PENGALAMAN ROHANI
PENGALAMAN KEAGAMAAN
Nama saya Fazira Ulfah, saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang
cukup agamis. Sehingga ada semacam tradisi keluarga yang mengharuskan anggota
keluarga untuk belajar di Pondok Pesantren. Dengan demikian, setelah lulus
Sekolah Dasar orang tua saya mengirim saya ke sebuah Pondok Pesantren yang masih
terhitung satu Kabupaten dengan tempat tinggal saya, jadi jaraknya pun tidak
terlalu jauh. Masa-masa awal berada di Pondok Pesantren sedikit tidak betah,
jauh dari orang tua menjadi salah satu faktornya. Hidup dipondok juga
mengharuskan saya untuk hidup mandiri, semua dilakukan sendiri. Dari mencuci
baju, menyetrika, bahkan belajar mengelola uang saku. Selain itu, saya juga
dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan Pondok Pesantren yang meski
demikian sudah tidak asing lagi bagi saya karena riwayat keluarga yang juga
pernah belajar di Pondok Pesantren.
Tanbihul Ghofiliin, itulah nama Pondok Pesantren dimana saya menuntut
ilmu. Namanya cenderung susah diucapkan, sehingga banyak orang-orang yang
menyebutnya dengan sebutan Pondok Tan-Gho, entah siapa yang pertama kali
mencetuskannya. Penyebutan Tan-Gho membuat orang mudah mengingat dan
menghafalnya, karena sedikit mirip dengan salah satu merek wafer yang cukup
terkenal. Tanbihul Ghofiliin merupakan sebuah Pondok Pesantren yang bercorak
salaf dan kholaf. Sehingga tidak hanya fokus pada kajian kitab kuning, mengkaji
dan menghafal alQur’an dan kajian keagaamaan saja, tetapi juga kajian terhadap
ilmu-ilmu duniawi. Hal ini dibuktikan dengan adanya Pendidikan formal seperti
MTs dan MA.
Meskipun di Tanbihul Ghofiliin ada Pendidikan formal seperti MTs
dan MA, namun pada saat itu saya memilih untuk bersekolah diluar Pondok
Pesantren karena pada saat itu masih diperbolehkan. Saya bersekolah di Sekolah
Menengah Pertama negeri yang merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang
cukup favorit di Kabupaten tempat saya tinggal. Tetapi pada saat saya akan
melanjutkan kejenjang Akhir (Aliyah) ada kebijakan baru yang tidak membolehkan
santri untuk bersekolah di luar Pondok Pesantren, sehingga pada saat akan masuk
jenjang akhir (Aliyah) saya melanjutkan di MA kepunyaan Pondok Pesantren.
Saya mempunyai sebuah pengalaman yang banyak memberi saya pelajaran
dan juga menurut saya itu adalah sebuah teguran dari Alloh SWT. Peristiwa itu
terjadi ketika saya duduk dikelas dua Sekolah Menengah Pertama.
Kejadian pertama, di
sekolah tempat saya belajar ada sebuah peraturan yang tidak memperbolehkan
siswanya untuk membawa handphone. Pada saat itu Pesantren sedang liburan,
tetapi sekolah tidak libur. Akhirnya saya pulang kerumah dan berangkat sekolah
dari rumah. Karena jarak dari sekolah dan rumah saya cukup jauh, jadi ketika
berangkat sekolah saya diantar oleh Ayah saya sampai sekolah. Namun ketika
pulang, biasanya saya naik kendaraan umum sampai ke tempat pemberhentian yang
jaraknya lumayan dekat dari rumah saya, kemudian disitu saya dijemput. Nah
untuk memudahkan komunikasi ketika saya sampai ditempat pemberhentian dan minta
dijemput, akhirnya saya membawa handphone kesekolah dan biasanya saya titipkan
ke penitipan handphone di sebuah toko yang berada di samping sekolah saya. Pada
hari itu saya datang kesekolah terlambat karena ada satu dan lain hal, saya terburu-buru
masuk kedalam gerbang dan tidak sempat menitipkan Handphone karena sudah
terlambat, dan ternyata dilobi sekolah ada razia. Dengan takut dan gemetar saya
masuk lalu antre kebarisan anak-anak yang terlambat. Dalam hati saya berdoa
macam-macam. Disana ada dua guru yang memeriksa yang terkenal kiler-kiler.
