SASARAN DAKWAH
SASARAN DAKWAH BERDASARKAN
QS. AT-TAHRIM: 6, QS. AN-NISA’: 136 DAN QS. ALI ‘IMRAN: 64
QS. AT-TAHRIM: 6, QS. AN-NISA’: 136 DAN QS. ALI ‘IMRAN: 64
II.1
Teks dan Terjemah Ayat
a)
QS.
At-Tahrim: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: ٦)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS.
at-Tahrîm: 6)
b)
QS.
An-Nisa’: 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ
مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (النساء: ١٣٦)
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab
yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang
itu telah sesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisâ’: 136)
c)
QS.
Ali ‘Imran: 64
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ
شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (آل عمران: ٦٤)
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa
tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai
tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah)".” (QS. Âl-´Imrân: 64)
II.2
Asbab an-Nuzul Ayat
a)
QS. At-Tahrim: 6
Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas, ia berkata telah
berkata Umar, “Istri-istri Nabi saw. bersepakat untuk mogok terhadap beliau.
Lalu aku berkata, mudah-mudahan jika beliau telah menceraikan mereka, Allah
akan memberi ganti untuk beliau istri-istri yang lebih baik dari kamu semua.
Lalu turunlah ayat ini.[1][1]
Telah diriwayatkan dari Anas, dari Umar ra. berkata, “Telah sampai
kepadaku dari sebagian ibu-ibu kita bahwa ibu-ibu kaum muslimin berlaku keras
dan menyakiti Rasulullah saw. lalu aku menemui mereka satu persatu untuk aku
nasehati dan aku larang agar tidak menyakiti Rasulullah saw. Dan aku katakan,
‘Jika kamu menolak maka Allah akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik
dari pada kamu.’ Sehingga akupun datang kepada Zainab, ia mengatakan, ‘Wahai
Ibnul Khattab, sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menasehati istri-istrinya
sehingga engkau yang akan menasehati mereka?” Lalu Allah menurunkan ayat ini.[2][2]
b)
QS. An-Nisa’: 136
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ini diturunkan berkenaan dengan
Abdu ‘I-Lah bin Salam, Asad dan Usaid yang keduanya putra Ka’ab, Tsa’labah bin
Qais, Salam bin saudara perempuan Abdu ‘I-Lah bin Salam, dan Yamin bin Yamin.
Mereka datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Kami beriman kepadamu dan
kitabmu, kepada Musa dan Taurat, dan kepada ‘Uzair; tetapi kami ingkar kepada
selain kitab-kitab dan rasul-rasul itu”. Maka, Rasulullah saw. bersabda,
“Bahkan, hendaknya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, beserta
kitab-Nya, al-Qur’an, dan seluruh kitab yang diturunkan sebelum itu.” Mereka
berkata, “Kami tidak akan melakukannya”. Maka turunlah ayat ini, kemudian
mereka semua beriman.[3][3]
Dikatakan, bahwa khitab ini diarahkan kepada kaum Mu’minin
secara keseluruhannya, dan maknanya adalah: hendaklah kalian bertambah tenang
dan yakin di dalam beriman, dan berimanlah kalian kepada Rasul-Nya yang
merupakan penutup para Nabi, kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dan
kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul sebelumnya. Sebab, belum
pernah Allah membiarkan para hamba-Nya dalam masa kapan pun dalam keadaan tidak
menerima keterangan dan petunjuk.[4][4]
c)
QS. Ali ‘Imran: 64
Muhammad Nasib ar-Rifa’i mengatakan bahwa Ia telah menceritakan
dalam syarah Bukhari dalam peiwayatannya dari jalan az-Zuhri dengan sanad yang
sampai kepada Abu Sufyan, dalam kisah bertemunya Sufyan dengan Kaisar. Kaisar
menanyai Sufyan ihwal keturunan, sifat, dan penampilan Rasulullah serta apa yang diserukannya. Maka,
Sufyan menceritakan keseluruhannya secara jelas, padahal pada saat itu Abu
Sufyan seorang yang musyrik. Dia belum masuk Islam. Hal itu terjadi setelah
perjanjian Hudaibiyah dan sebelum penaklukan Mekah, sebagaimana hal itu
dijelaskan dalam hadits Bukhari. Tujuan kisah itu ialah Bukhari ingin
meriwayatkan demikian: Kemudian disampaikanlah surat dari Rasulullah saw. lalu
Kaisar membacanya, yang isinya,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ
اللهِ إلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى،
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ؛ أَسْلِمْ تَسْلَمْ
يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ
إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ، وَ(يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ
سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ
بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ)
“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah untuk Heraklius
pembesar Romawi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada oang yang mengikuti
petunjuk. Amma ba’du.masuk islamlah niscaya Allah memberimu pahala dua kali.
