DA'I DI BANJARNEGARA
“ABANGAN” JADI “IJOAN”
Perjuangan Yang Tak Pernah Padam
“Dadio santri
persegi ! ”, sebuah pesan singkat penuh makna dari seorang tokoh yang
kharismatik, KH Muhammad Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Tanbihul Ghofiliin
kepada santrinya. Pesan singkat itu yang akan selalu diingat dan dikenang para
santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren tersebut. Selain penuh kharismatik, sifatnya yang lembut, tegas
dan berwibawa membuatnya menjadi panutan
banyak khalayak.
KH Muhammad Hasan
lahir pada tanggal 1 Januari 1932 di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang,
Kabupaten Banjarnegara. Beliau merupakan
tokoh yang cukup disegani, apalagi beliau terlahir dari seorang tokoh ulama
besar dari Banjarnegara yang jika dilihat dari nasabnya merupakan keturunan
orang yang terpandang dan terhormat. KH Muhammad Hasan Bin Kyai Abdul Bashor
Bin Saliem Bin Natanegara Bin Bupati Bada Karya Bin Demang Gumelem Bin Sunan
Mangkubumi.
Semangat dakwah KH
Muhammad Hasan tak pernah luntur, tinggal digubuk kecil yang terbuat dari bambu
juga pernah dirasakan ulama besar asal Banjarnegara ini. Namun dari sanalah
tercipta kekuatan untuk menjadi lebih baik dan bertekad untuk membawa
kemanfaatan bagi banyak orang.
Dimasa kecilnya
beliau tergolong anak yang cerdas, beberapa pendidikan pesantren yang ada
dipenjuru Jawa suda dicicipinya. Belajar dibanyak pesantren sengaja
dilakukannya untuk menambah khasanah ilmu agama yang dijadikan bekal dakwah
ditanah kelahirannya, Banjarnegara. Dalam belajar agama beliau tidak pernah
setengah-setengah, semua kitab yang dipelajarinya khatam dengan predikat
memuaskan. Prinsip sabar dan tuntas dalam belajar dipegangnya dengan teguh,
karena jika ada satu saja kitab yang dipelajarinya tidak selesai maka kerugian
akan didapatkannya. Sebab sebuah kitab tentunya memiliki ilmu yang harus
dipelajari secara tuntas, sehingga apa yang ada dalam kitab tersebut dapat
dipahami dengan baik.
Seperti khalayak
santri pada umumnya KH Muhammad Hasan juga memiliki pengalaman hidup semasa
dipesantren bersama sesama santri yang lain. Hidup dipesantren yang didalamnya
ada banyak sifat dan karakter santri yang berbeda, termasuk seorang teman yang
memiliki sifat pelit. Dikisahkan dari putranya KH Muhammad Hamzah Hasan, bahwa
KH Muhammad Hasan sewaktu menimba ilmu dipesantren pernah memiliki seorang
teman sesama santri yang pelit, Ia selalu menyimpan rapat makanan yang dikirim
dari keluarganya, dengan rapi Ia menyimpan makanan-makanan itu dikoper,
sehingga tak ada temannya yang dapat mengambil. KH Muhammad Hasan dan rekan
sesama santri yang lain merasa kesal dengan sifat pelit yang dimiliki oleh
temannya itu. Hingga pada suatu hari beliau bersama teman sesama santri yang
lain membuka koper yang berisi makanan tersebut kemudian dimakan secara
bersama-sama sampai habis tanpa sepengetahuan sipemilik koper. Sebelum menutup
koper ada seorang teman sesama santri beliau yang mengambil cicak dan
memasukannya kedalam koper. Beliau dan teman-temannya pura-pura tidur, tak lama
berselang temannya yang pelit itu datang lalu terkejut dan bingung ketika kopernya
sudah kosong dan hanya berisi seekor cicak. Tak tahan melihat keterkejutan
temannya itu, beliau langsung berkata pada temannya “ mungkin makananmu dimakan
cicak itu”. Sifat usil KH Muhammad Hasan dan teman-temannya dimaksudkan untuk
memberi pelajaran kepada temannya yang pelit. Dari kisah tersebut ada pelajaran hidup yang
dapat dipetik, yakni dalam hidup, seorang pasti membutuhkan orang lain,
sehingga hiduplah bermasyarakat dengan baik dan jangan hanya mementingkan diri
sendiri.
Setelah 15 tahun
belajar agama kepada ulama-ulama yang ada ditanah Jawa mulai dari Kyai Ahmadi
Purwonegoro, Kyai Khotim Dawuhan, Syeikh Ikhsan Kediri, KH Mushlih Tanggir, dan Syeikh Masduki Lasem Rembang, KH
Muhammad Hasan kembali ketanah kelahirannya, Banjarnegara.
Dulunya wilayah
sekitar tempat tinggal beliau merupakan daerah yang sangat minim akan kesadaran
masyarakat terhadap pendidikan agama atau lebih dikenal dengan daerah abangan.
Namun berkat kegigihan dan semangat dakwah yang tak pernah padam KH Muhamad
Hasan, saat ini kawasan yang dulunya dikenal dengan kawasan abangan sekarang
berubah menjadi ijoan, artinya kesadaran akan pentingnya ilmu agama bagi
masyarakat semakin meningkat, masyarakat tidak lagi hanya mementingkan urusan
duniawi, tetapi urusan ukhrowi juga mereka laksanakan.
Komentar
Posting Komentar