ISTILAH ISTILAH DALAM STUDI AGAMA KONTEMPORER
ISTILAH-ISTILAH DALAM STUDI AGAMA KONTEMPORER
Oksidentalisme
Oksidentalisme
adalah sebuah disiplin ilmu yang membahas tentang dunia Barat.[1]
Dalam konteks ini Barat menjadi objek, sedangkan Timur adalah subyeknya.[2]
Tidak seperti kajian tentang Timur (orientalisme)
yang marak dilakukan, kajian tentang Barat (oksidentalisme) masih tidak populer
di lingkungan masyarakat umum atau pun kalangan akademisi sekalipun.1
Barat dalam konteks oksidentalisme bukan mengarah pada Barat dalam arti secara
geografis, melainkan kebudayaan atau kultur, terutama meliputi bidang pemikiran,
filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, agama, dan geografinya. 1
Orientalisme
Orientalisme adalah suatu gaya berpikir yang
berdasarkan pada perbedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara
“Timur” (The Orient) dan (hampir selalu) “Barat” (the occident). Orientalis
sebagai gaya dari Barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai Timur.
Karena orientalisme maka dunia Timur dahulu (dan juga sekarang) tidak merupakan
objek pemikiran atau tindakan yang bebas. Ini tidak berarti bahwa orientalisme
secara sepihak menentukan apa yang dapat dikatakan oleh dunia Timur, tetapi ia
berkata bahwa Orientalisme merupakan keseluruhan jaringan
kepentingan-kepentingan yang secara tak terhindarkan terkait dengan (dan arena
selalu terlibat dalam) setiap kesemptan dimana entitas “dunia timur” yang khas
itu menjadi pokok perbincangan.[3]
Menurut
Said, “Orientalisme” menyangkut tiga fenomena yang saling terkait. Pertama, seorang “Orientalis” adalah
orang yang mengajarkan, menulis tentang, atau meneliti Timur, terlepas apakah
dia seorang antropolog, sosiolog, sejarahwan atau filolog. Dengan kata lain,
adalah orang yang mengklaim memiliki pengetahuan atau memahami
kebudayaan-kebudayaan Timur. Kedua, “Orientalisme
adalah mode pemikiran yang didasarkan pada pembedaan ontologis dan
epistemologis antara “Timur” dan (kebanyakan) “Barat”. Ketiga, dan mungkin yang paling signifikan bagi Said adalah
“Orientalisme” dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang
berbadan hukum untuk menghadapi Timur, yang berkepentingan membuat pertanyaan
tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur,
mendeskripsikannya, dengan mengajarkannya, memposisikannya, menguasainya:
pendeknya Orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi
dan menguasai Timur.
Buddha
Secara etimologi, perkataan buddha
berasal dari “buddh”, yang berarti bangun atau bangkit, dan dapat pula berarti
pergi dari kalangan orang bawah atau awam. Kata kerjanya, “bujjhati”, antara
lain berarti bangun, mendapatkan pencerahan, memperoleh, mengetahui, mengenal
atau mengerti. Dari arti-arti epistemologis tersebut, perkataan buddha
mengandung beberapa pengertian seperti : orang yang telah memperoleh kebijaksanaan
sempurna, orang yang sadar secara spiritual, orang yang siap sedia menyadarkan
orang lain secara spiritual, orang yang bersih dari kekotoran batin yang berupa
dosa (kebencian), lobha (serakah), dan moha (kegelapan).[4]
Berdasarkan pengertian diatas,
tampak bahwa Buddha bukanlah nama diri, melainkan suatu gelar kehormatan bagi
orang yang telah mencapai tingkatan spiritual tertentu, atau menurut istilah
Buddha dharma, telah mencapai pencerahan dan kesadaran atau penerangan
tertinggi.
Nirwana
Nirvana adalah tahap dimana manusia
berhasil mencapai tujuan tertinggi dari kehidupan. Dia menjadi sadar bahwa
kelahiran sudah pada suatu akhir, bahwa kehidupan tertinggi telah tercapai dan
bahwa setelah kehidupan ini tidak ada lagi kehidupan duniawi dimasa depan.[5]
Menurut
buddhisme, tujuan akhir bukan suatu firdaus dunia surgawi. Tema sentral
buddhisme adalah dengan mengikuti jalan yang benar seseorang dapat membaskan
diri dari ikatan dunia dan sampai pada
kebenaran tertinggi. Pencapai penerangan ini diidentifikasi kan dengan nirvana.
