PERSEPSI DAN KOMUNIKASI


PERSEPSI DAN KOMUNIKASI

A.    PENGERTIAN PERSEPSI
Persepsi adalah proses menjadi sadar terhadap beberapa stimulus yang ada di sekitar kita. Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Dari pengertian tersebut di atas, terdapat perbedaan antara persepsi dan penginderaan. Persepsi merupakan proses dimana individu memilih, mengorganisir, dan menginterpretasikan apa yang dibayangkan tentang dunia dan sekelilingnya. Dengan mempersepsi, setiap individu memandang dunia berkaitan dengan apa yang dia butuhkan, apa yang dia nilai, apakah sesuai dengan keyakinan dan budayanya. Persepsi setiap orang juga berbeda beda sesuai dengan makna yang dia berikan kepada “sesuatu” kepada seseorang atau peristiwa.
Berikut pengertian persepsi menurut beberapa ahli, pendapat Krech menyimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses kognitif yang komplek dan menghasilkan suatu gambar yang unik tentang kenyataan yang barang kali sangat berbeda dari kenyataannya.  Sedangkan menurut Duncan, persepsi itu dapat dirumuskan dengan pelbagai cara, tetapi dalam ilmu perilaku khusunya psikologi, istilah ini digunakan untuk mengartikan perbuatan yang lebih dari sekadar mendengarkan, melihat atau merasakan sesuatu.
            Menurut Luthans persepsi adalah lebih komplek dan luas kalau dibandingkan dengan penginderaan. Sedangkan perbedaan anatara persepsi dan penginderaan itu menurut Luthans selanjutnya dikatakan penginderaan itu, cara kebiasan yang bisa dipergunakan untuk mengenalnya anatara lain dengan dua aspek ini,
            Aspek penginderaan yang mempunyai kesamaan antara satu orang dengan lainnya disebut kenyataan. Kejadian tertubruknya mobil dengan truk di jalan raya disaksikan banyak orang sebagai kenyataan, walaupun kemungkinan mereka tidak setuju suatu samalainnya mengenai sebab-sebab terjadinya kecelakaan.
Penginderaan tersusun dalam cara yang unik bagi kita. Aspek proses persepsi ini tergantung pada mekanisme biologis, pengalaman masa lalu, dan perkiraan masa sekarang. Kesemuanya ini berasal dari kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, pengalaman, nilai-nilai, dan perasaan.
A.    TAHAP-TAHAP PERSEPSI
Ketika individu membangun suatu persepsi, maka selalu muncul pertanyaan apa itu, persepsi dan bagaimana persepsi itu terjadi. Dalam kajian psikologi didefisinikan sebagai proses dimana individu menjadi lebih sadar tentang objek dan peristiwa yang terjadi dalam dunia sekeliling. Proses presepsi ini dapat terjadi dalam tiga rahapan utama, yaitu : (1) individu memperhatikan dan membuat seleksi; (2) individu mengorganisasikan objek yang ditangkap indra; (3) individu membuat ibterpretasi. Pada umumnya, para pemerhati psikologi komunikasi mengikuti lima tahapan utama yaitu : (1) stimulation; (2) organization; (3) interptretation-evaluation; (4) memory; (5) recall. Persepsi manusia selalu mengikuti tahapan proses tersebut yakni :
a.       Pada tahap (1), individu menerima stimulus (rangsangan dari luar), disaat ini sense organs atau indra akan menangkap makna terhadap stimulus (meaningfull stimulli), selanjutnya;
b.      Pada tahap (2), stimulus tadi diorganisasikan berdasarkan tatanan tertentu misalnya berdasarkan schemata (membuat semacam diagram tentang stimulus) atau dengan script (refleks perilaku) kemudian;
c.       Pada tahap (3), individu membuat interpretasi dan evaluasi terhadap stimulus berdasarkan pengalaman masa lalu atau pengetahuan tentang apa yang dia terima itu;
d.      Pada tahap (4) stimulus yang sudah diorganisasikan itu terekam dalam memori;
e.       Pada tahap (5) semua rekaman itu dikeluarkan, itulah persepsi

