasanya terdapat pada gerakan bawah tanah, retorika halus yang banyak terdapat di negara aman dan damai.


SUMBER :

Effendi, Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Karya, 1986.
Sulanjari, Yuni, Retorika (Seni Bicara untuk Semua), Yogyakarta : Siasat Pustaka, 2010.
Dharmawan, Yohana Purnama, Publik Speaking, Tangerang : Universitas Terbuka, 2014.

Komentar

Postingan Populer