Nirvana
ideal bagi para pengikut buddha adalah nirvana pemadaman penderitaan. It is
the immortal. Nirvana sebagai suatu tempat kebahagiaan abadi dan kedamaian
dapat dicapai didunia ini dengan melenyapkan penderitaan dan halangan. Nirvana
adalah kebahagiaan tertinggi, kebahagiaan yang tak dapat terlewatkan, dimana
penderitaan tidak ada lagi.
Nirwana diartikan
sebagai suatu keadaan yang harus disadari dan dipahami oleh orang-orang yang
ingin mengalaminya melalui cara-cara tertentu. Bisa diartikan sebagai
pemadaman, penghancuran anavas, yaitu sifat-sifat individualis, menuruti
hawa nafsu dan kebodohan, dan terlepasnya ikatan pada hal hal yang indrawi
sehingga tidak ada kelahiran kembali. Radhakrishnan memberikan pengertian
nirwana tersebut sebagai bebas dari kelahiran kembali, berakhirnya rantai
kehidupan, peniadaan keinginan, dendam dan kebodohan atau keadaan yang tak
bersyarat.[6]
Ketika kebodohan teratasi, maka tercapailah kebebasan yang sebenar benarnya.
Dalam
kepercayaan para penganut agama Buddha, Nirwana dapat dibedakan dalam empat
pengertian, yaitu : (1) nirwana yang pengertiannya sama dengan dharmakaya,
suatu wujud yang bersih dari kecemaran, (2) uphadhisesa nirvana, yaitu
nirwana yang masih mengandung sisa suatu wujud relatif yang meskipun bebas dari
semua pengaruh maupun rintangan tetapi masih berada disekitar hambatan-hambatn
materi yang menyebabkan penderitaan dan kesedihan, (3) anupaadhisesa nirvana,
yaitu suatu keadaan tanpa sisa sedikitpun, suatu kebebasan sempurna dari segala
rintangan, (4) nirwana dalam arti penyerahan mutlak yang dapat mendatangkan
kebaikan bagi orang lain.[7]
Nirwana yang terakhir ini merupakan nirwana yang paling tinggi tingkatannya.
Arhat
Arhat adalah
keadaan tertinggi, tempat para kudus, terpadamkannya nafsu yang berkobar-kobar,
dimana tidak ada karma yang menharuskan manusia lahir kembali.[8]
Arhat yaitu individu yang dengan usahanya sendiri telah mencapai nirvana.[9]
Sebelum
seseorang mencapai tingkat Arahat, maka keadaan yang mendekatinya dibagi
menjadi tiga, yakni Sotapatti, sekadagami
magga, dan Anagami. Setelah mencapai tingkat ini jika
ia melihat, mendengar, mencium, membau, makan, minum dan sebagainya, tidak ada
lagi rasa senang atau benci, hatinya diliputi oleh keamanan. Pada tingkat
inilah menurut kepercayaan Buddha, orang dapat mengetahui kebenaran yang hakiki
dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Resolusi
konflik
Resolusi
konflik adalah suatu dari sekian banyak strategi dan metode yang ditawarkan
arah menyelesaikan konflik. Setiap metode dan strategi itu memiliki tujuannya
sendiri-sendiri sehingga sulit untuk mengklaim bahwa satu metode atau strategi
lebih unggul dari yang lain. Metode dan strategi apa saja bisa dipergunakan,
tergantung tujuan yang hendak dicapai.[10]
Menurut
Norton, conflict resolution (resolusi
konflik) adalah sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental
dalam memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi terjadinya konflik,
kemudian membuat resolusi terhadap konflik. Resolusi konflik bisa diartikan
sebagai penyelesaian konflik dengan menggunakan usaha yang dilakukan dengan
cara mencari kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik
tersebut. Resolusi konflik memiliki tujuan agar kita dapat mengetahui bahwa
konflik itu ada dan diarahkan pada keterlibatan berbagai pihak dalam isu-isu
mendasar sehingga dapat diselesaikan secara efektif. Selain itu, agar kita
memahami gaya dari resolusi konflik dan mendefinisikan kembali jalan pintas
kearah pembaharuan penyelesaian konflik.
Pluralisme
Kata
pluralisme berasal dari bahasa inggris, “pluralism”.[11]
Ketentuan hukum yang tercantum dalam fatwa MUI NO : 7/MUNAS/VII/MUI/II/2005
tentang pluralisme, liberalisme, dan sekularisme.