Jika kamu berpaling maka kamu akan memiul dosa kaum arisiyyin. Katakanlah, ‘Hai
Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara
kami dan kamu, yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, kita tidak
mempersekutukan-Nya dengan apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian
yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah,
‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.’”[5][5]
Ibnu Ishak dan yang lainnya mengatakan bahwa awal surah Ali ‘Imran
sampai 80 ayat yang pertama diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Az-Zuhri
mengatakan, “Mereka adalah orang yang pertama kali menyerahkan jizyah.”
Tidak diragukan lagi bahwa ayat jizyah diturunkan setelah penaklukan
Mekah. Lalu, apa hubungannya antara penyatuan ayat 64 ke dalam keseluruhan isi
surat untuk Heraklius, serta kaitannya dengan pendapat Ibnu Ishak dan az-Zuhri?
Jawabannya adalah dapat diberikan dari berbagai aspek. (1) Kemungkinan ayat itu
diturunkan dua kali: sebelum Hudaibiyah dan setelah penaklukan Mekah. (2)
Permulaan surah Ali ‘Imran hingga surat ini diturunkan berkaitan dengan utusan
Najran. Jadi, ayat ini diturunkan sebelum peristiwa itu. (3) Datangnya utusan
Najran kemungkinan terjadi sebelum Hudaibiyah dan memilih perdamaian daripada
ber-mubahalah, tanpa membayar jizyah. (4) Kemungkinan bahwa
tatkala Rasulullah saw. menyuruh menulis ayat ini dalam suratnya kepada
Heraklius, ayat itu belum diturunkan. Kemudian ayat 64 ini diturunkan
bertepatan dengan pendiktean surat Nabi saw..[6][6]
II.3 Penjelasan dan Tafsir Ayat
a)
QS. At-Tahrim: 6
Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka,” yaitu kamu perintahkan dirimu dan
keluarganya yang terdiri dari istri, anak, saudara, kerabat, sahaya wanita dan
sahaya laki-laki untuk taat kepada Allah. Dan, kamu larang dirimu beserta semua
orang yang berada di bawah tanggung jawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan
kepada Allah. Kamu ajari dan didik mereka serta pimpin mereka dengan perintah
Allah. Kamu perintahkan mereka untuk melaksanakannya dan kamu bantu mereka dalam
merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka
cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim, yaitu
mengajarkan kepada orang yang berada di bawah tanggung jawabnya segala sesuatu
yang telah diwajibkan dan dilarang oleh Allah Ta’ala kepada mereka.[7][7]
Makna ayat di atas sejalan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Saburah bahwa Rasulullah saw. bersabda,
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ فَإذَا
بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبوْهُ عَلَيْهَا
“Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat bila telah mencapai
usia tujuh tahun. Bila telah mencapai umur sepuluh tahun, pukullah mereka bila
tidak mau mengerjakannya.”
