SASARAN DAKWAH


SASARAN DAKWAH BERDASARKAN
QS. AT-TAHRIM: 6, QS. AN-NISA’: 136  DAN QS. ALI ‘IMRAN: 64

II.1 Teks dan Terjemah Ayat         
a)      QS. At-Tahrim: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: ٦)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrîm: 6)
b)      QS. An-Nisa’: 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (النساء: ١٣٦)
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisâ’: 136)
c)      QS. Ali ‘Imran: 64
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (آل عمران: ٦٤)
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".” (QS. Âl-´Imrân: 64)
II.2 Asbab an-Nuzul Ayat
a)      QS. At-Tahrim: 6
Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas, ia berkata telah berkata Umar, “Istri-istri Nabi saw. bersepakat untuk mogok terhadap beliau. Lalu aku berkata, mudah-mudahan jika beliau telah menceraikan mereka, Allah akan memberi ganti untuk beliau istri-istri yang lebih baik dari kamu semua. Lalu turunlah ayat ini.[1][1]
Telah diriwayatkan dari Anas, dari Umar ra. berkata, “Telah sampai kepadaku dari sebagian ibu-ibu kita bahwa ibu-ibu kaum muslimin berlaku keras dan menyakiti Rasulullah saw. lalu aku menemui mereka satu persatu untuk aku nasehati dan aku larang agar tidak menyakiti Rasulullah saw. Dan aku katakan, ‘Jika kamu menolak maka Allah akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik dari pada kamu.’ Sehingga akupun datang kepada Zainab, ia mengatakan, ‘Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menasehati istri-istrinya sehingga engkau yang akan menasehati mereka?” Lalu Allah menurunkan ayat ini.[2][2]
b)     QS. An-Nisa’: 136
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdu ‘I-Lah bin Salam, Asad dan Usaid yang keduanya putra Ka’ab, Tsa’labah bin Qais, Salam bin saudara perempuan Abdu ‘I-Lah bin Salam, dan Yamin bin Yamin. Mereka datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Kami beriman kepadamu dan kitabmu, kepada Musa dan Taurat, dan kepada ‘Uzair; tetapi kami ingkar kepada selain kitab-kitab dan rasul-rasul itu”. Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Bahkan, hendaknya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, beserta kitab-Nya, al-Qur’an, dan seluruh kitab yang diturunkan sebelum itu.” Mereka berkata, “Kami tidak akan melakukannya”. Maka turunlah ayat ini, kemudian mereka semua beriman.[3][3]
Dikatakan, bahwa khitab ini diarahkan kepada kaum Mu’minin secara keseluruhannya, dan maknanya adalah: hendaklah kalian bertambah tenang dan yakin di dalam beriman, dan berimanlah kalian kepada Rasul-Nya yang merupakan penutup para Nabi, kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dan kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul sebelumnya. Sebab, belum pernah Allah membiarkan para hamba-Nya dalam masa kapan pun dalam keadaan tidak menerima keterangan dan petunjuk.[4][4]
c)      QS. Ali ‘Imran: 64
Muhammad Nasib ar-Rifa’i mengatakan bahwa Ia telah menceritakan dalam syarah Bukhari dalam peiwayatannya dari jalan az-Zuhri dengan sanad yang sampai kepada Abu Sufyan, dalam kisah bertemunya Sufyan dengan Kaisar. Kaisar menanyai Sufyan ihwal keturunan, sifat, dan penampilan  Rasulullah serta apa yang diserukannya. Maka, Sufyan menceritakan keseluruhannya secara jelas, padahal pada saat itu Abu Sufyan seorang yang musyrik. Dia belum masuk Islam. Hal itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah dan sebelum penaklukan Mekah, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits Bukhari. Tujuan kisah itu ialah Bukhari ingin meriwayatkan demikian: Kemudian disampaikanlah surat dari Rasulullah saw. lalu Kaisar membacanya, yang isinya,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ إلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ؛ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ، وَ(يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ)
“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah untuk Heraklius pembesar Romawi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada oang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.masuk islamlah niscaya Allah memberimu pahala dua kali. Jika kamu berpaling maka kamu akan memiul dosa kaum arisiyyin. Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.’”[5][5]
