CONTOH REVIEW JURNAL KOMUNIKASI
IDENTITAS JURNAL
JUDUL :
MEDIA, POLITIK dan KEKUASAAN
(Analisis
Framing Model Robert N. Entman tentang Pemberitaan Hasil Pemilihan Presiden, 09
Juli 2014 di TV One dan Metro TV)
PENULIS :
Ayub DwI Anggoro
JURNAL :
Jurnal Aristo
VOLUME/NOMOR/TAHUN : Volume
02/Nomor 02/Juli 2014
HALAMAN : 25-52
REVIEW
Artikel jurnal yang akan saya bahas merupakan
artikel jurnal yang ditulis oleh Ayub Dwi Anggoro, mahasiswa Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Ayub Dwi Anggoro
yang selanjutnya akan saya sebut dengan ‘penulis’, memulai tulisannya
dengan memaparkan fenomena pemilu tahun 2014 yang berbeda dari tahun-tahun
sebelumnya, menurutnya era kecanggihan dan perkembangan teknologi komunikasi
telah melahirkan satu dinamika baru dalam pemilu tahun 2014. Pola-pola kampanye
konvensional seperti pengerahan massa menjadi tidak begitu populer, persaingan yang
ramai justru terjadi lewat jaringan media massa baik cetak, elektronik ataupun
media internet.
Selanjutnya, mengenai latar belakang
penelitian. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan hasil
perhitungan cepat dengan skema pemberitaan yang disiarkan kepada publik. Tv One
memberitakan bahwa pasangan Prabowo – Hatta sebagai pemenang pemilu 2014,
hingga mensetting program acara “Presiden pilihan Rakyat” dengan
menampilkan hasil quick count serta melibatkan mayoritas statemen kubu
pasangan Prabowo-Hatta yang mendeklarasikan kemenangannya, berbeda terbalik
dengan Metro Tv yang menampilkan kubu Jokowi-JK sebagai pemenang pemilu 2014
dengan mensetting program “Presiden Pilihan Kita” dengan menampilkan hasil quick
count serta melibatkan mayoritas statemen kubu Jokowi- JK sebagai
narasumber untuk deklarasi kemenangan. Perbedaan isi berita tersebut tentu menjadi
permasalahan yang besar bagi publik. Kebingungan atas fakta suatu berita bisa
berakibat menjadi gejolak di masyarakat. Apalagi hal tersebut menyangkut hasil
pemilihan presiden kedepan untuk negara Indonesia.
Selanjutnya mengenai landasan teori. Landasan
teori yang digunakan dalam penelitian tersebut diantaranya; Analisis Framing,
Konstruksi Realitas Sosial, Media dan Berita dalam Perspektif Konstruksionis. Berikut
akan saya tulis secara ringkas mengenai landasasan teori yang digunakan oleh
penulis dalam penelitian.
1)
Analisis Framing
Framing
adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media. Penyajian tersebut
dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek tertentu dan
membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas. Secara sederhana
analisis framing dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana
realitas (peristiwa, aktor, kelompok atau apa saja) dibingkai oleh media.
Ada beberapa
model pendekatan analisis framing yang dapat digunakan untuk menganalisis teks
media, salah satunya adalah model analisis Robert N. Entman. Entman melihat
framing dalam dua dimensi besar: a) Seleksi isu; aspek ini berhubungan dengan
pemilihan fakta. Media akan menseleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang
lain. b) Penonjolan aspek tertentu dari suatu isu; aspek ini berhubungan dengan
penulisan fakta, hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar dan citra tertentu untuk
ditampilkan kepada khalayak. Untuk mengetahui bagimana pembingkaian yang dilakukan
oleh media, terdapat sebuah perangkat framing yang dikemukakan Entman yang
dapat menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh
wartawan. Entman membagi perangkat framing ke dalam empat elemen sebagai
berikut;
a) Define
Problems
(pendefinisian masalah); elemen ini merupakan master frame/ bingkai yang paling
utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan.
b) Diagnose
causes
(memperkirakan penyebab masalah); merupakan elemen framing untuk membingkai
siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa.
c) Make
moral judgement (membuat pilihan moral); elemen framing yang dipakai untuk
membenarkan/memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat.
d) Treatment
recomendation (menekankan penyelesaian); elemen ini dipakai untuk menilai apa
yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan
masalah. Penyelesaian ini tentu saja sangat tergantung pada bagaimana peristiwa
itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab masalah.
2)
Konstruksi Realitas Sosial
Dalam
penjelasan ontologi paradigma konstruktivis, realitas merupakan konstruksi
sosial yang diciptakan oleh individu. Namun demikian kebenara suatu realitas
sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai
relevan oleh pelaku sosial. Dalam pandangan paradigma definisi sosial, realitas
adalah hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial di
sekelilingnya. Peter L.Berger berpendapat bahwa realitas tidak terjadi begitu
saja tetapi dibentuk dan dikonstruksikan. Hasil akhir yang diperoleh adalah
realitas yang sama dapat dipahami secara berbeda oleh setiap orang tergantung dari
konstruksi yang dilakukan dalam realitas tersebut.
Konstruksi
realitas sosial yang dilakukan wartawan sangat berpotensi untuk menggiring kita
pada pemaknaan wartawan terhadap suatu peristiwa, ditambah ideologi media massa
tempat wartawan bekerja dibangun sesuai visi dan kepentingan perusahaan yang bersangkutan.
3)
Media dan Berita dalam Konsep
Konstruksionis
Pemikiran konstruksionis ini diperkenalkan
oleh Peter L. Berger yang menyatakan bahwa sebuah realitas hadir di hadapan
pembaca setelah melalui sebuah proses konstruksi. Hal ini menyebabkan setiap
orang memiliki konstruksi yang berbeda terhadap realitas yang mumcul di hadapannya.
