PERKEMBANGAN ISLAM


A.  Masuknya dan Berkembangnya Islam di Indonesia


Berita Islam di Indonesia telah diterima sejak orang Venesia (Italia) yang bernama Marcopolo singgah di kota Perlak dan menerangkan bahwa sebagian besar penduduknya telah beragama Islam. Sampai sekarang belum ada bukti tertulis tentang kapan tepatnya Islam masuk ke Indonesia. Namun banyak teori yang memperkirakannya.
Dari sekian perkiraan, kebanyakan menetapkan bahwa kontak Indonesia dengan Islam sudah terjadi sejak abad ke 7 M. Islam masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu
1.    Jalur Utara dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah), Damaskus, Bagdad, Gujarat (Pantai Barat India), Srilanka dan Indonesia.
2.    Jalur Selatan dengan rute : Arab (mekkah dan Madinah), Yaman, Gujarat, Srilanka dan Indonesia.
Dearah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah panatai Sumatra bagian Utara. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Islam telah tersebar keseluruh bagian pelosok kepulauan Indonesia, sehingga mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam. Hal ini disebabkan antara lain sebagai berikut:
1.    Adanya dorongan kewajiban bagi setiap muslim, khususnya para ulama untuk berdakwah menyiarkan siar Islam.
2.    Adanya kesungguhan hati dan keuletan para juru dakwah untuk menyiarkan siar Islam.
3.    Persyaratan untuk memasuki Islam sangatlah mudah
4.    Dalam ajaran Islam tidak ada system kasta dan diskriminasi, sehungga mudah menarik simpati rakyat
5.    Banyak raja-raja Islam yang ada di berbagai wilayah Indonesia ikut turut berperan aktif dalam dakwah Islamiyah.
Ada teori yang menyatakan bahwa islam itu ada di Indonesia akibat para pedagang. Dapat dikatakan bahwa Islam pada mulanya diperkenalkan oleh para pedagang muslim yang melakukan kontak dagang dengan penduduk setempat. Yang akhirnya dapat menarik hati penduduk setempat untuk memeluk Islam. Pada mulanya, saudagar-saudagar muslim dikenal cukup mendominasi perdangangan dengan Indonesia. Kehadiran pedagang-pedagang muslim melahirkan fenomena kota-kota perdangangan sebagai pusat ekonomi, yang pada akhirnya mendukung kegiatan bagi pengembangan Islam.
Metode penyebaran Islam di Indonesia adalah dengan metode kekuasan. Artinya orang yang mempunyai peran penting bagi perluasan Islam di Indonesia ialah orang yang memiliki kekuasaan di daerah setempat. Dengan beralihnya agama penguasa setempat menjadi muslim, maka peralihan agama tersebut juga akan diikuti oleh rakyat dan pendukungnya secara cepat. Setelah beralihnya agama di daerah tersebut, kemudian berdirilah suatau kerajaan yang dinamakan sebagai  kerajaan islam, biasanya  sang penguasa mempelopori berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari dakwa Islam, pembangunan masjid, sampai penyelenggaraan pendidikan Islam.
Ada beberapa jalur masuknya Islam ke Indonesia antara lain melalui jalur:
1.    Perdagangan
Pada masa awal masuknya islam ke Indonesia adalah dengan perdangagan, dimana kesibukan lalu lintas perdangagan terjadi pada abad ke 7 hingga 16 M .
2.    Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedangagang muslim memiliki status ekonomi yang lebih baik, sehingga para putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu dan sebelum nikah mereka  di Islamkan dahulu.
3.    Tasawuf
Para pengajar tasawuf atau sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan jalan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
4.    Pendidikan
Islamisasi dengan saluran ini misalnya dilaksanakan di pondok-pondok pesentren yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai dan ulama-ulama. Pada awal abad ke 15 M pesantren telah didirikan oleh para penyebar agama Islam, di antaranya Walisongo. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam di Indonesia didirikan, agama Islam semakin tersebar sehingga dapat dikatakan lembaga-lembaga itu merupakan anak panah penyebaran Islam di Jawa. Di samping itu ada juga yang dinamakan surau, yakni lembaga pendidik Islam tradisional di Sumatra Barat. Di Minangkabau istilah surau telah digunakan sebelum datangnya Islam di Indonesia. Surau merupakan tempat yang dibangun Islam di Indonesia.
5.    Kesenian
Pada waktu itu di Nusantara terdapat beberapa pusat kesenian dan kesusastraan Melayu. Dari pusat-pusat kesenian dan kesusastraan tersebut lahirlah kesusastraan Melayu klasik dan terciptalah genre-genre kesenian yang mengandung makna islami di pusat-pusat itu.
6.    Politik
Di Maluku, Sulawesi Selatan, rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam, maka kerajaan Isalam berusaha menguasai kerjaan non Islam, sehingga secara politis banyak menarik penduduk kerajaan non Islam untuk masuk Islam.