Ibnu Ishak dan yang lainnya mengatakan bahwa awal surah Ali ‘Imran sampai 80 ayat yang pertama diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Az-Zuhri mengatakan, “Mereka adalah orang yang pertama kali menyerahkan jizyah.” Tidak diragukan lagi bahwa ayat jizyah diturunkan setelah penaklukan Mekah. Lalu, apa hubungannya antara penyatuan ayat 64 ke dalam keseluruhan isi surat untuk Heraklius, serta kaitannya dengan pendapat Ibnu Ishak dan az-Zuhri? Jawabannya adalah dapat diberikan dari berbagai aspek. (1) Kemungkinan ayat itu diturunkan dua kali: sebelum Hudaibiyah dan setelah penaklukan Mekah. (2) Permulaan surah Ali ‘Imran hingga surat ini diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Jadi, ayat ini diturunkan sebelum peristiwa itu. (3) Datangnya utusan Najran kemungkinan terjadi sebelum Hudaibiyah dan memilih perdamaian daripada ber-mubahalah, tanpa membayar jizyah. (4) Kemungkinan bahwa tatkala Rasulullah saw. menyuruh menulis ayat ini dalam suratnya kepada Heraklius, ayat itu belum diturunkan. Kemudian ayat 64 ini diturunkan bertepatan dengan pendiktean surat Nabi saw..[6][6]
II.3 Penjelasan dan Tafsir Ayat
a)      QS. At-Tahrim: 6
Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” yaitu kamu perintahkan dirimu dan keluarganya yang terdiri dari istri, anak, saudara, kerabat, sahaya wanita dan sahaya laki-laki untuk taat kepada Allah. Dan, kamu larang dirimu beserta semua orang yang berada di bawah tanggung jawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah. Kamu ajari dan didik mereka serta pimpin mereka dengan perintah Allah. Kamu perintahkan mereka untuk melaksanakannya dan kamu bantu mereka dalam merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim, yaitu mengajarkan kepada orang yang berada di bawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan dan dilarang oleh Allah Ta’ala kepada mereka.[7][7]
Makna ayat di atas sejalan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Saburah bahwa Rasulullah saw. bersabda,
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ فَإذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبوْهُ عَلَيْهَا
“Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat bila telah mencapai usia tujuh tahun. Bila telah mencapai umur sepuluh tahun, pukullah mereka bila tidak mau mengerjakannya.”
Lafal hadits ini dari Abu Dawud, dan Tirmidzi mengatakan, “ Ini adalah hadits hasan.” Para ahli fiqh mengatakan, demikian pula halnya dengan puasa, agar anak-anak terlatih dalam melakukan peribadatan sehingga di kala mereka dewasa nanti mereka akan tetap menjalani hidup dengan ibadah dan ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran.[8][8]
Telah diriwayatkan, bahwa Umar berkata ketika turun ayat itu, “Wahai Rasulullah, kita menjaga diri sendiri. Tetapi bagaimana kita menjaga keluarga kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Kamu larang mereka mengerjakan apa yang dilarang Allah untukmu, dan kamu perintahkan kepada mereka apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Itulah penjagaan antara diri mereka dengan neraka.”[9][9]
Telah dikeluarkan oleh Ibnul Munzir dan Al-Hakim di dalam Jama’ah Akharin, dari Ali Karramallahu Wajhah, bahwa dia mengatakan tentang ayat itu, “Ajarilah dirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka.”[10][10]
Allah swt. berfirman, “Yang bahan bakaranya adalah manusia dan batu,” yaitu yang kayu bakarnya terdiri atas manusia dan jin. “Al-Hijarah” dalam ayat ini ada yang mengatakan sebagai patung-patung yang mereka disembah. Ibnu Mas’ud dan yang lain mengatakan, “Batu belerang.” Dan ditambahkan oleh Mujahid, “Batu yang baunya lebih busuk daripada bangkai.” Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.[11][11]
Firman Allah swt., “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,” yaitu yang tabiatnya kasar. Allah telah mencabut dari hati-hati mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir. “Yang keras,” yaitu susunan tubuh mereka sangat keras, tebal, dan penampilannya yang mengerikan. Wajah-wajah mereka hitam dan taring-taring mereka menakutkan. Tidak tersimpan dalam hati masing-masing mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir, walaupun sebesar biji dzarrah.[12][12]
Allah berfirman, “Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu  mengerjakan apa yang diperintahkan.” Yaitu, mereka tidak pernah menangguhkan bila datang perintah dari Allah walaupun sekejap mata, padahal mereka bisa saja melakukan hal itu dan mereka tidak mengenal lelah. Mereka itulah para malaikat Zabaniah – kita berlindung kepada Allah dari mereka.[13][13]
Ayat enam diatas menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula di rumah. Ayat di atas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan puasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya. Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis.