Lafal hadits ini dari Abu Dawud, dan Tirmidzi mengatakan, “ Ini
adalah hadits hasan.” Para ahli fiqh mengatakan, demikian pula halnya dengan
puasa, agar anak-anak terlatih dalam melakukan peribadatan sehingga di kala
mereka dewasa nanti mereka akan tetap menjalani hidup dengan ibadah dan ketaatan,
menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran.[8][8]
Telah diriwayatkan, bahwa Umar berkata ketika turun ayat itu,
“Wahai Rasulullah, kita menjaga diri sendiri. Tetapi bagaimana kita menjaga
keluarga kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Kamu larang mereka mengerjakan apa
yang dilarang Allah untukmu, dan kamu perintahkan kepada mereka apa yang
diperintahkan Allah kepadamu. Itulah penjagaan antara diri mereka dengan
neraka.”[9][9]
Telah dikeluarkan oleh Ibnul Munzir dan Al-Hakim di dalam Jama’ah
Akharin, dari Ali Karramallahu Wajhah, bahwa dia mengatakan tentang ayat
itu, “Ajarilah dirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka.”[10][10]
Allah swt. berfirman, “Yang bahan bakaranya adalah manusia dan
batu,” yaitu yang kayu bakarnya terdiri atas manusia dan jin. “Al-Hijarah”
dalam ayat ini ada yang mengatakan sebagai patung-patung yang mereka disembah.
Ibnu Mas’ud dan yang lain mengatakan, “Batu belerang.” Dan ditambahkan oleh
Mujahid, “Batu yang baunya lebih busuk daripada bangkai.” Demikian diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Hatim.[11][11]
Firman Allah swt., “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,”
yaitu yang tabiatnya kasar. Allah telah mencabut dari hati-hati mereka rasa
kasih sayang terhadap orang-orang kafir. “Yang keras,” yaitu susunan tubuh
mereka sangat keras, tebal, dan penampilannya yang mengerikan. Wajah-wajah
mereka hitam dan taring-taring mereka menakutkan. Tidak tersimpan dalam hati
masing-masing mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir, walaupun
sebesar biji dzarrah.[12][12]
Allah berfirman, “Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Yaitu, mereka tidak pernah menangguhkan bila datang perintah dari Allah
walaupun sekejap mata, padahal mereka bisa saja melakukan hal itu dan mereka
tidak mengenal lelah. Mereka itulah para malaikat Zabaniah – kita berlindung
kepada Allah dari mereka.[13][13]
Ayat enam diatas menggambarkan bahwa
dakwah dan pendidikan harus bermula di rumah. Ayat di atas walau secara
redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya
tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan
ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan
puasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua
orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing
sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya.
Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga
yang diliputi oleh nilai-nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang
harmonis.
Jadi, perintah berdakwah yang
pertama kali adalah kepada diri sendiri dan keluarga. Karena dari keluarga
itulah akan terbentuk umat. Dari dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam.
Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup,
bersamaan penilaian terhadap Islam.
b)
QS. An-Nisa’: 136
Firman Allah swt. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا آمِنُوْا , ayat ini diturunkan dan ditujukan untuk
semua orang yang beriman, makna ayat tersebut adalah wahai orang-orang yang
berbuat benar, tunjukkan kebenaran yang kalian lakukan dan teruslah kalian
berada pada garis kebenaran itu, وَالْكِتَابِ الَّذِى
نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ “Dan kepada Kitab yang Allah turunkan
kepada rasul-Nya,” maksudnya adalah al-Qur’an, وَالْكِتَابِ
الَّذِى أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ “Serta Kitab yang Allah turunkan
sebelumnya,” artinya kepada setiap kitab yang diturunkan kepada para Nabi.