B.   Faktor-faktor Penyebab Berkembangnya Islam di Indonesia
penyebaran Islam tersebut di sebabkan adanya faktor-faktor khusus yang dimiliki oleh Islam pada. Faktor-faktor Khusus itu antara lain ialah Faktor ajaran Islam itu sendiri. Ajaran Islam, baik pada bidang akidah, syariah dan akhlaknya mudah di mengerti oleh semua lapisan masyarakat, dapat diamalkan secara luwes dan ringan, selalau memberikan jalan keluar dari kesulitan.
Ada dua faktor utama yang menyebabkan indonesia mudah di kenal oleh bangsa-bangsa lain. Khususnya oleh bangsa-bangsa timur tengah dan timur jauh sejak dahulu kala, yaitu:
1.    Faktor letak geografis yang strtregis, indonesia terletak di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua amerika dan australia.
2.    Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang di butuhkan oleh bangsa-bangsa lain. Misalnya : rempah-rempah.

C.  Pekembangan Islam di Indonesia
1.    Sumatra
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian Utara seperti Pasai dan Perlak. Para Pedagang dari India yakni bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang merupakan mubalig Islam banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjang Sumut. Mereak menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah di Islamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim. Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya berdakwah kepada  para penduduk biasa, tetapi juga kepada raja-raja kecil hinga berdirilah kejaraan Islam pertama yaitu Samudra Pasai.

2.    Jawa
Islam mulai masuk kepulau jawa tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun nisan makam Siti Fatimah Binti Maemunah dapat dijadikan tonggak awal kedatangan Islam di Jawa. Pertumbuhan masyarakat Muslim disekitar Majapahit sangat erat kaitannya dengan perkembangan hubungan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan pedagang Islam yang telah memiliki kekuatan politik dan ekonomi dikerajaan Samudra Pasai dan Malaka. Untuk masa-masa selanjutnya perkembangan Islam di tanah Jawa dilakukan oelh para ulama dan mubalig yang kemudian dikenal dengan sebutan Wali Sanga atau Sembilan Wali yaitu
1)   Sunan Mualana Malik Ibrahim / Sunan Gersik
2)   Sunan Ampel
3)   Sunan Bonang
4)   Sunan Giri
5)   Sunan Derajat
6)   Sunan Gunung Jati
7)   Sunan Kudus
8)   Sunan Kalijaga
9)   Sunan Muria
3.    Sulawesi
sejak abad ke 15 M Sulawesi sudah didatangi oleh para pedagang muslim dari Sumatra, Malaka dan Jawa. Sebagian kerajaan-kerjaan yang ada di Sulawesi masih memeluk kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Kerjaan yang paling besar yang ada di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa Talo, Bone, dan Sopang.
4.    Kalimantan
Wilayah Kalimantan lekatnya lebih dekat denga pulau Sumatra dan Jawa, ternyata menerima kedatangan Islam lebih belakangan dibanding Sulawesi dan Maluku. Sebelum Islam masuk ke Kalimantan terdapat kerajaan Hindu yang berpusat di negara Dipa, Daha dan Kahuripan yang terletak disungai Nagara dan Amuntai Kimi.
5.    Maluku dan Sekitarnya
Antara tahun 1400 – 1500M Islam telah masuk dan berkembang di Maluku. Mereka yang sudah beragama Islam banyak yang pergi ke Pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk mempelajari Islam. Raja-raja Maluku yang masuk Islam diantaranya Raja Ternate yang kemudian bergelar Sultan Mahrum, Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaludin, Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanudin, Raja Bacan yang masuk Islam pada tahun 1520 M dan bergelar Sultan Zaenal Abidin.