            Jadi, perintah berdakwah yang pertama kali adalah kepada diri sendiri dan keluarga. Karena dari keluarga itulah akan terbentuk umat. Dari dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam. Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap Islam.
b)     QS. An-Nisa’: 136
Firman Allah swt. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا آمِنُوْا , ayat ini diturunkan dan ditujukan untuk semua orang yang beriman, makna ayat tersebut adalah wahai orang-orang yang berbuat benar, tunjukkan kebenaran yang kalian lakukan dan teruslah kalian berada pada garis kebenaran itu, وَالْكِتَابِ الَّذِى نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ “Dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya,” maksudnya adalah al-Qur’an, وَالْكِتَابِ الَّذِى أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ “Serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya,” artinya kepada setiap kitab yang diturunkan kepada para Nabi. Ibnu Katsir, Abu Umar, dan Ibnu ‘Amir membaca dengan Qira’ah “nuzzila”, dan “unzila” dengan harakat dhammah, sedangkan yang lain membacanya dengan Qira’ah “nazzala” dan “anzala” dengan harakat fathah, pendapat lain mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan kepada orang yang beriman kepada Muhammad dari kalangan para Nabi terdahulu. Pendapat lain mengatakan bahwa khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik, makna ayat menurut kelompok ini adalah wahai orang-orang yang beriman secara zhahir, murnikanlah keimananmu kepada Allah. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang musyrik, makna ayat menurut golongan ini adalah wahai orang-orang yang beriman kepada Latta, Uzza dan Thaghut (syeitan), berimanlah kalian kepada Allah, dan percayalah kalian kepada Allah juga kepada kitan-kitab-Nya.[14][14]
Allah Ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman supaya masuk ke dalam syari’at, cabang, dan rukun iman. Perintah ini bukan berarti mengadakan sesuatu yang sudah ada, namun merupakan penyempurnaan dan pengokohan terhadap sesuatu yang sempurna serta melestarikannya, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang mukmin dalam shalatnya, “tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus” yang berarti perlihatkanlah kepada kami, tambahkanlah hidayah pada kami, dan kokohkanlah kami di atasnya. Maka Allah menyuruh mereka beriman kepada Dia dan Rasul-Nya.[15][15]
Firman Allah Ta’ala, “Dan kepada al-Kitab” yakni al-Qur’an “yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kepada al-Kitab yang telah diturunkan sebelumnya.” “Al-Kitab” di sini merupakan jenis yang mencakup seluruh kitab terdahulu. Terhadap al-Qur’an, Allah mengatakan nazzala karena Dia menurunkannya kelompok demi kelompok dan bagian demi bagian menurut peristiwa yang ada dan selaras dengan apa yang dibutuhkan oleh hamba dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Adapun kitab-kitab terdahulu diturunkan sekaligus. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan kepada Kitab yang telah diturunkan sebelumnya.” Kemudian Allah berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul-Nya, dan hari akhir, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan sejauh-jauhnya,” yakni sesungguhnya dia telah keluar dari jalan hidayah dan sangat menyimpang jauh dari tujuan.[16][16]
c)      QS. Ali ‘Imran: 64
Selesai sudah Nabi Muhammad saw. menghadapi delegasi Kristen Najran, tetapi Ahl al-Kitab bukan hanya mereka, Ahl al-Kitab terdiri dari semua orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan sementara ulama memasukkan dalam pengertiannya kelompok yang diduga memiliki kitab suci. Ahl al-Kitab ada yang bertempat tinggal di Medinah, atau di daerah-daerah lain, maka terhadap mereka semua, bahkan sampai akhir zaman, pesan ayat ini dianjurkan.[17][17]
