CONTOH REVIEW JURNAL ILMIAH BERBAHASA INGGRIS
IDENTITAS JURNAL
JUDUL :
Framing of the Postponement of 2015 Presidential Election by Selected Nigerian Newspapers
PENULIS : Tsegyu Santas
(Department
of Mass Communication, Nasarawa State University, Nigeria)
JURNAL : AUDC
VOLUME/NOMOR/TAHUN : Volume 11/Nomor 02/2017
HALAMAN : 05-20
REVIEW
Artikel ini saya dapatkan dari situs penyedia
jurnal terbuka yaitu DOAJ (Directory of Open Access Journals). Artikel
ini ditulis oleh Tsegyu Santas, seorang peneliti bidang komunikasi massa,
Universitas Negeri Nasarawa, Nigeria. Tsegyu Santas memulai tulisannya dengan
memaparkan fenomena yang terjadi pada pemilihan presiden tahun 2015. Menurut
penulis pemilihan presiden 2015 bisa dikatakan salah satu pemilu yang paling
diperebutkan dalam sejarah pemilihan presiden di Nigeria. Untuk pertama
kalinya, presiden yang berkuasa dikalahkan kandidat dan bersedia menyerahkan
kekuasaan kepada partai oposisi. Institusi pers adalah titik tumpu dalam
menyampaikan informasi kepada pemilih selama kampanye pemilihan.
Agen keamanan yang seharusnya menampilkan
level tinggi profesionalisme dengan bersikap netral dalam masalah politik
menjadi penuh dengan etnis dan pertalian agama. Polisi, tentara dan departemen
dinas keamanan (DSS) menunjukkan bias bagi partai yang berkuasa, yang semakin
menimbulkan ketakutan bagi partai oposisi dan pemilih tentang keamanan dan
kecurangan pemilu (Onapajo, 2015, hal. 13).
Titik tinggi perkembangan ini menyebabkan
penundaan pemilihan presiden Nigeria. Pengumuman penundaan pemilihan umum 2015
oleh INEC diterima dengan beragam reaksi
oleh warga Nigeria, kelompok masyarakat, komunitas internasional, dan partai
politik. Partai oposisi melihat penundaan pemilihan sebagai strategi penguasa
untuk membeli lebih banyak waktu untuk menyempurnakan rencana mereka terkait
dengan pemilihan. Senator APC menggambarkan penundaan sebagai langkah untuk menggulingkan
demokrasi di Nigeria.
Namun, partai yang berkuasa (PDP) melihat
penundaan pemilu sebagai hal yang baik.
Dengan memperpanjang pemilihan selama enam minggu akan memungkinkan
militer Nigeria untuk merebut kembali mereka yang tidak mempunyai wilayah dan
memungkinkan pemilih yang menghuni daerah untuk mendapatkan kembali
kewarganegaraan mereka.
Menurut penulis, media massa dan media sosial
di Nigeria telah dibanjiri oleh berita-berita yang memilukan terkait dengan
penundaan pemilu, karena pemilihan presiden merupakan sejarah politik yang
sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat Nigeria. Pers Nigeria dalam melaporkan
penundaan pemilihan menggunakan berbagai jenis bingkai. Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui hal- hal berikut ; a) jenis bingkai
berita yang dipakai oleh Koran Nigeria pada pemberitaan pemilihan presiden
tahun 2015, b) bagian yang paling menonjol dari reportase mereka tentang
pemilihan presiden tahun 2015, c) arah atau nada cerita yang dilaporkan oleh
surat kabar Nigeria tentang penundaan pemilihan umum 2015.
Penelitian tersebut menggunakan metode
analisis framing. Adapun populasi dari penelitian ini adalah surat kabar Daily
Trust, Vanguard Guardian, dan The Nation. Sedangkan sampel dari penelitian
tersebut terdiri dari semua edisi surat kabar yang diterbitkan pada bulan
Februari-Maret 2015. Adapun teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purposive
sample. Menurut penulis, alasan dipilihnya bulan Februari-Maret didasarkan
pada waktu pada saat penundaan pemilihan presiden 2015. Adapun unit analisis
framing yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah ; Religious Frame,
Rescue Frame, Hopelessness Frame, Political Frame, Conspiracy Frame, Ethnic
Frame, Economic Frame, Responsibility Frame.
