CONTOH PAPER KOMUNIKASI


STRATEGI MEDIA CETAK
DALAM MENGHADAPI MEDIA ONLINE

I.                   PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi komunikasi mengalami perkembangan pesat dalam dua dasa warsa terakhir. Perkembangan tekonlogi tersebut menyongsong munculnya Internet di tengah kehidupan manusia. Internet dapat dikatakan sebagai teknologi media baru, yang menyonsong perubahan dan membawa suatu media baru, yakni media online. Internet menawarkan kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh informasi untuk setiap jenis kebutuhan. Kecepatan Internet dalam memberikan informasi tanpa dibatasi oleh adanya ruang dan waktu memungkinkan siapapun untuk mengakses informasi di manapun dan kapan pun. Media online menjadi media yang sedang populer dalam beberapa tahun terakhir. Dewan Pers Indonesia menyatakan, bahwa selama tahun 2016 pertumbuhan media online di Indonesia mencapai sekitar 43 ribu situs, dari jumlah tersebur ada sekitar 40 ribu media yang belum terverifikasi dan hanya 230 yang sudah terverifikasi (Kominfo, 2016).
Fakta bahwa jumlah media siber atau online terus meningkat ternyata membawa banyak dampak pada masyarakat. Kini masyarakat cenderung beralih pada berita berbasis online, karena media online lebih murah serta menyajikan informasi yang lebih real time. Berdasarkan penelitian, faktor usia pun menjadi salah satu pemicu mengapa berita di media online lebih banyak dinikmati daripada media cetak. Generasi muda lebih menyukai media online yang terlihat lebih modern dibanding media cetak yang dipilih generasi tua (Nurkinan, 2017;30). Selain itu, apabila dibandingkan dengan media lain, media online memiliki banyak keunggulan, diantaranya adalah media online dapat dibaca kapan saja dan dimana saja, media online dapat dibaca berulang kali sebanyak yang diinginkan oleh pembaca, dan media online sangat praktis dan selalu update.
Perkembangan media online yang begitu pesat itu juga membawa pengaruh serta dampak terhadap media cetak. Chairman dan CEO News Corp Rupert Murdoch dalam berbagai kesempatan sering menyampaikan akhir era koran akibat kemunculan teknologi digital. Pada awal tahun 2000, dia memprediksi bahwa media cetak akan mati dalam 20 tahun ke depan. Dengan munculnya internet, surat kabar kertas akan digantikan berita digital di mana banyak pembaca akan beralih ke komputer tablet atau smartphone.
Di Amerika Serikat, kematian media cetak mulai terjadi kerena tidak mampu melawan perubahan atas berkembangnya teknologi informasi yakni media online. Contoh nyata adalah Newsweek. Majalah paling populer yang berumur 85 tahun berhenti cetak pada akhir 2012 dan kemudian berganti wajah menjadi media digital per Januari 2013. Sebelumnya pada 2009, The Rocky Mountain News memutuskan mengakhiri edisi cetak dan meninggalkan 117.600 pembacanya. The Seattle Post Intelligence yang sudah berusia 146 tahun juga bernasib sama. Revolusi teknologi informasi, seperti perkembangan internet juga mengganggu “kesehatan” koran besar di AS. The Washington Post yang sering menjadi kiblat koran dunia yang terpaksa harus memangkas sejumlah biaya dengan menutup sejumlah biro dan mengurangi jumlah karyawan mereka (Kompas.com). Di Indonesia, Harian Sinar Harapan menutup usahanya pada tanggal 1 Januari 2016, kemudian disusul Harian Bola, Soccer, Jurnal Nasional, Majalah Tajuk, Prospek, dan Fortune (Kusuma, 2016;57). Mereka tidak mampu bertahan di industri media cetak karena gempuran media online.  
Perkembangan media online yang begitu pesatnya serta bergesernya tren masyarakat dalam mengonsumsi berita membuat penulis ingin mengkaji strategi yang mungkin dilakukan oleh media cetak dalam menghadapi fenomena tersebut.