Ibnu Katsir, Abu Umar, dan Ibnu ‘Amir membaca dengan Qira’ah “nuzzila”, dan
“unzila” dengan harakat dhammah, sedangkan yang lain membacanya dengan
Qira’ah “nazzala” dan “anzala” dengan harakat fathah, pendapat
lain mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan kepada orang yang beriman kepada
Muhammad dari kalangan para Nabi terdahulu. Pendapat lain mengatakan bahwa
khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik, makna ayat menurut
kelompok ini adalah wahai orang-orang yang beriman secara zhahir, murnikanlah
keimananmu kepada Allah. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dalam
ayat ini adalah orang-orang musyrik, makna ayat menurut golongan ini adalah
wahai orang-orang yang beriman kepada Latta, Uzza dan Thaghut (syeitan),
berimanlah kalian kepada Allah, dan percayalah kalian kepada Allah juga kepada
kitan-kitab-Nya.[14][14]
Allah Ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman supaya masuk ke
dalam syari’at, cabang, dan rukun iman. Perintah ini bukan berarti mengadakan
sesuatu yang sudah ada, namun merupakan penyempurnaan dan pengokohan terhadap
sesuatu yang sempurna serta melestarikannya, sebagaimana yang dikatakan oleh
seorang mukmin dalam shalatnya, “tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”
yang berarti perlihatkanlah kepada kami, tambahkanlah hidayah pada kami, dan
kokohkanlah kami di atasnya. Maka Allah menyuruh mereka beriman kepada Dia dan Rasul-Nya.[15][15]
Firman Allah Ta’ala, “Dan kepada al-Kitab” yakni al-Qur’an “yang
telah diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kepada al-Kitab yang telah diturunkan
sebelumnya.” “Al-Kitab” di sini merupakan jenis yang mencakup
seluruh kitab terdahulu. Terhadap al-Qur’an, Allah mengatakan nazzala karena
Dia menurunkannya kelompok demi kelompok dan bagian demi bagian menurut
peristiwa yang ada dan selaras dengan apa yang dibutuhkan oleh hamba dalam
kehidupan dunia dan akhiratnya. Adapun kitab-kitab terdahulu diturunkan
sekaligus. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan kepada Kitab yang telah
diturunkan sebelumnya.” Kemudian Allah berfirman, “Barangsiapa yang
kafir kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul-Nya, dan hari akhir,
maka sesungguhnya dia telah sesat dengan sejauh-jauhnya,” yakni sesungguhnya
dia telah keluar dari jalan hidayah dan sangat menyimpang jauh dari tujuan.[16][16]
c)
QS. Ali ‘Imran: 64
Selesai sudah Nabi Muhammad saw. menghadapi delegasi Kristen
Najran, tetapi Ahl al-Kitab bukan hanya mereka, Ahl al-Kitab terdiri dari semua
orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan sementara ulama memasukkan dalam
pengertiannya kelompok yang diduga memiliki kitab suci. Ahl al-Kitab ada yang
bertempat tinggal di Medinah, atau di daerah-daerah lain, maka terhadap mereka
semua, bahkan sampai akhir zaman, pesan ayat ini dianjurkan.[17][17]
Sedemikian besar kesungguhan dan keinginan Nabi Muhammad saw. agar
orang-orang Nasrani menerima ajakan Islam, maka Allah swt. memerintahkan beliau
untuk mengajak mereka dan semua pihak dari Ahl al-Kitab termasuk orang-orang
Yahudi agar menerima satu tawaran yang sangat adil, tetapi kali ini dengan cara
yang lebih simpatik dan halus dibandng dengan cara yang lalu. Ajakan ini, tidak
memberi sedikit pun kesan kelebihan pun bagi beliau dan umat Islam, beliau
diperintah Allah mengajak dengan berkata: “Wahai Ahl al-Kitab,” demikian
panggilan mesra yang mengakui bahwa mereka pun dianugerahi Allah kitab suci
tanpa menyinggung perubahan-perubahan yang mereka lakukan, “Marilah menuju
ke ketinggian.” Kata ketinggian dipahami dari kata (تعالوا)
ta’alaw yang terambil dari kata yang berarti tinggi.