B.     FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI MANUSIA
a.       Faktor Eksternal
1.       Intensitas
                Prinsip intensitas dari suatu perhatian dapat dinyatakan bahwa semakin besar intensitas stimulus dari luar, layaknya semakin besar pula hal-hal itu dapat dipahami ( to be perceived)
2.      Ukuran
                 Faktor ini menyatakan bahwa semakin besar ukuran sesuatu obyek,         maka semakin mudah untuk bisa diketahui atau dipahami.  
3.      Keberlawanan atau kontras
                 Prinsif ini menyatakan bahwa stimuli luar yang penampilannya    berlawanan dengan latar belakangnya atau sekelilingnya atau sama   sekali di luar sangkaan orang banyak, akan menarik banyak perhatian.  
4.           Pengulangan (repitition)
                 Dalam prinsif ini dikemukakan bpahwa stimulus dari luar yang diulang   akan memeberikan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan       yang sekali dilihat.
5.      Gerakan (moving),
                 prinsif gerakan ini antaranya menyatakan bahwa orang akan        memberikan banyak perhatian terhadap obyek yang bergerak   dalam jangkauan  pandangannya dibandingkan dari obyek yang diam.
6.      Baru dan familiar,
                 Prinsif ini menyatakan bahwa baik situasi eksternal yang baru maupun    yang sudah dikenal dapat dipergunakan sebagai penarik perhatian.    .
b.      Faktor Internal
1.       Belajar atau pemahaman learning dan persepsi
                 Semua faktor–faktor dari dalam yang membentuk adanya perhatian        kepada sesuatu obyek sehingga menimbulkan adanya persepsi adalah             didasarkan dari kekomplekan kejiawaan.  
2.      Motivasi dan persepsi
                 Selain proses belajar dapat membentuk persepsi, faktor dari dalam          lainnya yang juga menentukan terjadinya persepsi antara lain motivasi          dan kepribadian.  
3.      Kepribadian dan persepsi
                 Dalam membentuk prsepsi unsur ini amat erat hubungannya dengan        proses belajar dan motivasi yang dibicarakan di atas yang mempunyai akibat tentang apa yang diperhatikan dalam menghadiri suatu situasi.  
4.      Psikologi
                 Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat       dipengarui oleh keadaan psikologi.
C.     JENIS-JENIS PERSEPSI
a)      Persepsi Lingkungan
                 Persepsi lingkungan dibentuk berdasarkan konteks dimana informasi itu diterima. Contoh : jika seseorang anak muncul tiba-tiba didepan pintu dan membuat orang tuanya kaget, maka sang ayah akan bilang “ saya tidak suka kamu membuat ayah kaget”. Ungkapan sang ayah itu menggambarkan persepsi ayah terhadap anaknya sesuai dengan konteks disaat itu. Contoh ini menunjukan bahwa persepsi terhadap kata-kata yang diucapkan sang ayah telah mengalami perubahan makna. Ini berarti bahwa lingkungan di sekeliling kita dapat membentuk penyaring mental bagi persepsi manusia terhadap informasi.
b)      Persepsi yang dipelajari
                 Persepsi yang dipelajari merupakan persepsi yang terbentuk karena individu mempelajari sesuatu dari lingkungan sekitar, misalnya dari kebudayaan dan kebiasaan teman-teman atau orang tua. Persepsi yang dipelajari (learned perceptions) berbentuk pikiran, ide atau gagasan dan keyakinan yang kita pelajari dari orang lain. Jadi reaksi setiap individu berbasis pada persepsi yang dia telah pelajari, perhatikan bagaimana anak-anak mengikuti perangai dan kepribadian orang tua mereka.
c)      Persepsi Fisik
                 Persepsi fisik dibentuk berdasarkan pada dunia yang serba terukur (the tangible world), misalnya secara fisik kita mendengar dan melihat sesuatu lalu diikuti dengan bagaimana kita memproses apa yang dilihat itu dalam pikiran dan akal. Contoh : orang Amerika Serikat selalu merasa terganggu dengan seseorang yang  berdiri di sampingnya, hanya dalam budaya Amerika Selatan tindakan ini merupakan hal yang biasa.
d)     Persepsi Budaya
                 Persepsi budaya berbeda dengan persepsi lingkungan, sebab persepsi budaya mempunyai skala yang sangat luas dalam masyarakat, sedangkan persepsi linkungan menggambarkan skala yang sangat terbatas pada sejumlah orang tertentu. Persepsi budaya sangat bervariasi dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain dan seterusnya. Sebagai contoh, seorang perempuan keturunan Asia-Amerika sekurang-kurangnya memiliki dua identitas, sebagai orang Asia dan Amerika yang tidak dapat dipisahkan karena akan dipersepsikan sama saja, hal ini menunjukan bahwa apa yang dipersepsikan kadang – kadang dapat menimbulkan conflicting domain-spesifik terutama stereotip terhadapnya.
D.    SIFAT-SIFAT PERSEPSI
a.        Persepsi Bersifat Dugaan
                 Oleh karena data yang kita peroleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap, persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. Seperti proses seleksi, langkah ini dianggap perlu karena kita tidak mungkin memperoleh seperangkat rincian yang lengkap lewat kelima indera kita. Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari suatu sudut pandang manapun. Oleh karena informasi yang lengkap tidak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu. Kita harus mengisi ruang yang kosong untuk melengkapi gambaran itu dan menyediakan informasi yang hilang. Dengan demikian, persepsi juga adalah suatu proses mengorganisasikan informasi yang tersedia, menempatkan rincian yang kita ketahui dalam suatu skema organisasional tertentu yang memungkinkan kita memperolah suatu makna lebih umum.
b.       Persepsi Bersifat Evaluatif
                 Persepsi adalah suatu proses kognitif psikologis dalam diri kita yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai, dan pengharapan yang kita gunakan untuk memaknai objek persepsi. Dengan demikian, persepsi bersifat pribadi dan subjektif. Menggunakan kata-kata Andrea L. Rich, “persepsi pada dasarnya memiliki keadaan fisik dan psikologis individu, alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi”. Dengan ungkapan Carl Rogers, “individu bereaksi terhadap dunianya yang ia alami dan menafsirkannya dan dengan demikian dunia perseptual ini, bagi individu tersebut, adalahrealitas”.
c. Persepsi Bersifat Kontekstual
                 Suatu rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh yang paling kuat. Konteks yang melingkungi kita ketika kita melihat seseorang, suatu objek atau suatu kejadian sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan juga persepsi kita.
Dalam mengorganisasikan suatu objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, kita menggunakan prinsip-prinsip berikut:
a.       Prinsip pertama : Stuktur objek atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapannya.
b.      Prinsip kedua : Kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya.