II.                PEMBAHASAN
A.      KONSEP DASAR SURAT KABAR
Menurut Onong Uchjana Effendy surat kabar adalah lembaran tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa dan aktual mengenai apa saja dan dimana saja di seluruh dunia untuk diketahui membaca” (Effendy,1993:241). Secara lebih luas, surat kabar merupakan bagian dari pers. Menurut Harimurti (1984; 95) pers adalah media massa yang merupakan media cetak, merupakan terbitan yang memuat berita, risalah karya, iklan dan lain-lain. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara tercetak atau publikasi secara dicetak atau printed publications. (Effendy, 2001; 145). Secara singkat pengertian pers menurut Kurniawan Junaedhie (1991;205) adalah sebutan bagi penerbit atau perusahaan atau kalangan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan.
Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disebutkan bahwa Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan  menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
B.      STRATEGI YANG BISA DILAKUKAN
1.      Melakukan Konvergensi
Konvergensi media merupakan salah satu perkembangan media massa yang melibatkan banyak faktor teknologi di dalamnya. Kehadiran internet mendorong media massa menerapkan konsep konvergensi media seperti media online, e-paper, e-books, radio streaming, media sosial, yang digabungkan dengan media lainnya. Terry Flew dalam An Introduction to New Media menyatakan konvergensi media merupakan hasil dari irisan tiga unsur new media yaitu jaringan komunikasi, teknologi informasi, dan konten media. Konvergensi media mengusung pada konsep penyatuan berbagai layanan informasi dalam satu piranti informasi membuat satu gebrakan digitalisasi yang tidak bisa dibendung lagi arus informasinya. Konvergensi menyebabkan perubahan radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik visual, audio, data dan sebagainya (Preston, 2001). Konvergensi industri media dan teknologi digital mengarah pada bentuk-bentuk yang dikenal sebagai komunikasi multimedia. Multimedia atau dikenal juga sebagai media campuran, pada umumnya didefinisikan sebagai medium yang mengintegrasikan dua bentuk komunikasi atau lebih (Fiddler, 2003:39).
Transformasi media cetak ke arah konvergensi dapat mengadopsi jenis konvergensi yang dikemukakan oleh Grant (2009:33). Konvergensi jurnalistik mensyaratkan perubahan cara berpikir media tentang berita dan peliputannya. Bagaimana media memproduksi berita dan bagaimana media menyampaikan berita kepada khalayaknya. Namun, praktik konvergensi saat ini masih sebatas pada cara menyampaikan berita melalui platform yang berbeda yaitu media cetak, penyiaran, dan online. Dalam konvergensi jurnalistik dikenal adanya tiga model menurut Grant, yaitu konvergensi newsroom, konvergensi newsgathering, dan konvergensi konten. 1) Konvergensi newsroom. Dalam konvergensi ini jurnalis yang berbeda platform, misalnya dari surat kabar, online, dan televisi menyatukan dirinya dalam satu ruang produksi berita. Mereka mengerjakan tugas sesuai dengan platform medianya. 2) Konvergensi newsgathering. Dalam menjalankan model ini, seorang jurnalis dituntut untuk mampu mencapai tingkatan multitasking. Dengan melalui pelatihan atau training khusus, seorang jurnalis dituntut untuk dapat melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh media dengan platform lain dalam satu grup. Misalnya, seorang wartawan cetak harus mampu membuat berita untuk cetak, online, dan sekaligus untuk televisi. Selain itu juga dituntut untuk mengambil foto atau video. 3) Konvergensi content. Berita akhirnya disuguhkan dalam bentuk multimedia, yang merupakan kombinasi antara teks, gambar, audio, video, blog, podcasts, atau slide show. Pilihannya terus berkembang. Saat ini, konvergensi isi masih sangat muda atau baru dimulai. Namun, kita dapat mengintip masa depan melalui website yang inovatif. Bayangkan beberapa tahun ke depan medium hybrid baru mengkombinasikan antara audio dan video tv, sifat responsif dan sumber dari website, kemudahan dibawa dan kualitas cetak dari koran. Editor dan reporter akan menjadi content producer yang dilatih untuk memilih cerita mana yang paling efektif, teknik yang paling menghibur dari menu biasa hingga pilihan multimedia.
Konvergensi media menjadi bentuk strategi yang bisa dilakukan oleh media cetak dalam menghadapi gempuran media online. Konvergensi memungkinkan media cetak mempunyai wajah baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan adanya konvergensi media, media cetak dapat bertahan karena mampu menyesuaikan dengan tren yang sedang berkembang. Konvergensi juga membawa implikasi positif. Konvergensi media memperkaya informasi secara meluas dan tidak terbatas. Jika dipandang dari perspektif ekonomi politik praktis, konvergensi media mengakibatkan media menjadi sarana memproduksi ekonomi sebagai ajang meraup keuntungan sebagai faktor determinan. Konvergensi media juga memberikan keunggulan bagi setiap media yang dapat menampilkan fasilitas lebuh dari media lainnya.
2.      Memperkuat konten
Selain konvergensi teknologi, upaya untuk mempertahankan eksistensi media cetak adalah dengan memperkuat konten. Salah satu yang bisa dilakukan untuk tujuan tersebut adalah dengan menerapkan jurnalisme investigasi yang saat ini masih belum cukup populer dilakukan oleh media-media online, serta membiasakan redaksi untuk menghasilkan karya liputan mendalam (in-depth report).
Jurnalisme investigasi penting untuk mempertahankan eksistensi media cetak karena daya saing media cetak terletak pada kemampuannya untuk menggai cerita di balik berita, menyajikan analisis berita, serta menempatkan informasi pada konteksnya sehingga pembaca memahami gambaran seluas-luasnya dari peristiwa atau fenomena yang terjadi (putting all the information in the right context). Tanpa menyajikan informasi yang komprehensif mengenai sebuah peristiwa, media cetak tentu akan tergerus oleh media-media lain seperti televisi, radio, dan media online yang memiliki karakter cepat dan sanggup menyajikan informasi dalam format real time.
Bagi industri media cetak, jurnalisme investigasi adalah nilai jual yang menjadikan media tersebut melahirkan kesan positif bagi pembaca. Namun ini pun bukan hal yang mudah dilakukan karena dibutuhkan personil-personil yang “tangguh” dan memiliki kapabilitas dalam melakukan reportase investigasi. Dalam penerapannya, reportase investigasi bukanlah kerja individu. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak tenaga di media—khususnya redaktur, editor, reporter, fotografer, dan atau tenaga riset—baik selama proses perencanaan maupun proses pelaksanaan. Selain itu, perencanaan yang matang dan seringkali membutuhkan biaya besar, sudah menjadi konsekuensi dalam merancang dan melaksanakan sebuah kegiatan reportase investigasi.
Tetapi apabila reportase investigasi masih belum bisa dilakukan oleh perusahaan media cetak karena berbagai keterbatasan di dalamnya, upaya paling rasional selain reportase investigasi, tentu saja adalah membuat liputan mendalam (in-depth report) di mana pembaca disuguhi  informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai sebuah peristiwa atau topik tertentu dengan sudut pandang yang beragama. Bagi jurnalis ataupun reporter, kebiasaan menyajikan informasi dengan teknik in-depth sendiri merupakan sebuah langkah menuju keterampilan melakukan kegiatan reportase investigasi.