Marilah menuju ke ketinggian, yaitu suatu kalimat ketetapan yang lurus,
adil yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, karena itulah
yang diajarkan oleh para nabi dan rasul yang kita akui bersama, yakni tidak
kita sembah kecuali Allah, yakni tunduk patuh lagi tulus menyembah-Nya
semata dan tidak ada persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun serta
dengan sedikit persekutuan pun, dan tidak pula sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selan Allah, yakni kita
tidak menjadikan para pemimpin agama kita menghalalkan atau mengharamkan
sesuatu yang tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah. Jika mereka
berpaling menolak ajaran ini – walaupun hal penolakan mereka diragukan
mengingat jelasnya bukti-bukti. Ini dipahami dari kata (إن)
in yang digunakan ayat ini – maka katakanlah: ‘Saksikanlah, ketahuilah
dan akuilah bahwa kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri kepada
Allah’, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.”[18][18]
Pernyataan terakhir ini dipahami oleh sementara mufasir bermakna,
“Jika mereka berpaling menolak ajaran ini, maka semua dalil telah membuktikan
kekeliruan kalian, dan dengan demikian kalian harus mengakui bahwa kami – bukan
kalian – orang-orang yang benar-benar muslim, yakni menyerahkan diri kepada
Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Ibrahim as. dan diwasiatkan olehnya.”[19][19]
Pernyataan ini juga dapat bermakna, “Kalau kalian berpaling dan
menolak ajakan ini, maka saksikan dan akuilah bahwa kami adalah orang-orang
muslim, yang akan melaksanakan secara teguh apa yang kami percayai. Pengakuan
kalian akan eksistensi kami sebagai muslim – walau kepercayaan kita berbeda –
menuntut kalian untuk membiarkan kami melaksanakan tuntunan agama kami. Karena
kami pun sejak dini telah mengakui eksistensi kalian tanpa kami percaya apa
yang kalian percayai. Namun demikian kami mempersilahkan kalian melaksanakan
agama dan kepercayaan kalian.” (لكم دينكم ولي
دين) lakum dinukum wa liya din/ bagimu agamamu bagiku agamaku.[20][20]
II.4 Kandungan
Ayat tentang Sasaran Dakwah
Dalam surat at-Tahrim ayat enam ini firman Allah ditujukan kepada
orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya kemudian keluarganya dari siksa
api neraka. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk taat kepada-Nya agar kita
selamat dari siksa-Nya.
Kalimat perintah dalam ayat
ini menggambarkan bahwa sebagai orang yang beriman, kita wajib berdakwah. Dan
kegiatan dakwah tersebut harus dimulai dari diri sendiri. Setelah kita mampu
mengoreksi diri sendiri dengan pesan-pesan dakwah, maka kita diwajibkan untuk
berdakwah kepada orang lain. Sesuai dengan ayat ini, maka yang harus diutamakan
adalah berdakwah kepada keluarga terdekat terlebih dahulu. Karena keluarga
adalah unsur paling dasar bagi terbentuknya umat. Dan dari umat tersebut akan
terbentuk masyarakat Islam.
Caranya adalah membina diri kita terlebih dahulu dalam mendalami
ajaran-ajaran Islam kemudian setelah kita mampu melaksanakannya, maka kita
wajib mendakwahkan kepada keluarga terdekat kita mulai dari orang tua, istri,
anak, adik, kakak dan karib kerabat, dan seterusnya. Semua itu adalah tanggung
jawab kita. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman kita tidak boleh pasif.
Sementara itu,
dalam surat an-Nisa’ ayat 136 Allah swt. menyeru kaum Muslimin agar mereka
tetap beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya Muhammad saw., kepada al-Qur’an
yang diturunkan kepadanya, dan kepada Kitab-kitab yang diturunkan kepada
Rasul-rasul sebelumnya. Kemudian Allah swt. mengancam orang-orang yang
mengingkari seruan-Nya.