Kemudian tibalah giliran saya diperiksa, pada saat itu rasanya tidak karuan,
saya kebagian guru yang paling kiler dan terkenal punya indra keenam dan
katanya bisa membaca pikiran orang. Handphonenya saya taruh di bagian tas yang
besar. Detik menit berlalu yang rasanya waktu pada saat itu berhenti berputar
dan saya sudah pasrah dengan semuanya. Seluruh bagian tas saya diperiksa,
benar-benar diperiksa sampai kebagian-bagian yang paling kecil, dan lipatan
lipatan tas bahkan saya pun diperiksa. Tetapi apa yang terjadi ? handphone saya
tidak ketahuan. Saya bingung dan heran, secara logika pasti handphonenya sudah
kena razia karena berada di bagian tas yang paing besar. Tetapi kenyataanya
tidak. Pada saat itu saya benar benar bahagia, bersyukur dan entah apa kata
yang dapat dilukiskan. Saya banyak berfikir macam-macam, entah karena memang
yang memeriksa kurang teliti, atau karena beliau sudah membaca pikiran saya
yang kemudian tahu alasan saya membawa handphone ke sekolah lalu memutuskan
untuk tidak mengambil handphone saya. Saya pun tidak tahu.
Kejadian kedua, pada saat itu
saya sudah berada di pondok dan kejadian kedua ini juga tidak berselang lama
dengan kejadian yang pertama. Di Tanbihul Ghofiliin juga ada sebuah peraturan
yang tidak memperbolehkan santrinya untuk membawa handphone. Pada saat itu
status saya adalah santri yang bersekolah diluar pondok dan waktu itu ada
banyak santri santri lain yang seperti saya juga yaitu berada dipondok namun
bersekolah diluar. Saya secara diam-diam membawa handphone waktu itu dengan
alasan untuk berkomunikasi dengan teman yang ada diluar pondok, yaitu teman
sekolah saya. Kelas dua sekolah menengah waktu itu rasanya saya sedang berada
pada masa-masa pubertas jadi keingingan untuk mencoba hal baru sangat tinggi
dan masih sangat labil. Meskipun disekolah dan dipondok sama-sama tidak
diperbolehkan membawa handphone, tetapi saya tidak kekurangan akal. Saya
mengoperasikan handphone ketika dikamar mandi. Begitu pula dengan teman sesama
santri yang bersekolah diluar dipondok, mereka juga ada yang diam diam membawa
handphone seperti saya.
Pada saat itu malam jumat, yang merupakan saat dimana kegiatan
mengaji libur lalu diganti dengan
pembacaan shalawat dan barjanzi. Ternyata pada malam tersebut ada razia
terhadap barang-barang terlarang dipondok seperti handphone, mp3, musix box,
foto lawan jenis yang bukan mahram dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan
satu-persatu. Saat itu saya bersama seluruh santri yang lain sedang berada di
Aula untuk mengikuti kegiatan. Saya panik, bingung, takut dan rasanya sama ketika kejadian
pertama. Selama kegiatan berlangsung, saya tidak tenang dan resah sampai pada
akhirnya kegiatan di Aula selesai. Setelah selesai saya buru buru kembali
kekamar dan langsung membuka lemari saya, lalu apa yang terjadi ? lemari saya
masih sama kondisinya ketika saya tinggalkan, tidak ada yang berubah satupun dan posisi handphone juga
masih berada ditempat semula yaitu berada dibawah tumpukan baju. Saya kembali
bersyukur. Ternyata razia malam itu tidak dilakukan untuk seluruh kamar, hanya
sebagian kamar saja dan kamar saya pun termasuk dalam daftar kamar yang tidak
dirazia pada malam itu. Ini entah keberuntungan atau apa. Saya pun tidak tahu.