Sedemikian besar kesungguhan dan keinginan Nabi Muhammad saw. agar orang-orang Nasrani menerima ajakan Islam, maka Allah swt. memerintahkan beliau untuk mengajak mereka dan semua pihak dari Ahl al-Kitab termasuk orang-orang Yahudi agar menerima satu tawaran yang sangat adil, tetapi kali ini dengan cara yang lebih simpatik dan halus dibandng dengan cara yang lalu. Ajakan ini, tidak memberi sedikit pun kesan kelebihan pun bagi beliau dan umat Islam, beliau diperintah Allah mengajak dengan berkata: “Wahai Ahl al-Kitab,” demikian panggilan mesra yang mengakui bahwa mereka pun dianugerahi Allah kitab suci tanpa menyinggung perubahan-perubahan yang mereka lakukan, “Marilah menuju ke ketinggian.” Kata ketinggian dipahami dari kata (تعالوا) ta’alaw yang terambil dari kata yang berarti tinggi. Marilah menuju ke ketinggian, yaitu suatu kalimat ketetapan yang lurus, adil yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, karena itulah yang diajarkan oleh para nabi dan rasul yang kita akui bersama, yakni tidak kita sembah kecuali Allah, yakni tunduk patuh lagi tulus menyembah-Nya semata dan tidak ada persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun serta dengan sedikit persekutuan pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selan Allah, yakni kita tidak menjadikan para pemimpin agama kita menghalalkan atau mengharamkan sesuatu yang tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah. Jika mereka berpaling menolak ajaran ini – walaupun hal penolakan mereka diragukan mengingat jelasnya bukti-bukti. Ini dipahami dari kata (إن) in yang digunakan ayat ini – maka katakanlah: ‘Saksikanlah, ketahuilah dan akuilah bahwa kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri kepada Allah’, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.”[18][18]
Pernyataan terakhir ini dipahami oleh sementara mufasir bermakna, “Jika mereka berpaling menolak ajaran ini, maka semua dalil telah membuktikan kekeliruan kalian, dan dengan demikian kalian harus mengakui bahwa kami – bukan kalian – orang-orang yang benar-benar muslim, yakni menyerahkan diri kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Ibrahim as. dan diwasiatkan olehnya.”[19][19]
Pernyataan ini juga dapat bermakna, “Kalau kalian berpaling dan menolak ajakan ini, maka saksikan dan akuilah bahwa kami adalah orang-orang muslim, yang akan melaksanakan secara teguh apa yang kami percayai. Pengakuan kalian akan eksistensi kami sebagai muslim – walau kepercayaan kita berbeda – menuntut kalian untuk membiarkan kami melaksanakan tuntunan agama kami. Karena kami pun sejak dini telah mengakui eksistensi kalian tanpa kami percaya apa yang kalian percayai. Namun demikian kami mempersilahkan kalian melaksanakan agama dan kepercayaan kalian.” (لكم دينكم ولي دين) lakum dinukum wa liya din/ bagimu agamamu bagiku agamaku.[20][20]
II.4 Kandungan Ayat tentang Sasaran Dakwah
Dalam surat at-Tahrim ayat enam ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya kemudian keluarganya dari siksa api neraka. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk taat kepada-Nya agar kita selamat dari siksa-Nya.
 Kalimat perintah dalam ayat ini menggambarkan bahwa sebagai orang yang beriman, kita wajib berdakwah. Dan kegiatan dakwah tersebut harus dimulai dari diri sendiri. Setelah kita mampu mengoreksi diri sendiri dengan pesan-pesan dakwah, maka kita diwajibkan untuk berdakwah kepada orang lain. Sesuai dengan ayat ini, maka yang harus diutamakan adalah berdakwah kepada keluarga terdekat terlebih dahulu. Karena keluarga adalah unsur paling dasar bagi terbentuknya umat. Dan dari umat tersebut akan terbentuk masyarakat Islam.