D.  Perkembangan Studi Islam di Indonesia

a)   Lembaga Pendidikan Islam sebelum kemerdekaan Indonesia
Pada akhir abad ke 19 perkembangan pendidikan Islam di Indonesia mulai lahir sekolah model Belanda: sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Sekolah khusus bagi ningrat Belanda, sekolah Vernahuler khusus bagi warga negara Belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah Taman Siswa
Pendidikan Islam mulai dan berkembang pada awal abad ke-20 Masehi dengan berdirinya madrasah Islamiyah yang bersifat formal. Yang melatar belakangi munculnya lembaga Pendidikan Islam di Indonesia yaitu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid merupakan satu-satunya pusat berbagai kegiatan, baik kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, termasuk kegiatan pendidikan. Bahkan kegiatan pendidikan yang berlangsung di masjid dan masih bersifat sederhana kala itu sangat dirasakan oleh masyarakat muslim, maka tidak mengherankan apabila mereka menaruh harapan besar kepada masjid sebagai tempat yang bisa membangun masyarakat muslim yang lebih baik.
Awal mulanya masjid mampu menampung kegiatan pendidikan yang diperlukan masyarakat. Namun karena terbatasnya tempat dan ruang, mulai dirasakan tidak dapat menampung animo masyarakat yang ingin belajar. Maka dilakukanlah berbagai pengembangan secara bertahap hingga berdirinya lembaga pendidikan Islam yang secara khusus berfungsi sebagai sarana menampung kegiatan pembelajaran sesuai dengan tuntutan masyarakat saat itu. Dari sinilah mulai muncul istilah surau, meunasah dan pesantren.
1.    Surau
Istilah surau sebagai lembaga pendidikan Islam muncul di Minangkabau, bahkan istilah ini sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Surau dalam sistem adat Minangkabau adalah kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berfungsi sebagai tempat bertemu, berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil baligh dan orangtua yang uzur. Karena menurut ketentuan adat Minangkabau bahwa laki-laki yang tak punya kamar di rumah orangtua mereka, diharuskan tidur di surau. Kenyataan ini menyebabkan surau memiliki peranan penting dalam pendewasaan generasi Minangkabau; baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan praktis lainnya.
Setelah Islam datang, fungsi surau tidak berubah, hanya saja fungsi keagamaannya semakin penting yang diperkenalkan pertama kali oleh Syeikh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman. Pada masa itu, eksistensi surau di samping sebagai tempat shalat juga digunakan Syekh Burhanuddin sebagai tempat mengajarkan ajaran Islam, khususnya tarekat (suluk) yang dikenal dengan nama tarekat Sattariyah. Melalui tarekat ini, Syekh Burhanuddin menanamkan ajaran Islam kepada masyarakat luas di sekitar Minangkabau.
Semula, lembaga pendidikan surau ini hanya mengajarkan metode membaca Al-Qur’an dan beberapa ilmu Islam seperti aqidah, akhlak, dan ibadah. Waktunyapun dilaksanakan pada malam hari dengan sistem halaqah. Namun secara bertahap sesuai perkembangan zaman, eksistensi surau sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami kemajuan, termasuk waktu pelaksanaan kegiatan belajar tidak lagi hanya pada malam hari saja, tapi sudah dilakukan pada siang hari. Dan sedikitnya ada dua jenjang pendidikan surau pada era ini, yaitu:
1)   Pengajaran Al-Qur’an
Untuk mempelajari Al-Qur’an ada dua macam tingkatan, yakni
a.    Pendidikan Rendah, materi pelajaran pada pendidikan rendah ini mencakup:
 pelajaran memahami ejaan huruf Al-Qur’an dan membaca Al-Qur’an yang dilaksanakan dengan metode praktik dan latihan
1.    pelajaran cara berwudhu dan tata cara shalat yang dilakukan dengan metode praktik dan menghafal
2.    pelajaran tentang keimanan, terutama yang berhubungan dengan sifat dua puluh yang dipelajari dengan metode menghafal melalui lagu
3.    pelajaran akhlak yang dilakukan dengan metode cerita tentang Nabi-Nabi dan orang-orang shaleh.
b.    Pendidikan Atas
Materi pelajaran pada pendidikan atas ini mencakup pendidikan membaca Al-Qur’an dengan lagu, kasidah, barzanji, tajwid, dan kitab perukunan. Lama pendidikan untuk kedua jenis pendidikan tersebut tidak ditentukan. Seorang siswa baru dapat dikatakan tamat bila ia telah mampu menguasai setiap materi yang diajarkan dengan baik.
2)   Pengajian Kitab
Materi pendidikan pada jenjang ini meliputi: ilmu nahwu dan shorf, ilmu fikih, ilmu tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya. Metode pengajarannya adalah dengan membaca sebuah Kitab Arab dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, setelah itu baru diterangkan maksudnya. Adapun penekanan pembelajaran pada jenjang ini mengandalkan kekuatan hafalan. Maka agar siswa mampu menghafal dengan cepat, metode pengajarannya dilakukan melalui cara melafalkan materi dengan lagu-lagu.