III.             PENUTUP
Kehadiran teknologi komunikasi baru selalu berdampak terhadap eksistensi teknologi komunikasi yang lama. Meski dampak tersebut tidak selalu berupa punahnya teknologi yang lebih lama, namun yang kebanyakan terjadi adalah berkurangnya tingkat penggunaan teknologi yang lama oleh masyarakat.
Dalam konteks masa kini, pertumbuhan penggunaan internet yang termanifestasi dengan semakin banyaknya media-media online dan media sosial, telah mengancam eksistensi media cetak. Bahkan tidak sekadar ancaman, beberapa media cetak telah gulung tikar dengan dalih tidak sanggup bersaing dalam era digital.
Namun optimisme bahwa media cetak masih akan bertahan, tetaplah ada. Hanya saja, optimisme ini akan sia-sia andai tidak dibarengi dengan upaya-upaya strategis dan inovasi-inovasi baru. Beberapa di antaranya yang bisa dilakan adalah industri media cetak, mau tidak mau harus melakukan konvergensi teknologi dan melakukan perubahan konten. Media cetak, sebaiknya tidak lagi mengedepankan berita-berita bersifat straight news karena tentu saja akan dikalahkan oleh media-media online, televisi, serta radio, yang sangat mengandalkan kecepatan.






Komentar

Postingan Populer