Caranya adalah membina diri kita terlebih dahulu dalam mendalami ajaran-ajaran Islam kemudian setelah kita mampu melaksanakannya, maka kita wajib mendakwahkan kepada keluarga terdekat kita mulai dari orang tua, istri, anak, adik, kakak dan karib kerabat, dan seterusnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman kita tidak boleh pasif.
            Sementara itu, dalam surat an-Nisa’ ayat 136 Allah swt. menyeru kaum Muslimin agar mereka tetap beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya Muhammad saw., kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dan kepada Kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-rasul sebelumnya. Kemudian Allah swt. mengancam orang-orang yang mengingkari seruan-Nya.
Ayat ini juga menekankan bahwa iman kepada Kitab-kitab Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya, adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tidak boleh beriman kepada sebagian Rasul dan Kitab saja, tetapi mengingkari bagian yang lain seperti dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila ada orang yang mengingkari sebagian Kitab, atau sebagian Rasul, maka hal itu menunjukkan bahwa ia belum meresapi hakikat iman itu, karena itu imannya tidak dapat dikatakan iman yang benar, bahkan suatu kesesatan yang jauh dari bimbingan hidayah Tuhan.
Oleh karena itu, berdakwah kepada orang-orang yang telah beriman juga penting agar bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Karena keimanan seseorang bisa bertambah dan berkurang. Selain itu, iman adalah hal yang tidak sederhana. Iman yang sempurna harus ditempuh melalui jalan yang panjang. Iman juga harus diperkokoh agar tidak goyang saat menghadapi cobaan.
            Kemudian dalam surat ‘Ali ‘Imran ayat 64 Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw., agar berdialog dengan ahli kitab Yahudi dan Nasrani secara adil untuk menemukan persamaan dari ajaran yang telah dibawa oleh para rasul  dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. Kemudian Allah swt. menjelaskan maksud ajakan itu, yaitu agar mereka tidak menyembah selain Allah serta tidak mempersekutukan-Nya.
Dapat diambil kesimpulan bahwa Allah mewajibkan untuk berdakwah kepada ahli kitab. Jadi, dakwah bukan hanya kepada orang seagama saja akan tetapi juga antar lintas agama. Meski penolakannya akan lebih berat dari dakwah kepada sesama muslim. Karena pada dasarnya umat terdahulu juga memiliki ajaran yang sama dengan umat muslim, yakni ajaran tauhid sebagaimana yang telah dijelaskan secara eksplisit melalui ayat tersebut. Tetapi, sumber perpecahan adalah karena mereka mengikuti kepala-kepala agama dalam hal hukum yang telah mereka tetapkan. Kemudian, mereka menjadikannya sederajat dengan hukum-hukum yang diturunkan di sisi Allah.[21] 
SUMBER :


Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir al-Maraghi 28. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir al-Maraghi 5. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1993. Terjemah Tafsir al-Maraghi 3. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam, 2008. Tafsir al-Qurthubi 5. Jakarta: Pustaka Azzam.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, 1999. Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 1. Jakarta: Gema Insani Press.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, 1999. Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 4. Jakarta: Gema Insani Press.
Quthub, Sayyid, 2000. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah Naungan al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Shihab, M. Quraish, 2006. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an 2. Jakarta: Lentera Hati.






[1][1] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi 28, hal. 258.
[2][2] Ibid.
[3][3] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi 5, hal. 301.
[4][4] Ibid, hal. 302.
[5][5] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 401.
[6][6] Ibid.
[7][7] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir 4, hal. 560.
[8][8] Ibid, hal. 560-561.
[9][9] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.Cit, hal. 261.
[10][10] Ibid.
[11][11] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Op.Cit, hal. 561.
[12][12] Ibid.
[13][13] Ibid.                                                                                                                                                                                  
[14][14] Syaikh Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi 5, hal.983-984.
[15][15] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Op.Cit, hal. 616-617.
[16][16] Ibid, hal. 617.
[17][17] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an 2, hal. 114.
[18][18] Ibid, hal. 114-115.
[19][19] Ibid, hal. 115.
[20][20] Ibid.                                                                                                                                                                                  
[21][21] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi 3, hal. 309.

Komentar

Postingan Populer