Sebagai lembaga pendidikan Islam, posisi surau sangat strategis baik dalam proses pengembangan Islam maupun pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam. Bahkan surau telah mampu mencetak para ulama besar Minangkabau dan menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama dalam mengusir penjajah Belanda. Namun, seiring perkembangan zaman, metode pengajaran surau dianggap sudah ketinggalan zaman, sehingga harus dimodernisasi. Maka tak heran, bila pendidikan surau saat ini sangat sulit dijumpai.
2.    Meunasah
Istilah meunasah sebagai lembaga pendidikan Islam dikenal pada masyarakat Aceh. Sebagian orang mengatakan bahwa istilah meunasah ini berasal dari kata Arab, yaitu Madrasah. Meunasah secara fisik merupakan satu bangunan yang terdapat di setiap gampong yang berbentuk seperti rumah panggung tetapi tidak mempunyai jendela dan bagian-bagian lain. Bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar dan berdiskusi serta membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Sama seperti kebiasaan anak laki-laki di Minangkabau yang tinggal di surau, maka para anak muda serta laki-laki yang belum menikah di Aceh juga menjadikan meunasah sebagai tempat bermalam mereka. Di sinilah anak-anak sejak usia dini di gampong, dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan agama dan kemasyarakatan.
Meunasah dipimpin oleh seorang teungku meunasah. Biasanya, setiap kampung di Aceh memiliki minimal satu meunasah. Gampong yang memiliki beberapa meunasah, tetap dipimpin oleh satu teungku, sebagai pasangan dua sejoli dengan keuchik. Maksudnya, walau dalam gampong terdapat beberapa meunasah, kedudukan keuchik dan teungku meunasah tetap seperti ayah dan ibu (yah dan ma) yang memiliki tugas dan wewenang masing-masing serta saling membantu satu sama lain.
Mengenai peran meunasah, Syofwan Idris (2001) sebagaimana yang dikutip oleh Sulaiman Tripa dalam artikel yang dimuat di http://www.acehinstitute.org menyebutkan bahwa Meunasah sebenarnya bukan saja lembaga pendidikan tetapi merupakan lembaga yang banyak sekali fungsinya dalam masyarakat gampong. Di sini orang mengaji, berjama’ah, bermusyawarah, mengadili pencuri, mengadakan dakwah, mengadakan kenduri, sebagai pos keamanan dan tempat tidur anak muda yang belum kawin, dan duda yang berpisah dengan isterinya. Dan lembaga seperti ini memberikan pendidikan yang sangat komprehensif, aktual dan terpadu kepada anak-anak.
Sebenarnya dalam budaya adat Aceh, peran meunasah dan masjid merupakan satu kesatuan yang tak pernah bisa dipisahkan. Kedua lembaga ini merupakan simbol/logo identitas keacehan yang telah berkontribusi fungsinya membangun pola dasar SDM masyarakat menjadi satu kekuatan semangat yang monumental, historis, herois dan sakralis. Fungsi lembaga ini memiliki muatan nilai-nilai aspiratif, energis, Islamis, menjadi sumber inspiratif, semangat masyarakat membangun penegakan keadilan dan kemakmuran serta menentang kedhaliman dan penjajahan. Fungsi-fungsi itu antara lain :
  1. Fungsi Meunasah, sebagai tempat ibadah/shalat berjamaah; dakwah dan diskusi; musyawarah/mufakat; penyelesaian sengketa/damai; pengembangan kreasi seni; pembinaan dan posko generasi muda; forum asah terampil/olahraga; serta sebagai pusat ibukota/pemerintahan gampong.
  2. Fungsi Mesjid, sebagai tempat ibadah/Jum`at; pengajian pendidikan; musyawarah/ penyelesaian sengketa/damai; dakwah; pusat kajian dan sebaran ilmu; acara pernikahan; serta sebagai simbol persatuan dan kesatuan umat.
Dari poin-poin di atas menunjukkan bahwa fungsi meunasah dan masjid memiliki peran yang sama, yakni sebagai lembaga pengkaderan dan pembinaan umat yang diharapkan mampu melahirkan generasi serta masyarakat berkualitas guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang aman damai, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar, keberadaan meunasah sangat mempunyai arti di Aceh. Semua orangtua memasukkan anaknya ke meunasah. Dengan kata lain, meunasah merupakan madrasah wajib belajar bagi masyarakat Aceh masa lalu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila orang Aceh mempunyai fanatisme agama yang tinggi. Dan bahkan hingga saat ini, eksistensi meunasah tetap dipertahankan sebagai lembaga pendidikan Islam non formal.
Selain meunasah, di Aceh juga sudah ada dan berkembang sejak lama lembaga pendidikan Islam yang bernama “Dayah”. Dayah adalah kata yang digunakan untuk sebuah lembaga pendidikan Islam yang sama dan setara dengan pesantren. Dan sehubungan dengan kesamaan makna dan fungsi antara dayah dan pesantren, maka untuk pembahasan mengenai “dayah” akan penulis rangkumkan dalam pembahasan pesantren.
3.    Pesantren