Kejadian ketiga,
kejadian ini berlangsung di Sekolah yang juga tidak berselang lama dengan
kejadian kedua. Karena kejadian kedua, Handphone saya kemudian saya kembalikan
kerumah dan saya tidak membawa handphone lagi. Namun karena ketagihan, saya
kembali membawa handphone ke sekolah dan tidak dititipkan ke penitipan
handphone. Saya membawa handphone tanpa alasan yang jelas, yaitu saya hanya
ingin main handphone seperti teman saya lainnya disekolah, karena pada saat itu
saya berada dipondok yang tidak boleh membawa handphone, sedangkan teman saya
disekolah mereka berada dirumah sehingga pada saat mereka dirumah mereka bisa
main handphone. Kejadian ketiga ini bertepatan dengan ulangan akhir semester,
pada saat itu ada banyak teman sekelas saya yang juga diam diam membawa
handphone. Lalu ada salah seorang siswa yang malah menggunakan handphone
tersebut untuk mencontek dan akhirnya ketahuan oleh pengawas ulangan. Lalu
secara mendadak diadakanlah razia besar besaran ke seluruh kelas. Nah tiba
giliran kelas saya yang dirazia, waktu
itu handphonenya saya taruh dibagian yang tas yang kecil, karena kebetulan tas saya ada banyak
lipatan-lipatannya. Saya pun akhirnya pasrah. Dan tibalah giliran tas saya yang
dirazia, detik menit pun berlalu. Setelah sekian menit ibu guru yang merazia
tas saya belum juga menemukan handphonenya, tetapi entah dorongan dari mana
saya kemudian mendekati tas saya yang sedang dirazia dan menunjukan dimana
letak handphone tersebut. Saya setengah percaya dan tidak percaya, setengah
sadar dan tidak sadar. Alhasil handphone saya pun ketahuan dan diambil.
Bersamaan dengan itu, banyak handphone teman sekelas saya yang juga terkena
razia. Tetapi ada juga yang bahkan tidak ketahuan. Teman saya bilang bahwa
mungkin jika saya tidak memberi tahu dimana letak handphonenya, handphone saya
tidak akan kena razia dan tidak akan ketahuan. Saya pun tidak tahu.
Handphone-handphone yang terkena razia pada saat itu, hanya boleh diambil oleh
orang tua pada saat pengambilan rapor. Kemudian saya memberi tahu orang tua
saya yang ada dirumah bahwa saya kena razia, namun ternyata saya sama sekali
tidak dimarahai oleh orang tua saya. Saya dapat point dari BK atas kejadian
membawa handphone tersebut. Saya sangat malu terhadap diri saya sendiri dan
merasa menyesal atas apa yang telah saya perbuat.
Nah dari kejadian yang pertama sampai yang ketiga ketika
direnungkan ternyata ada banyak sekali hikmah atau pelajaran yang dapat
diambil. Ternyata Alloh SWT masih sayang kepada saya pada saat kejadian yang
pertama, Alloh SWT masih menutupi aib saya agar tidak ketahuan sampai dengan
kejadian yang kedua. Bahkan sampai
dengan kejadian yang kedua pun saya masih diberi kesempatan untuk tidak
mengulangi hal tersebut lagi hingga akhirnya Alloh Swt memberi pelajaran kepada
saya pada saat kejadian yang ketiga. Sebenarnya Alloh Swt telah menegur saya
dari kejadian yang pertama, tetapi saya tidak menghiraukan teguran tersebut.
Sejak kejadian kejadian itu saya berpikir bahwa ketika kita merasa
beruntung dalam hal-hal tertentu (dalam hal buruk), itu bukan merupakan sebuah
keberuntungan tetapi merupakan sebuah teguran yang keras dari Alloh SWT. Selain
itu, jika ada sebuah aturan kita harus benar-benar totalitas untuk tidak
melanggar aturan tersebut entah apapun itu alasannya, karena pada dasarnya
semua aturan itu pasti mempunyai tujuan yang sangat baik Semoga dari pengalaman saya tersebut dapat
memberikan manfaat bagi saya sendiri pribadi dan bagi orang lain. Aammiin.
Komentar
Posting Komentar