Ayat ini juga menekankan bahwa iman kepada Kitab-kitab Allah dan
kepada Rasul-rasul-Nya, adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Tidak boleh beriman kepada sebagian Rasul dan Kitab saja, tetapi mengingkari
bagian yang lain seperti dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila
ada orang yang mengingkari sebagian Kitab, atau sebagian Rasul, maka hal itu
menunjukkan bahwa ia belum meresapi hakikat iman itu, karena itu imannya tidak
dapat dikatakan iman yang benar, bahkan suatu kesesatan yang jauh dari
bimbingan hidayah Tuhan.
Oleh karena itu, berdakwah kepada orang-orang yang telah beriman
juga penting agar bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Karena keimanan
seseorang bisa bertambah dan berkurang. Selain itu, iman adalah hal yang tidak
sederhana. Iman yang sempurna harus ditempuh melalui jalan yang panjang. Iman
juga harus diperkokoh agar tidak goyang saat menghadapi cobaan.
Kemudian dalam
surat ‘Ali ‘Imran ayat 64 Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.,
agar berdialog dengan ahli kitab Yahudi dan Nasrani secara adil untuk menemukan
persamaan dari ajaran yang telah dibawa oleh para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan kepada
mereka. Kemudian Allah swt. menjelaskan maksud ajakan itu, yaitu agar mereka
tidak menyembah selain Allah serta tidak mempersekutukan-Nya.
Dapat diambil kesimpulan bahwa Allah mewajibkan untuk berdakwah
kepada ahli kitab. Jadi, dakwah bukan hanya kepada orang seagama saja akan
tetapi juga antar lintas agama. Meski penolakannya akan lebih berat dari dakwah
kepada sesama muslim. Karena pada dasarnya umat terdahulu juga memiliki ajaran
yang sama dengan umat muslim, yakni ajaran tauhid sebagaimana yang telah
dijelaskan secara eksplisit melalui ayat tersebut. Tetapi, sumber perpecahan
adalah karena mereka mengikuti kepala-kepala agama dalam hal hukum yang telah
mereka tetapkan. Kemudian, mereka menjadikannya sederajat dengan hukum-hukum
yang diturunkan di sisi Allah.[21]
SUMBER :
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir
al-Maraghi 28. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir
al-Maraghi 5. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir
al-Maraghi 3. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam, 2008. Tafsir al-Qurthubi
5. Jakarta: Pustaka Azzam.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, 1999. Kemudahan dari
Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 1. Jakarta: Gema Insani Press.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, 1999. Kemudahan dari
Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 4. Jakarta: Gema Insani Press.
Quthub, Sayyid, 2000. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di
bawah Naungan al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Shihab, M. Quraish, 2006. Tafsir al-Mishbah: Pesan,
Kesan dan Keserasian al-Qur’an 2. Jakarta: Lentera Hati.
[1][1] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir
al-Maraghi 28, hal. 258.
[2][2] Ibid.
[3][3] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir
al-Maraghi 5, hal. 301.
[4][4] Ibid, hal. 302.
[5][5] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Kemudahan dari
Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 401.
[6][6] Ibid.
[7][7] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Kemudahan dari
Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 4, hal. 560.
[8][8] Ibid, hal. 560-561.
[9][9] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.Cit, hal.
261.
[10][10] Ibid.
[11][11] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Op.Cit, hal.
561.
[12][12] Ibid.
[14][14] Syaikh Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi 5,
hal.983-984.
[15][15] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Op.Cit, hal.
616-617.
[16][16] Ibid, hal. 617.
[17][17] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan,
Kesan dan Keserasian al-Qur’an 2, hal. 114.
[18][18] Ibid, hal. 114-115.
[19][19] Ibid, hal. 115.
[21][21] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir
al-Maraghi 3, hal. 309.
Komentar
Posting Komentar