Menurut asal katanya, pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian, pesantren artinya tempat para santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasojo bahwa Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non-klasikal, dimana seorang kiayi mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. Bagi masyarakat Aceh, istilah pesantren lebih dikenal dengan nama “dayah”.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam asli Indonesia dan memiliki akar sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan sistem pendidikan pesantren bahkan telah ada jauh sebelum kedatangan Islam di negeri ini, yaitu pada masa Hindu-Budha. Pada saat itu pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang berfungsi mencetak elit agama Hindu-Budha. Sehingga dalam hal ini tak heran bila C.C. Berg berpendapat bahwa istilah “santri” itu berasal kata India Shastri, berarti orang-orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Kata Shastri sendiri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku Agama atau pengetahuan. Terlepas benar tidaknya istilah tersebut, yang jelas kehadiran lembaga pendidikan pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat Islam hingga saat ini, serta telah menjadi pusat berlangsungnya proses pembelajaran ilmu-ilmu keislaman bagi masyarakat Indonesia. Bahkan dalam perspektif kependidikan, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang tahan terhadap berbagai arus modernisasi. Dengan kata lain, pesantren dapat memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang mampu bersaing dan sekaligus bersanding dengan sistem pendidikan modern yang bermunculan dari waktu ke waktu.
Bertitik tolak dari akar sejarah pesantren atau sebut saja asal-usul pesantren tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia. Walisongo adalah tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa abad 16 – 15 yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat. Keunikan yang dimaksud adalah
Hampir semua pesantren di Indonesia ini dalam mengembangkan pendidikan kepesantrenannya berkiblat pada ajaran Walisongo. Kemudian seiring perkembangan zaman dan keilmuwan yang dimiliki oleh para pendiri pesantren sesudahnya, maka corak pesantren-pesantren di Indonesia mulai terlihat bervariasi.
Meski begitu, secara umum ciri-ciri pesantren dapat kita lihat sebagai berikut:
1.     ada Kiyai, yang mengajar dan mendidik;
2.     ada santri, yang belajar dari kiyai;
3.     ada masjid, tempat untuk menyelenggarakan pendidikan, shalat berjamaah dan sebagainya; dan
4.     ada pondok, tempat untuk tinggal para santri.
Di samping ciri-ciri di atas, ada juga pesantren yang memiliki fasilitas-fasilitas pendukung lainnya, seperti sarana olahraga dan ruang keterampilan dan pelatihan, yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pesantren itu sendiri.
Mengenai materi pelajaran dan metode pengajaran, biasanya pesantren mengajarkan kitab-kitab dalam bahasa Arab, materi tersebut mencakup pelajaran Al-Qur’an, tajwid serta tafsir, aqa’id dan ilmu kalam, fiqih dan ushul fiqh, hadits dan musthalahul hadits, bahasa Arab dengan ilmu-ilmu qawaidhnya, tarikh, mantiq dan tasawuf. Dan metode yang digunakan adalah metode ceramah, hafalan, bahkan ada juga yang menggunakan sistem klasikal dengan metode pembelajaran yang bervariasi. Di beberapa pesantren, ada yang selain memberikan pelajaran dan pendidikan agama, juga memberikan wiridan, seperti Naqsabandiyah, Syatariyah, dan lain-lain. Ada pula yang menambahkan kegiatan-kegiatan di luar pendidikan formal, seperti pramuka, ketrampilan, olahraga dan sebagainya, sesuai kemampuan masing-masing pondok pesantren. Meski begitu, satu hal yang sama dari pondok-pondok pesantren tersebut adalah pada penekanan pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang menjadi ciri khas dari pesantren tersebut.
Selain itu, ada beberapa ciri dan keunikan yang sangat menonjol dalam kehidupan pesantren, sehingga membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya. Sedikitnya ada delapan ciri pendidikan pesantren tersebut, yaitu:
  1. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kiayi.
  2. Tunduknya santri kepada kiyai.
  3. Hidup hemat dan sederhana.
  4. Semangat hidup mandiri.
  5. Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan.
  6. Penekanan pada pendidikan disiplin.
  7. Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan.
  8. Santri memperoleh kehidupan agama yang baik
b)      Lembaga Pendidikan Islam sesudah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka dan mempunyai Departemen Agama, maka secara instantional Departemen Agama diserahi kewajiban dan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan pendidikan agama dalam lembaga-lembaga tersebut. Lembaga pendidikan agama islam ada yang berstatus negeri dan ada yang berstatus swasta seperti :
1.    Madrasah Ibtidaiyah Negeri (Tingkat Dasar)
2.    Madrasah Tsawiyah Negeri (Tingkat Menengah Pertama)
3.    Madrasah Aliyah Negeri (tingkat Menengah Atas). Dahulunya berupa Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN)
4.    Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kemudian berubah menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri)
c)    Tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia
1.    Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869 – 1923)
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dariKH.Abubakar Bin Kyai Sulaiman, Khatib di masjid besar (jami’) Kesulitan Yogyakarta, Ibunya adalah puteri Haji Ibrahim seorang penghulu.