Menurut Eriyanto, berita yang muncul merupakan sebuah proses konstruksi dengan
suatu peristiwa karena adanya interaksi antara wartawan dengan fakta yang
muncul di lapangan. Media bisa mengkonstruksi realitas, namun juga bisa
menghadirkan hiperrealitas. Hiperrealitas menggiring orang mempercayai sebuah
citra sebagai kebenaran, meski kenyataannya hanya dramatisasi realitas dan
pemalsuan kebenaran, yang “melampaui realitas”. Dalam pandangan konstruksionis,
berita itu ibarat sebuah drama. Ia bukan menggambarkan realitas, melainkan
potret dari arena pertarungan antara berbagai pihak yang berkaitan dengan
peristiwa. Berita bukan representasi dari realitas. Berita yang kita baca pada
dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku
jurnalistik. Semua proses konstruksi (mulai dari memilih fakta, sumber,
pemakaian kata, gambar, sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas
tersebut hadir dihadapan khalayak.
Penelitian oleh Ayub Dwi Anggoro ini
menggunakan metode analisis framing model Robert N. Entman dengan paradigma
konstruksionis yang memandang bahwa tidak ada realitas yang objektif, karena
realitas tercipta melalui proses konstruksi dan pandangan tertentu. Jenis
penelitian tersebut adalah jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatatif. Adapun objek dari penelitian tersebut adalah
berita-berita hasil Pemilihan Presiden tanggal 9 Juli 2014 dengan judul program
berita “Presiden Pilihan Rakyat” oleh TV
One dan judul program berita “Presiden Pilihan Kita” oleh Metro TV. Adapun
pengumpulan data dilakukan dengan cara mengkaji pustaka dan kajian terhadap berita-berita
terkait hasil pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014 di TV One dan Metro TV.
Selanjutnya, mengenai hasil penelitian.
Pendekatan framing model Robert N. Entman pada pemberitaan TV One program acara
”Presiden Pilihan Rakyat” menunjukan bahwa arah pemberitaan dari TV One dalam
progam tersebut memiliki tujuan ideologi dan politik untuk membangun persepsi
publik bahwa Prabowo–Hatta adalah pemenang pemilu presiden versi hitung cepat
lembaga survei. Hal tersebut di indikasikan dari konten-konten pembingkaian
pemberitaan yang dilakukan pada program “Presiden Pilihan Rakyat” yang sangat
didominasi untuk melegitimasi kekuatan politik Prabowo– Hatta sebagai calon
presiden terpilih versi quick count. Define Problems dalam
bingkai program pemberitaan presiden pilihan rakyat adalah upaya penegasan
bahwa pasangan Prabowo–Hatta sebagai pemenang pilpres versi quick count.
Diagnose causes bingkai program pemberitaan tersebut di isi dengan visualisasi
hasil survei yang memenangkan Prabowo-Hatta, tanpa menampilkan hasil survei
lain yang memenangkan Jokowi– JK. Make moral judgement dalam pembingkai
berita tersebut menampilkan euforia atau kegembiraan para pendukung Prabowo-Hatta
yang yakin atas kemenangan pasangan yang didukungnya, sama yakinnya dengan
pendukung Jokowi – JK yang unggul dari lembaga survei yang memenangkanya. Treatment
Recommendation menampilkan Prabowo–Hatta dengan deklarasi politik atas
kemenangannya.
Sedangkan pendekatan framing model Robert N.
Entman pada pemberitaan Metro TV program acara ”Presiden Pilihan Kita”
menunjukan bahwa arah pemberitaan dari Metro TV dalam progam tersebut memiliki
tujuan ideologi dan politik untuk membangun persepsi publik bahwa Jokowi-JK
adalah pemenang pemilu. Hal tersebut di indikasikan dari konten-konten
pembingkaian pemberitaan yang dilakukan pada program “Presiden Pilihan Kita”
yang sangat di dominasi untuk melegitimasi kekuatan politik Jokowi-JK sebagai
calon presiden terpilih versi quick count. Define Problems dalam
bingkai program pemberitaan “Presiden Pilihan Kita” adalah upaya penegasan
bahwa pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres versi quick count. Diagnose
causes bingkai program pemberitaan tersebut diisi dengan dialog dengan mengundang
para direktur lembaga survei yang memenangkan Jokowi–JK tanpa menampilkan hasil
survei lain yang memenangkan Prabowo-Hatta. Make moral judgement dalam pembingkai
berita tersebut menampilkan euforia atau kegembiraan para tokoh politik
dan keluarga pendukung Jokowi – JK yang yakin atas kemenangan pasangan yang
didukungnya, sama yakinya dengan pendukung Prabowo-Hatta yang unggul dari
lembaga survei yang memenangkanya. Treatment Recommendation menampilkan Jokowi
– JK dengan deklarasi politik atas kemenangannya.
Dari
uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa nilai keberimbangan dan
kenetralitasan berita dan institusi media telah hilang pada pemberitaan program
“Presiden Pilihan Kita” oleh Metro TV dan program berita “Presiden Pilihan
Rakyat” oleh TV One yang keduanya mengupas tentang hasil pemilihan presiden
pada tanggal 09 Juli 2014. TV One membingkai program pemberitaan yang
mencitrakan pasangan Prabowo-Hatta sebagai pemenang pemilu 2014-2019, sedangkan
Metro TV mencitrakan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang pemilu 2014-2019. Dari
analisis tersebut ditemukan keberpihakan media pada pasangan calon presiden dan
wakil presiden dalam konten pemberitaan yang disiarkan.
Komentar
Posting Komentar