Adapun landasan teori yang digunakan sebagai
pijakan dalam penelitian tersebut adalah Analisis Framing. Teori framing telah
menjadi salah satu bidang yang menarik dalam kajian penelitian komunikasi,
plolitik, dan sosiologi. Hal tersebut dikarenakan farming dapar mengklarifikasi
dan menafsirkan sejauh mana media mempengaruhi pemahaman publik tentang politik
(Lechter & De Vresse, 2012 dikutip dalam Adisa, Muhammed & Ahmad, 2015,
hal 31). Teori framing mengacu pada ide pengorganisasisan sentral untuk konten
berita yang memasok konteks dan menunjukan apa masalahnya melalui penggunaan
seleksi, penekanan, pengecualian, dan elaborasi (Rhee, 1997, Semetko &
Valkenburg, 2000 dikutip dalam Galadima & Soola, 2012, hlm 10). Menurut
Entnan (1994), framing adalah proses pemilihan dan penyorotan beberapa aspek
peristiwa ata masalah dan membuat koneksi diantara mereka sehingga
mempromosikan interpretasi, evaluasi, dan solusi tertentu, hal ini sering
dilakukan untuk sorot kepentingan elit. Menyinggung lebih jauh tentang
pernyataan ini Noakes & Wikins (2002), mengatakan bahwa framing
kadang-kadang didefinisikan oleh mereka yang berkuasi kemudian menguasasi media
berita. Ini karena, jurnasli mencerminkan norma dan nilai-nilai kontkes budaya
dimana mereka berada, dengan demikian jurnaslis menggunakan alat yang
disediakan oleh ideologi hegemonik ketika membangun sebuah framing dalam
pemberitaan. Dalam sebuah situasi konflik, media membingkai isu dan peristiwa
yang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap publik (Ngwu, Ekwe &
Chukwuemeka, 2015). Pernyataan tersebut lebih jau disinggung juga oleh Anaeto,
Onabanjo dam Osifeso (2018, hlm 89), yang mengatakan bahwa media mungkin tidak
selalu menentukan apa yang kita pikirkan, tetapi yang mengejutkanm kita cenderung
berpikir pada hal hal yang disoroti media sebagai sesuatu yang penting. Hal
tersebut menggarisbawahi prinsip dasar teori Agenda Setting. Teori Agenda
Setting juga mengacu pada kemampuan media yaitu media tidak hanya harus
mencerminkan realitas tetapi juga menentukam realitas.
Selanjutnya adalah mengenai hasil penelitian.
Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
Dari delapan jenis bingkai digunakan untuk penelitian,
rescue frame yang paling banyak digunakan. Kemudian diikuti oleh Ethnic
frame, economic frame, religious frame, dan hopelessnes frame. Pola liputan
ini menunjukkan bahwa liputan media tentang penundaan pemilihan umum 2015 dipusatkan
pada upaya penyelamatan untuk merebut kembali wilayah yang hilang dari sekte
Boko Haram yang merupakan pertikaian yang memicu penundaan pemilihan. Selain
itu, pola liputan pemilihan juga menggambarkan pers Nigeria menjadi bias dalam
pemberitaan penundaan pemilihan. Pada
tingkat individu, surat kabar
mempromosikan kepentingan etnis, agama dan politik kedua calon aspiran yang
bersaing dalam pemilu.
Surat Kabar The Nation dan Vanguard memiliki
jumlah tertinggi penghasil berita yang berjenis editorial (tajuk rencana).
Dalam hal jenis berita feature stories, semua surat kabar memiliki
jumlah liputan yang sama kecuali koran Guardian yang berjumlah 7. Semua
surat kabar juga memiliki jumlah yang
sama dalam berita yang berjenis editorial, kecuali surat kabar Guardian yang
hanya berjumlah 2. Sedangkan berita berjenis
straight news dan berita yang berjenis artikel terbanyak
diperoleh oleh koran Daily Trust.
Ini menunjukkan bahwa sebagian besar surat kabar fokus pada laporan
mereka tentang berita yang berjenis straight news, lalu artikel,
kemudian berita feature, dan editorial (tajuk rencana).
Koran Daily Trust
menduduki posisi tertinggi dalam hal sikap pemberitaan yang bersifat positif.
Adapun koran yang menduduki posisi tertinggi dalam hal sikap pemberitaan
negatif adalah koran Vanguard. Sedangkan pemberitaan yang bersifat
Netral, pada posisi tertinggi ada pada koran Vanguard dan Daily
Trust.
Penulis
memberi kesimpulan bahwa Rescue Frame
dan Economic Frame yang mendominasi pemberitaan penundaan pemilu presiden
2015. HaI tersebut dipicu oleh tantangan keamanan yang dihadapi militer Nigeria
di puncak kampanye pemilihan. Hal tersebut memberikan dorongan pada pers untuk
memberikan liputan yang bersifat substansial pada berita yang berisi tentang
penjajakan pendapat. Dalam hal ini surat kabar melakukannya melalui artikel
opini, berita feature, straightnews, dan editorial.
Penelitian
tersebut mengungkapkan bahwa koran yang dipilih (Daily Trust, Vanguard,
Guardian, dan The Nation) menggunakan jenis bingkai yang berbeda dalam melaporkan
penundaan pemilihan. Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa dalam hal jenis
pemberitaan, sebagian besar berita dilaporkan dalam jenis straight
news, features, artikel opini, dan
editorial. Adapun arah atau nada yang digunakan dalam pemberitaan penundaan
pemilihan, surat kabar yang dipilih (Daily Trust, Vanguard, Guardian, dan
The Nation) memiliki perbedaan.
Beberapa dari mereka memfokuskan liputan mereka terhadap isu-isu negatif
sementara beberapa surat kabar yang lain memfokuskan pada isu-isu yang positif
dalam pemberitaan penundaan pemilihan.
Studi
tersebut mengungkapkan bahwa pers
Nigeria masih memproyeksikan sentimen etnis, politik, dan agama dalam kegiatan liputan
politik. Temuan tersebut juga didukung oleh Nwabueze, Uwaoma & Nwankwo (2016,
p. 208) yang menemukan bahwa kampanye presiden 2015 didominasi oleh komentar
provokatif dan pidato kebencian. Pada akhirna, penulis merekomendasikan pers untuk memastikan bahwa
mereka melepaskan diri dari politik partisan untuk memberikan cakupan yang
obyektif dari kegiatan politik.
Komentar
Posting Komentar