Dalam fatwa
tersebut mui mendefinisikan pluralisme sebagai suatu paham yang mengajarkan
bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran setiap agama adalah
relatif, oleh karena itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya
agamanya saja yag benar, sedangkan agama yang lain salah.[12]
MUI membedakan makna pluralisme dan pluralitas secara terminologis.[13]
Tri Tunggal
Trinitas
adalah satu alloh tiga pribadi-alloh bapa, alloh putra dan alloh roh kudus.
Kepercayaan dalam trinitas memperkuat iman kristen yang secara implisit memang
terdapat baik dalam kredo para rosul maupun kredo nicea.[14]
Kredo adalah pernyataan iman umat kristen. Inti pokok kredo adalah kematian
yesus sebagai kurban penebus dosa-dosa manusia.[15]
Agreement In
Disagremeent
Agremeent In
Disagremeent merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam pluralisme
yang menekankan bahwa agama yang ia ( individu ) peluk itulah agama yang baik,
walaupun demikian ia (individu) mengakui antara agama yang satu dengan
agama-agama yang lainnya selain terdapat perbedaan-perbedaan yang juga terdapat
persamaan-persamaan. [16]
Jika
disangkut pautkan dengan Studi Agama, agreement
in disagreement ini termasuk dalam lima konsep dari pemikiran pliralisme yang
mengemukakan oleh Mukti Ali.[17] Pengakuan
seperti ini yang akan membawa kepada suatu pengertian yang baik yang dapat
menimbulkan adanya saling menghargai dan sikap saling menghormati antar
kelompok pemeluk agama-agama yang satu dengan yang lain.
[3] Said,
Edward W, Orientalisme, (Bandung : Penerbit Pustaka, 1994)
[4]
Abdurrahman, Agama-Agama Dunia : Agama Buddha, (Yogyakarta :
Penerbit Jurusan Perbandingan Agama, Fak
Ushuludin UIN SUNAN KALIJAGA, 2012), hal. 121-122.
[5]
Fx Mudji Sutrisno, Buddhisme : Pengaruhnya Terhadap Abad Modern,
(Yogyakarta : Penerbit Pustaka Filsafat, 1993), hal. 99.
[6]
Abdurrahman, Agama-Agama Dunia : Agama Buddha, (Yogyakarta :
Penerbit Jurusan Perbandingan Agama, Fak
Ushuludin UIN SUNAN KALIJAGA, 2012), hal. 154.
[7]
Abdurrahman, Agama-Agama Dunia : Agama Buddha, (Yogyakarta :
Penerbit Jurusan Perbandingan Agama, Fak
Ushuludin UIN SUNAN KALIJAGA, 2012), hal. 154.
[8]
Fx Mudji Sutrisno, Buddhisme : Pengaruhnya Terhadap Abad Modern,
(Yogyakarta : Penerbit Pustaka Filsafat, 1993), hal.171 .
[9] Fx
Mudji Sutrisno, Buddhisme : Pengaruhnya Terhadap Abad Modern,
(Yogyakarta : Penerbit Pustaka Filsafat, 1993), hal.123.
[10] M.
Yusuf Asry, dkk, Masyarakat Membangun Harmoni : Resolusi Konflik dan Bina
Damai Etnorelijius di Indonesia, (Jakarta : Puslitbang Kehidupan Keagamaan
: Kementrian Agama RI, 2013).
[11] Imam
Subkhan, Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya, (Yogyakarta : penrbit
Kanisius, 2007), hal. 27.
[12]
Imam Subkhan, Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya, (Yogyakarta :
penrbit Kanisius, 2007), hal. 31.
[13]Imam
Subkhan, Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya, (Yogyakarta : penrbit
Kanisius, 2007), hal. 32.
[14] Michael
keene, Agama-Agama Dunia, (Yogyakarta : penerbit Kanisius, 2006), hal
100.
[15] Michael
keene, Agama-Agama Dunia, (Yogyakarta : penerbit Kanisius, 2006), hal
101.
[16] Faisal
Ismail, Islam, Idealitas Ilahiyah dan Realitas Insaniyah, ( Yogyakarta :
penerbit Adi Wacana, 1999).
[17]
Abdurrahman , tujuh puluh tahun H A Mukti Ali : Agama dan Masyarakat,
(Yoyakarta : IAIN Suka Press, 1993).
Komentar
Posting Komentar