E.     KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI

                 Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan Atribusi
                 Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.
                 Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara.atribusi kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal justru faktor eksternal-lah yang menyebabkannya, atau sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal faktor internal-lah yang membangkitkan perilakunya.
                 Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atu mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu sebagai lengkap.
2. Efek Halo
                 Kesalahan persepsi yang disebut efek halo (halo effects) merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Efek halo ini memang lazim dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai orang-orang yang bersangkutan. Bila kita sangat terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita. Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik dalam hal lainnya.
                 Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu sebagai “hukum keprimaan” (law of primacy). Celakanya, kesan awal kita yang positif atas penampilan fisik seseorang sering mempengaruhi persepsi kita akan prospek hidupnya. Misalnya, orang yang berpenampilan lebih menarik dianggap berpeluang lebih besar dalam hidupnya (karir, perkawinan, dan sebagainya).
3. Stereotif
                 Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarakan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang dan objek-objek ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih berdasarkan karakteristik individual mereka. Contoh :  
• Laki-laki berpikir logis
• Wanita bersikap emosional
• Orang berkulit hitam pencuri
• Orang Meksiko pemalas
• Orang Yahudi cerdas
• Orang Prancis penggemar wanita, anggur, dan makanan enak
• Orang Cina pandai memasak
• Orang Batak kasar
• Orang Padang pelit
• Orang Jawa halus pembawaan
• Lelaki Sunda suka kawin cerai dan pelit memberi uang belanja
• Wanita Jawa tidak baik menikah dengan lelaki Sunda (karena suku Jawa dianggap lebih tua daripada suku Sunda)
• Orang Tasikmalaya tukang kredit
• Orang berkaca mata minus jenius
• Orang berjenggot fundamentalis (padahal kambing juga berjenggot), dll.
Pada umumnya, stereotip bersifat negatif.  Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan dalam kepala kita. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini diaktifkan dalam hubungan manusia. Apa yang anda persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang anda harapkan. Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku tertentu, anda mungkin mengkomunikasikan pengharapan anda kepada mereka dengan cara-cara yang sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan berperilaku sesuai dengan yang andaharapkan.
4.      Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagin. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Menurut Ian Robertson, pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental yang kaku yang meringkas apapun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian disebut stereotip.
Meskipun kita cenderung menganggap prasangka berdasarkan suatu dekotomi, yakni berprasangka atau tidak berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap prasangka ini sebagai bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Sebagaimana stereotip, prasangka ini alamiah dan tidak terhindarkan. Pengguanaan prasangka memungkinkan kita mereespon lingkungan secara umum, sehingga terlalu menyederhanakan masalah.
5.Gegar Budaya
Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri (personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.
Kita tidak langsung mengalami gegar budaya ketika kita memasuki lingkungan budaya yang baru. Fenomena itu dapat digambarkan dalam beberapa tahap. Peter S. Adler mengemukakan lima tahap dalam pengalaman transisional ini, yaitu:

1). Tahap kontak.  Ditandai dengan kesenangan, keheranan, dan kekagetan, karena kita melihat hal-hal yang eksotik, unik, dan luar biasa.

2). Tahap disintegrasi. Terjadi ketika perilaku, nilai, dan sikap yang berbeda mengganggu realitas persesual kita.

3). Tahap reintegrasi. Ditandai dengan penolakan atas budaya, kita menolak kemiripan dan perbedaan budaya melalui penstereotipan, generalisasi, evaluasi, perilaku, dan sikap yang sserba menilai.

4). Tahap otonomi. Ditandai dengan kepekaan budaya dan keluwesan pribadi yang meningkat, pemahaman atas budaya baru, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru kita.

5). Tahap independensi. Ditandai dengan kita mulai menghargai kemiripan dan perbedaan budaya, bahkan menikmatinya.

Gegar budaya ini dalam berbagai bentuknya adalah fenomena yang alamiah saja. Intensitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang pada dasarnya terbagi dua, yaitu: faktor internal (cirri-ciri kepribadian orang yang bersangkutan), dan faktor eksternal (kerumitan budaya atau lingkungan budaya baru yang dimasuki). Tidak ada kepastian kapan gegar budaya ini akan muncul dihitung sejak kita memasuki suatu budaya lain.
F.      HUBUNGAN PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI
Sering kita temukan istilah “menyamakan persepsi.” kadang ada yang pas, namun seringnya tidak pas digunakan. Hal itu sama saja jika sering kita dengar atau ucapkan: “kalau menyikat gigi, harus menggunakan odol,” atau ada yang berkata “jangan sering-sering makan indomie, nanti bisa iritasi usus,” atau ada pula yang berkata “kalau makan bakso, jangan gunakan sasa,” dan sebagainya. Mungkin yang dimaksud dengan “odol” adalah “pasta gigi” padahal Odol adalah salah satu merk dagang pasta gigi, demikian juga dengan indomie, mau merknya apa saja (misalkan Super Mie, Sarimie, atau apapun), menyebutnya dengan Indomie, begitu juga dengan Sasa, sebagai merk dagang bumbu penyedap rasa (MSG). Itulah hebatnya orang-orang yang bergerak di bidang pemasaran, khususnya brand image, yang mampu menanamkan nama produk di benak para konsumennya hingga turun-temurun.
Persepsi adalah kata yang berhubungan dengan waktu yang dalam bahasa Inggrisnya berhubungan dengan past-present, atau masa lalu hingga saat ini, atau berhubungan dengan pengalaman. Amat sulit tugas untuk “menyamakan persepsi,” karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Sehingga persepsinya pun berbeda.


SUMBER  :
Wood, Julia T. (2013). Komunikasi : Teori dan Praktik ( komunikasi dalam kehidupan kita) : Jakarta : Salemba Humanika  

Komentar

Postingan Populer