2.    Kyai Haji Hasyim Asy’ari (1871-1947)
K.H. Hasyim asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di Jombang Jawa Timur, mula-mulai ia belajar agama Islam pada ayahnya sendiri Kyai Asy’ari Kemudian ia belajar ke pondok pesantren Purbalinggo. Kemudian pindah lagi ke Plangitan, Semarang, Madura, dan lain-lain.
Maka di bawah pimpinan KH. Ilyas dimasukkan pengetahuan umum ke dalam Madrasah Salafiyah, yaitu:
1.    Membaca dan menulis huruf latin
2.    Mempelajari bahasa Indonesia
3.    Mempelajari ilmu bumi dan sejarah Indonesia
4.    Mempelajari ilmu berhitung
3.    KH Abdul Halim (1887 – 1962)
KH. Abdul Halim lahir di Ciberelang, Majalengka pada tahun 1887 M. Dia adalah pelopor gerakan pembaharuan di daerah Majalenga, Jawa Barat, yang kemudian berkembang menjadi persyerikatan Ulama, dimulai pada tahun 1911, yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 M/9 Rajab 1371 H.

SUMBER :


Daulay, Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia,Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2007
Haningsih, Sri, Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia, Jurnal Pendidikan Islam El-Tarbawi, No. 1, vol. I, 2008
http://noexs.blogspot.com/2009/11/sejarah-perkembangan-studi-islam_1046.html Nasution, Khoruddin, Dr., MA., Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA. 2004.
Subhan, Arief, Mencari Titik Tolak: Asal Usul Pesantren, Ciputat: Jurnal Madrasah Vol 2, No. 4, 1999

Tripa, Sulaiman, Meunasah, Ruang Serbaguna Masyarakat Aceh, Aceh Institute: Riset & Artikel,  http://www.acehinstitute. Dalam Sistem Sosial Masyarakat Aceh, Aceh Forum Community: http://www.acehforum.or.id org

Komentar

Postingan Populer